Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 182 : Sajak


__ADS_3

"Oh engga kok. Kakak gak lagi cari bunga apa-apa. Kakak tadi cuma kebetulan lewat jalan sini terus lihat kami sama kakak mu lagi ngerjain sesuatu, karena kelihatannya menarik kakak jadi ke sini deh hehehe," ucap kak Dea.


"Oh begitu... Karena sudah membantu Hana, Hana punya hadiah buat kakak," ucap Hana.


"Wah hadiah apa tuh?" timpal kak Dea sambil tersenyum.


"Hana bakal bikinin kakak minuman hehehe," jawab Hana dengan polos.


"Wah minuman apa tuh?" jawab kak Dea yang masih memasang senyumannya itu.


"Ada deh. Yang penting sekarang kita cuci tangan dulu terus langsung menuju ke dapur sana. Biar Hana bikinin minuman yang sueeeegeeeer buat kakak. Kak Galang juga ikut yah," ucap Hana.


***


Sesampainya di dapur, aku dan kak Dea langsung disuruh duduk oleh Hana. Kami tidak diperbolehkan untuk membantunya sedikit pun. Kami hanya disuruh untuk menunggunya hingga benar-benar selesai membuat minumannya.


"Adik mu bersemangat sekali yah, seperti biasanya," kak Dea mencoba untuk membuka percakapan dengan ku.


"Iya hehe. Dia memang sudah seperti itu dari kecil. Oiya aku lihat tadi kakak jalan kaki yah? Berarti rumah kakak di sekitaran sini?" balas ku menanggapi kak Dea.


"Kalau dibilang sekitaran sini juga kurang tepat sih. Rumah ku itu mungkin kalau dari sini sekitaran 1 km ke arah selatan," ucap kak Dea sambil menunjuk ke arah selatan.


"Wah berarti lumayan jauh dong. Kakak berarti sedang lagi olahraga atau gimana? Itu kan jarak yang cukup jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki," ucap ku yang agak terkejut.


"Engga kok. Aku gak lagi olahraga. Aku tadi cuma habis dari rumah temen, terus kebetulan lewat jalan ini, dan pada akhirnya mampir deh di sini. Sebenarnya aku itu suka banget jalan kaki hehehe. Makanya, aku kalau bepergian lebih sering jalan kaki dari pada naik sepeda kalau jaraknya masih memungkinkan," ucap kak Dea.


"Wah kakak juga suka jalan kaki yah? Kebetulan aku juga lebih suka jalan kaki dari pada bersepeda hehehe," jawab ku sambil tersenyum. Entah kenapa mengetahui orang lain yang memiliki rasa kesukaan terhadap sesuatu yang sama, membuat ku merasa begitu senang.


"Eh beneran kamu juga lebih suka jalan kaki? Wah jarang-jarang ada yang punya hobi jalan kaki hehehe," timpal kak Dea yang juga memasang senyuman dengan cukup lebar.

__ADS_1


"Taraaaa... Silahkan dinikmati minumannya tuan-tuan dan nyonya-nyonya," ucap Hana menirukan nada suara pelayan restoran dengan membawa minuman yang barusan ia buat sendiri itu.


"Wah udah jadi yah... Keliatannya seger banget," ucap kak Dea sesaat setelah Hana mulai meletakkan minumannya itu.


"Iya dunggggs, siapa dulu yang bikin hehehe," timpal Hana dengan bersemangat.


"Ngomong-ngomong ini yang kamu bikin itu sirup rasa apa Hana?" tanya kak Dea.


"Hihihi coba kakak tebak," timpal Hana.


Kak Dea lalu terlihat mengambil mug yang mana di atasnya ada tutupnya sehingga kita tidak bisa melihat jenis minuman apa yang ada di dalam. Ia lalu terlihat mulai menghirup aroma yang mana memang cukup kuat dari balik tutup mug tersebut.


"Mmm dari aromanya sih kakak yakin banget kalau ini sirup jeruk yah?" ucap kak Dea.


"Yah ketahuan yah hehehe," timpal Hana.


"Habisnya aroma dari sirupnya kan cukup kuat, jadi cukup mudah untuk mengenalinya hanya dari aromanya saja hehehe," timpal kak Dea.


***


Saat ini, tiba-tiba saja terbangun ditengah malam. Saat aku melihat ponsel ku, ternyata saat ini barulah pukul 3 pagi. Aku sudah mencoba berbagai cara untuk kembali tidur, akan tetapi selalu saja gagal dan sepertinya aku memang sudah tidak bisa tidur lagi untuk sekarang.


Memang sih cukup masuk jika aku terbangun jam segini. Soalnya, tadi malam aku tidur lumayan awal, mungkin sekitaran jam setengah 9. Saat ini aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan hingga pagi tiba. Saat ini, aku hanya melamun sambil memandangi atap kamar ku yang gelap ini karena lampu kamar belum aku nyalakan. Entah kenapa rasanya saat ini masih malas untuk membaca novel atau semacamnya. Aku jadi penasaran, apa yang akan dilakukan oleh orang-orang ketika mereka terbangun tengah malam begini yah?


Di tengah keheningan tengah malam saat ini, sesekali terdengar suara ayam yang berkokok. Aku baru tahu kalau ternyata ayam juga bisa berkokok ketika hari masih begitu gelap begini. Ini merupakan sebuah penemuan baru untuk ku.


****


Aku tidak tahu sudah berapa lama aku hanya berbaring sambil termenung begini. Karena sudah mulai bosan, aku pun lalu mulai bangkit dari tempat tidur ku. Sebelum itu, aku menyempatkan terlebih dahulu untuk melihat waktu di ponsel ku. Ternyata saat ini masih pukul 3 lebih 15 pagi. Tak kusangka baru 15 menit berlalu sejak aku terbangun tadi. Memang waktu akan terasa sangat lama jika kita sedang tidak melakukan apa-apa.

__ADS_1


Setelah bangkit dari tempat tidur ku tadi, aku lalu langsung menuju ke dapur untuk menenggak air putih dan mungkin akan membuat sebuah minuman hangat, entah itu teh hangat, kopi, atau mungkin cokelat seperti biasanya. Sesampainya di dapur, ternyata cokelat dan kopi sudah habis. Anggota keluarga ku memang sangat jarang meminum kopi, jadi mungkin sebenarnya kopi ini sudah lama habis. Namun aku cukup terkejut karena bisa-bisanya cokelat bubuknya juga habis.


Alhasil, pada akhirnya aku membuat teh hangat sebagai teman dini hari ini. Mungkin setelah ini aku akan langsung menuju ke atas entah itu ke balkon atau kembali ke dalam kamar.


***


Pada akhirnya saat sudah kembali ke lantai dua, aku memutuskan untuk kembali ke dalam kamar saja. Aku lalu menyalami lampu kamar ku dan kemudian mulai membaca sebuah buku kumpulan sajak. Entah kenapa, tiba-tiba saja aku ingin sekali membaca kata-kata yang indah yang mana bisa menyentuh sampai ke dalam dasar hati sana.


Aku masih ingat hari dimana kita berdua berjalan bersama di hamparan pasir putih.


Gelombang kecil air laut yang menerpa, menghapus jejak langkah kaki yang kita buat.


Lalu saat matahari sudah mulai terbenam, entah kenapa aku menjadi tiba-tiba sendirian. Kemanakah gerangan dirimu pergi?


Kenapa rasanya begitu menyakitkan dan menyesakkan seperti ini?


Tiba-tiba, di bawah terangnya sinar bulan purnama,


Aku melihat sosok bayangan dirimu sedang berjalan di tepian pantai yang sama.


Untuk sesaat, aku merasa begitu senang dan kemudian langsung berlari menuju ke arah mu.


Namun, angin yang berhembus begitu kencang sehingga ikut menerbangkan pasir ke arah ku, membuat ku untuk sesaat harus menutup kedua mata ku agar pasir-pasir itu tidak menyakiti mata ku.


Namun, setelah aku membuka kembali mata ku, bayangan mu itu sudah kembali lenyap bersamaan deruan ombak yang kembali ke arah laut.


Begitu aku selesai membaca sajak tersebut, entah kenapa aku bisa ikut merasakan kesedihan yang mendalam dari sajak tersebut.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2