Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 20 : Makan Malam


__ADS_3

Sambil menunggu ibu dan Hana pulang aku membuatkan mereka minum.


"Kalian mau minuman yang hangat atau dingin?" tanyaku pada mereka.


"Aku dingin saja," jawab Ruben.


"Kalo Ruben dingin, sudah pasti aku hangat," jawab Ahsan.


"Haa? apa-apaan itu?" balas Ruben.


Bahkan untuk hal kecil seperti minuman saja, mereka bisa berdebat. Mereka memang sangat menarik.


"Oke tunggu sebentar yah," ucapku sambil meninggalkan mereka di ruang tamu.


Hari ini berjalan begitu cepat rasanya. Aku menikmati setiap waktu yang aku lalui bersama mereka hari ini. Aku juga menjadi sedikit lebih tahu tentang mereka hari ini. Selain itu, aku juga jadi sedikit akrab dengan Cindy. Aku cukup terkejut saat mengetahui bahwa ia kenal dengan Hana.


Hanya saja ada satu hal yang sedikit mengganjal dari peristiwa hari ini, yaitu ketika aku mengetahui bahwa Ahsan menyukai Sofia. Entah kenapa rasanya sedikit tidak nyaman. Aku tidak mengerti kenapa aku merasa tidak nyaman ketika mengetahui hal itu. Aku sendiri sangat bingung, karena ini yang pertama kalinya aku merasakan hal seperti itu.


Aku membuat sirup jeruk dingin untuk Ruben dan teh hangat untuk Ahsan. Kalau aku disuruh untuk memilih, aku lebih menyukai minuman dingin. Jadi, aku juga membuat sirup jeruk dingin untuk diriku.


Setelah selesai membuat minuman, aku lalu membawa minuman tersebut ke ruang tamu, tempat dimana Ahsan dan Ruben berada. Seperti biasa, dari kejauhan mereka terlihat sedang memperdebatkan sesuatu.


Sebelum aku sampai di ruang tamu, ibu dan Hana pun pulang.


"Eh ada temannya Galang," ucap ibuku saat pertama kali membuka pintu dan masuk. Selanjutnya Ruben dan Ahsan pun menyalami ibuku. Hana terlihat hanya bersembunyi malu di belakang pinggang ibuku. Tidak biasanya melihat Hana bersikap seperti itu.


"Hana ayo salaman dulu sama kakak-kakak ini," ucap ibuku sambil menarik Hana pelan-pelan untuk salaman.


"Gak papa Hana, jangan malu, itu teman kakak semua," ucapku sambil meletakkan minuman yang kubawa tadi.


"Oi San, ini gara-gara kau nih, Hana jadi takut," ledek Ruben pada Ahsan.


"Apa-apaan tuch," balas Ahsan dengan nada suara khasnya.


Hana terlihat tertawa kecil mendengar perkataan Ahsan. Setelah itu, Hana mau untuk bersalaman dengan mereka.


"Hana," ucap Hana saat bersalaman dengan mereka. Setelah itu Hana langsung berlari menuju kamarnya, mungkin ia masih sedikit malu pada mereka.


"Wah Galang sudah punya banyak teman yah," ucap ibuku.

__ADS_1


"Iya tante hehe," jawab Ruben.


"Ngomong-ngomong rumah kalian dimana?" tanya ibu lagi.


"Kalau aku di Gang Nanas dekat sekolah tante," jawab Ruben.


"Kalau aku di Jalan Aji pamungkas no 8," jawab Ahsan.


"Wah yang dekat sekolah enak dong hehe, oiya ngomong-ngomong nama kalian siapa ya? Tante sampe lupa nanya," tanya ibu lagi.


"Nama saya Ruben, tante," jawab Ruben.


"Kalau saya Ahsan tante," jawab Ahsan.


"Ohh nak Ruben sama nak Ahsan ya.. yasudah karena sudah disini, kalian ikut makan malam saja ya?"


"Boleh tante," ucap mereka berdua.


"Oiya aku lupa bilang pada ibu tadi, mereka memang berencana ikut makan malam bersama kita," ucapku.


"Yasudah kalau begitu tunggu sebentar ya, tante mau buat makan malamnya dulu," ucap ibu kemudian ia langsung pergi ke belakang.


Ibuku pun langsung bergegas memasak. Aku dan Hana ikut membantu sedikit. Kali ini ibu akan memasak nasi goreng. Aku membantu untuk memotong rempah yang dibutuhkan, sementara Hana sibuk menanyai nama bahan-bahan pada ibu.


Setelah selesai membuat nasi goreng, kami pun langsung menyantap nasi goreng tersebut bersama-sama. Tentu saja, suasana makan malam kali ini terasa lebih ramai dari pada sebelum-sebelumnya.


***


Setelah selesai menyantap hidangan makan malam, Ruben dan Ahsan pun pamit pulang.


"Kami pamit pulang dulu tante, terima kasih," ucap Ruben sambil sedikit membungkukkan badannya.


"Wahh bukan apa-apa kok, lain kali kalian silahkan datang kesini lagi ya, tante malah senang kalau suasana jadi ramai," ucap ibuku dengan sedikit senyuman.


"Iya tante, lain kali pasti kami mampir kesini lagi, permisi...," ucap Ruben yang kemudian langsung bergegas pergi meninggalkan rumah kami bersama Ahsan.


***


Malam sekitar pukul 20.45 di ruang tamu.

__ADS_1


"Ibu seneng Lang, kamu punya banyak teman," ucap ibu.


"Iya, ibu seharusnya berterima kasih pada Ruben dan Ahsan. Sebenarnya, aku tidak melakukan apapun untuk menjadi teman mereka. Suatu ketika saat jam istirahat, mereka tiba-tiba mengajakku per ke kantin. Sejak saat itu kami jadi lebih akrab. Bahkan mereka sudah menganggapku teman dari awal," balasku.


"Wah mereka anak-anak yang baik yah," ucap ibu lagi.


"Ya, aku pikir juga begitu," balasku singkat.


"Selain mereka, apakah ada lagi yang kamu kenal Lang?" tanya ibu lagi.


"Oh iya, tadi sebelum ke sini kita sempat mampir di taman. Di taman, kami ketemu Cindy teman sekelasku. Sebenarnya kami sempat mengajaknya untuk ikut makan malam di sini juga, tapi sayang sekali di kebetulan tidak bisa. Oiya, katanya ia juga kenal Hana loh. Hana kamu tahu kak Cindy?" ucapku.


"Oh kakak perempuan yang selalu di taman sambil baca buku yah? Iya, aku ingat. Kami sering bermain bersama di taman," jawab Hana sambil mengunyah biskuit.


"Sepertinya bukan bermain bersama, tapi lebih tepatnya kamu yang mengganggunya kan?" aku mencoba meledek Hana.


"Tidak, tidak mengganggu kokkk," ucap Hana dengan nada sebal.


"Hahaha coba saja kamu tanya pada kak Cindy," ucapku lagi.


"Ibuuu kakak jahattt," ucap Hana yang kali ini memeluk ibu dengan muka bad mood nya.


"Sudah-sudah, kakak hanya bercanda Hana," ucap ibu sambil mengusap-usap punggung Hana.


***


Setelah itu, aku naik ke lantai atas. Aku menuju ke balkon terlebih dahulu sebelum tidur. Aku ingin menikmati suasa kota saat malam dari balkon rumah.


Aku duduk menghadap ke barat. Suara angin yang biasanya terdengar sedih, entah kenapa hari ini terdengar ceria. Pohon-pohon yang bergerak tertiup kencangnya angin, terlihat seperti sedang saling sapa.


Aku menatap ke atas, seperti biasa bulan selalu mengawasiku dari atas sana. Aku penasaran berapa sebenarnya jarak antara aku dan bulan ya? Aku rasa tak terlalu jauh, karena ketika aku memejamkan mataku, aku merasa bulan seperti berada tepat di hadapanku.


Tak terasa malam sudah semakin larut, aku hampir saja tertidur ketika sedang malamun di sini. Sepertinya, sudah waktunya aku kembali ke kamarku.


Saat memasuki kamar, hal yang pertama kali aku lakukan adalah mematikan lampu terlebih dahulu. Sepertinya, untuk malam ini aku tidak akan membaca lanjutan novel terlebih dahulu. Rasanya, aku sudah sangat mengantuk dan ingin langsung tidur saja.


Aku pun merebahkan badanku sambil menatap langit-langit kamar. Perlahan, aku mulai menutup mataku. Hari ini terasa sangat sepesial. Selamat malam.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2