Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 209 : Aroma Makam


__ADS_3

Jumat sore tanggal 19 Oktober, sepulang sekolah aku berencana untuk mengunjungi makam ayah ku seorang diri. Saat ini, aku masih mengikuti jam pelajaran yang terkahir sebelum pulang. Aku pun sudah mulai tidak fokus pada pelajaran yang sedang aku ikuti ini. Pikiran ku saat ini sudah berada di waktu dan tempat yang berbeda.


Akhirnya, bel pulang sekolah pun berbunyi. Kami semua lalu mengakhiri jam pelajaran terakhir ini dengan penuh semangat. Tentu saja tidak ada siswa yang tidak semangat ketika mendengar bel pulang.


Setelah selesai, guru yang sedang mengajar pun mulai beranjak pergi. Murid-murid yang lain pun terlihat mulai meninggalkan kelas juga. Sementara itu, aku masih duduk di kursi ku, sambil menyaksikammurid-murid yang lain beranjak pergi.


"Oi Lang, habis ini kau ada acara gak? Mau ikut pergi ke rumahnya Calvin gak?" tanya Ruben yang datang menghampiri ku.


"Oh enggak Ben. Habis ini aku sudah ada rencana. Lain kali saja ya," jawab ku.


"Wah begitu ya. Ngomong-ngomong kau mau pergi ke mana Lang?" tanya Ruben lagi.


"Ya pokoknya adalah," jawab ku.


"Begitu yah. Ya sudah hati-hati yah. Kalau begitu aku duluan yah," ucap Ruben yang mana langsung pergi meninggalkan kelas bersama dengan Calvin dan yang lainnya.


"Kau gak ikut San?" tanya ku pada Ahsan yang mana masih terlihat belum bangkit dari tempat duduknya.


"Oh enggak. Nanti habis ini aku juga ada acara jadi gak bisa ikut," jawab Ahsan dengan wajah yang terlihat mengantuk itu.


"Oh begitu ya. Ngomong-ngomong hari ini kau kelihatan sangat mengantuk. Semalam kau habis begadang?" tanya ku.


"Eh masih ketahuan yah? Padahal aku sudah berusaha menyembunyikannya loh," timpal Ahsan.


"Ha? Jelas-jelas kelihatan sekali kalau kau itu sedang mengantuk. Disembunyikan dari mananya coba?" timpal ku.


"Hehehe begitu yah. Iya, semalam aku habis nonton bola jadi aku begadang hahahaha," jawab Ahsan dengan diakhiri tertawa.


Setelah itu, aku pun lalu langsung bangkit dari tempat duduk ku dan langsung berjalan keluar dari kelas.

__ADS_1


Karena jarak dari sekolah menuju ke tempat pemakaman ayah lumayan jauh, maka aku akan menggunakan bus untuk menuju ke sana. Aku pun saat ini langsung berjalan menuju ke halte bus.


Sesampainya di halte, aku langsung mendapatkan bus yang mana berjalan ke arah sana. Sungguh kebetulan yang sangat jarang sekali terjadi. Aku lalu langsung naik ke dalam bus.


Saat aku naik, ternyata kondisi bus sangatlah penuh sehingga tidak ada lagi tempat duduk yang tersisa. Aku pun terpaksa harus berdiri hingga nanti sampai di tujuan.


Kebanyakan dari penumpang bus saat ini adalah siswa-siswa yang baru saja pulang sekolah. Baik itu dari sekolah lain maupun dari sekolah ku sendiri.


***


Setelah sekitar 20 menit perjalanan menggunakan bus, aku pun akhirnya sampai di halte terdekat menuju ke tempat pemakaman ayah ku. Dari sini, aku masih harus menempuh jarak sekitar 700 m lagi hingga nanti sampai ke pemakaman.


Saat ini, aku berjalan dengan cukup cepat. Di saat sedang berjalan ini, tiba-tiba saja aku melihat sebuah kios bunga khas bunga pemakaman. Aku pun lalu memutuskan untuk mampir sebentar membeli bunga untuk makan ayah ku. Aku tidak tahu apakah ayah akan senang atau tidak, akan tetapi rasanya aku harus membeli bunga itu.


"Beli satu bungkus ya nek," ucap ku pada pemilik kios bunga itu.


"Oh iya nak. Mau pilih yang mana?" tanya nenek pemilik kios tersebut.


"Oh iya, kalau begitu ini saja yah," jawab nya sambil menunjuk salah satu bungkusan bunga yang sudah diikat itu.


"Oh iya nek. Yang itu aja gak papa," jawab ku.


***


Setelah selesai membeli bunga, aku pun kembali berjalan menuju ke pemakaman. Kali ini, aku berjalan lebih cepat dari pada sebelumnya karena sudah sedikit membuang waktu ku ketika tadi membeli bunga.


***


Saat ini, aku sudah berada di pintu masuk ke area makam. Aroma bunga khas pemakaman sudah lumayan kuat bisa aku cium dari sini. Aroma yang seakan-akan membawa semua kenangan saat masih bersama orang yang sudah meninggal itu.

__ADS_1


Karena memang sedang tidak ada acara apa-apa, suasana malam saat ini sangatlah sepi. Hanya terlihat satu-dua orang saja yang sedang ziarah. Selebihnya mungkin petugas kebersihan dan keamanan makam yang sedang berkeliling.


Letak makam ayah ku lumayan jauh dari pintu masuk tadi. Aku masih harus berjalan cukup ke dalam lagi untuk mencapai makam ayah ku ini.


Sesampainya di sana, aku langsung meletakkan bunga yang tadi aku beli tepat di bawah nama ayah. Setelah itu, aku langsung menunduk dan menekuk kakinya kemudian berdoa.


Setelah selesai, aku tidak langsung berdiri. Aku masih jongkok dan memandangi makan ayah ku ini. Rasanya, aku masih belum bisa percaya kalau ayah ku sudah sekitar 7 tahun meninggalkan ku. Rasanya setiap akhir pekan, aku seperti selalu bertemu dengannya.


"Sendirian aja nak?" tanya seorang dengan suara laki-laki yang mana sudah agak serak dari arah belakang.


Aku pun lalu menoleh ke sumber suara itu. Ternyata yang baru saja bertanya adalah seorang laki-laki yang terlihat sudah cukup tua. Rambutnya sudah hampir sepenuhnya beruban dan jenggotnya begitu panjang bewarna putih bercampur hitam. Sepertinya beliau adalah seorang petugas kebersihan di tempat pemakaman ini. Hal itu bisa dilihat dari seragam dan sapu panjang yang sedang ia genggam itu.


"I-iya kek," jawab ku agak ragu.


"Oh begitu ya. Jarang sekali ada anak muda yang pergi ke makam sendirian. Ngomog-ngomong makam siapa yang ada di hadapan mu itu?" tanya kakek itu lagi.


"Oh ini makam ayah ku kek," jawab ku.


"Ayah mu? Sudah berapa lama?" tanya kakek itu lagi.


"Sekitaran 7 tahunan kek," jawab ku.


"Wah sudah cukup lama juga yah... Berarti sekarang kamu hanya tinggal bersama ibu mu?" tanya kakek itu lagi.


"Iya kek, sama ibu dan juga adik ku," jawab ku lagi.


Setelah itu, kakek itu mulai duduk di samping ku. Kami berdua pun lalu mulai mengobrol tentang hal-hal lain. Semakin lama kami mengobrol, rasanya seperti kami sudah saling kenal dalam jangka waktu yang lama. Kebanyakan, apa yang kakek itu omongkan, aku selalu bisa mengikutinya. Begitupun sebaliknya.


"Hidup itu memang sebuah misteri yang mana selalu menghadirkan kejutan yang tidak terduga-duga. Hari ini mungkin kamu bisa mendapatkan segalanya, akan tetapi bisa saji besok hari kamu akan kehilangan semua itu. Siapa yang tau?" ucap kakek itu.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2