
"Hahaha salah kau San," timpal Ruben.
"Eh salah? Memangnya angka yang kau pikirkan itu berapa?" tanya Ahsan lagi.
"31," jawab Ruben.
"Hahahaha salah yah," Ahsan hanya tertawa.
***
Keesokan harinya Kamis, 11 Oktober, Aji masih terlihat murung. Berarti sudah 4 hari ini ia terlihat kurang bersemangat seperti itu. Sementara itu, kami semua pun belum tahu apa yang menyebabkannya menjadi seperti itu.
Saat ini, aku pun memberanikan diri untuk bertanya padanya. Aku harap, hari ini Aji mau bercerita tentang masalahnya pada ku.
"Kau gak ke kantin Ji?" tanya ku pada Aji yang saat ini hanya sedang duduk termenung di kursinya.
"Enggak Lang," jawabnya degan datar dan tidak menatap ku.
"Kemaren kau enggak berangkat ekstrakulikuler kan? Ada apa emangnya? Apakah kau ada acara mendadak begitu? Banyak yang mencari mu loh kemaren," lanjut ku lagi.
"Kemaren aku merasa gak enak badan, jadi aku putuskan untuk tidak ikut ekstrakulikuler dulu," jawab Aji dengan datar.
"Oh kau sedang sakit Ji?" tanya ku lagi.
"Ya, mungkin seperti itu, tapi mungkin bukan sakit seperti yang biasanya," jawabnya.
"Bukan sakit yang biasanya? Lalu sakit yang seperti apa?" tanya ku lagi.
Aji lalu hanya diam dan tidak terlihat akan menjawab pertanyaan ku yang barusan itu. Raut wajahnya kini berubah menjadi raut wajah seorang yang sedang merasa sedih.
"Eh kenapa kau Ji? Apa aku salah bicara?" tanya ku yang merasa kebingungan.
__ADS_1
"Se-sebenarnya aku... Tapi kau jangan bicara sama siapa-siapa dulu ya Lang?" ucap Aji yang sepertinya kali ini akan menjelaskan penyebab kenapa ia menjadi murung selama beberapa hari terakhir ini.
"Oh iya, tentu... Aku pasti tidak akan mengatakannya pada siapa pun," jawab ku.
"Baru Renaldi yang tahu akan hal ini, tapi aku pikir itu tidak apa-apa jika aku bercerita pada mu," ucap Aji.
Jawaban Aji itu sedikit mengejutkan ku. Ternyata, selama ini Renaldi sudah mengetahui penyebab Aji menjadi murung untuk beberapa hari ini. Namun setiap kali aku, Ruben, dan Ahsan menanyakan perihal Aji padanya, ia selalu bilang tidak tahu apa-apa. Mungkin itu karena ia sudah berjanji untuk tidak akan menceritakan masalah itu pada siapa pun dulu.
"Sebenarnya, aku itu habis ditolak," lanjut Aji.
"Ditolak? Ditolak siapa Ji?" tanya ku yang merasa begitu sangat terkejut.
"Sama Fani Lang. Kau tau kan kalau aku beberapa waktu yang lalu itu sering mampir ke toko bunga milik ibu mu? Itu sebenarnya aku sedang membeli bunga untuk Fani," jawab Aji.
"Fani temannya Celine?" tanya ku lagi. Jadi ternyata waktu itu Aji sering mampir ke toko bunga adalah untuk membelikan Fani bunga. Aku cukup terkejut dengan fakta itu.
"Iya Fani temannya Celine. Entah kenapa semenjak aku melihatnya pertama kali, aku langsung jatuh cinta padanya. Cinta pada pandangan yang pertama," jawab Aji yang semakin membuat ku merasa terkejut.
"Lalu kapan kau menyatakan perasaan mu itu?" tanya ku.
"Lalu, apa yang dikatakan oleh Fani?" tanya ku lagi.
"Dia bilang dia tidak punya perasaan spesial buat ku. Mendengar jawabannya waktu itu, membuat dunia ku seakan langsung hancur begitu saja. Aku seperti jatuh ke dalam jurang yang amat dalam," jawab Aji lagi.
Tet tet tet. Tiba-tiba suara bel berakhirnya istirahat pertama berbunyi, yang mana menjadi pertanda berakhirnya percakapan ku dengan Aji untuk kali ini. Aku pun lalu kembali ke tempat duduk ku.
"Waduh... Yang sabar ya Ji. Mungkin kalau kau berusaha lebih lagi, dia akan membukakan hatinya untuk mu," jawab ku yang entah kenapa aku bisa mengatakan hal-hal seperti itu. Aku merasa bahwa bukan aku yang mengatakan hal barusan tersebut.
"Ya sudah aku kembali dulu ke tempat duduk ku sebelum semuanya kembali ke sini," ucap ku.
***
__ADS_1
Sore harinya, setelah pulang sekolah. Kali ini aku, Ruben, dan Ahsan sedang dalam perjalanan ke sebuah angkringan yang sedang naik daun. Katanya, angkringan di sana rasanya sangat enak dan harga relatif lebih murah. Sebenarnya aku sedikit malas untuk pergi ke sana, akan tetapi Ruben terus-terusan memaksa ku untuk pergi. Pada akhirnya, aku pun pergi ke sana.
Letak angkringan yang aku maksud itu, kata Ahsan berada sekitar 700 meter di sebelah selatan Sekolah. Kami pun berjalan cukup jauh kali ini.
***
Sesampainya di sana, aku cukup terkejut karena angkringannya terlihat begitu ramai. Selain itu, yang lebih penting lagi, angkringan tersebut terlihat begitu modern. Di sini juga disediakan meja dan kursi, ada juga yang disediakan lesehan.
"Es jeruk pak 1," ucap Ahsan kepada penjual angkringan. Penjual angkringan tersebut adalah seorang laki-laki yang mungkin usianya sekitaran 40 tahunan. Kumisnya terlihat begitu lebat dan juga memakai topi.
"Aku es teh pak," ucap Ruben.
"Sama, aku juga es teh pak," ucap ku.
"Oiya bentar ya mas, sabar. Ngantri dulu. Soalnya banyak juga yang lagi antri juga," jawab penjual angkring tersebut dengan logat yang lumayan medok. Namun, entah kenapa nada bicara penjual angkring tersebut seperti nada seorang yang mudah marah. Entahlah mungkin itu hanya perasaan ku saja.
Kami bertiga lalu langsung duduk di tempat lesehan sambil menunggu pesanan kami datang. Sebelum itu, kami mengambil beberapa makanan khas angkringan terlebih dahulu yaitu nasi kucing, sate usus, sate telor, dan beberapa buah gorengan.
Sementara itu aku hanya mengambil satu nasi kucing dan satu buah sate usus saja. Lagi pula, saat ini aku tidak sedang terlalu lapar.
Namun saat aku mulai menyantap sate usus tersebut, ternyata rasanya sangat enak. Entah kenapa sepertinya aku harus kembali mengambilnya lagi. Aku lalu langsung buru-buru kembali untuk mengambil sate ususnya lagi. Pada akhirnya, aku mengambil 5 buah sate usus.
"Wahahaha doyan apa paper Lang?" ucap Ruben saat melihat ku kembali dengan membawa 5 buah sate usus lagi.
"Benar kata Ahsan, rasanya benar-benar enak. Entah kenapa rasanya seperti membuat ku menjadi ketagihan," ucap ku.
"Hahaha benar kan... Oiya kalian berdua sudah dengar kabar yang sedang heboh belum?" tanya Ahsan yang membuat ku sedikit terkejut. Jangan-jangan apa yang dimaksud Ahsan dengan kabar heboh itu adalah kabar mengenai Aji yang ditolak oleh Fani. Apa mungkin Ahsan sudah tahu kebenarannya?
"Kabar heboh apaan tuch?" tanya Ruben menirukan logat khas milik Ahsan.
"Katanya, sebentar lagi akan ada murid baru loh. Kalian kan tau kalau kelas kita itu masih 24 orang, jadi kemungkinan murid baru itu bakal dimasukkan ke kelas kita agar kelas kita genap 25 orang," ucap Ahsan.
__ADS_1
***
Bersambung.