Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 151 : Raut Wajah Mu Terlalu Tegang


__ADS_3

Setelah pak Bimo selesai memanggil nama-nama yang terpilih, Deg !! Tiba-tiba saja jantung ku serasa berhenti. Dari sekian banyaknya anak kelas 10-7 yang terpilih, kenapa aku juga tidak ikut terpilih? Malahan Tomi yang notabene bukanlah anggota ekstrakulikuler sepak bola pun ikut terpanggil. Entah kenapa, aku merasa sangat terluka dan kecewa dengan tidak terpilihnya aku ini.


Lalu, anak-anak yang terpanggil tadi kini mulai berjalan ke arah samping kanan pak Bimo untuk membuat barisan baru sesuai dengan apa yang pak Bimo perintahkan tadi. Dari wajah mereka, tampak ada aura rasa puas dan senang yang terpancar.


"Seperti yang kalian ketahui dan kalian tonton waktu pertandingan berlangsung, anak-anak dari 10-7 memang tampil sangat luar biasa. Mereka selalu bisa mengatasi masalah yang terjadi dengan respon yang sangat cepat. Jadi, tidak heran jika kebanyakan anak-anak yang bapak panggil ini sebagian besar berasal dari kelas 10-7. Hanya ada 2 nama saja yang bukan berasal dari 10-7," ucap pak Bimo.


"Selanjutnya, bapak ingin membentuk sebuah tim yang terdiri dari nama-nama yang bapak panggil ini dan menggabungkannya dengan para pemain senior. Lalu, melakukan latih tanding dengan para pemain senior yang lainnya. Untuk yang tidak belum terpilih, jangan berkecil hati, masih ada waktu hingga seleksi berakhir. Mengerti ?" lanjut pak Bimo.


"Mengerti pak," jawab kami semua serempak.


"Untuk para pemain utama tim, silahkan maju ke depan, dan untuk yang lainnya kalian bisa membuat tim menjadi 2. Lalu kalian juga akan melakukan latih tanding juga. Nanti tim yang sama-sama menang, akan dipertemukan. Silahkan," ucap pak Bimo yang lalu kami pun langsung membentuk tim masing-masing.


Berarti total tim yang akan terbentuk di latihan kali ini ada 4 tim. 2 tim dari para pemain utama, dan 2 tim dari para pemain yang belum terpilih. Lalu, nanti 2 tim yang berhasil memenangkan pertandingan, akan saling berhadapan, begitupun yang kalah.


"Wah sayang sekali yah kita gak kepilih," ucap Ruben tiba-tiba sambil menepuk ku dari arah belakang. Tak ketinggalan senyum lebarnya yang menempel di wajahnya itu.


"Iya yah, sayang sekali. Padahal kita semua juga sudah berjuang bersama-sama," jawab ku lirih.


"Apa-apaan ekspresi mu itu? Kau kecewa yah? Seharusnya kau harus sudah merasa senang jika salah satu dari kita terpilih. Ini malah teman kita ada 3, bahkan 4 jika Tomi berada di sini. Seharusnya kita ikut bahagia karena jika tanpa kita, mereka juga tidak akan sampai situ kan? Lagi pula, pak Bimo tadi juga bilang bahwa semuanya masih mungkin terjadi, jadi lebih baik kita terus bersemangat hehehe," ucap Ruben yang masih setia memasang senyuman di wajahnya itu. Entah kenapa ucapan Ruben barusan membuat ku merasa lebih baik dan kini kembali memiliki semangat.


"Iya yah, kau benar juga. Aku seharusnya saat ini merasa senang karena teman-teman ku sudah satu langkah di depan. Sekarang, segala yang harus aku lakukan adalah harus lebih baik lagi agar supaya bisa menyusul mereka," ucap ku.

__ADS_1


"Nah... gitu dong hehehe," ucap Ruben dengan senyum lebarnya itu.


Sekarang, kami pun sudah mulai membentuk tim seperti apa yang telah diperintahkan pak Bimo tadi. Setelah beberapa saat, akhirnya kami berhasil membentuk tim dan sekarang sudah siap untuk saling bertanding.


Kali ini, yang akan pertama bertanding adalah tim yang pemainnya berasal dari para pemain inti. Anak-anak kelas 10 yang tadi terpilih, terlihat dijadikan satu tim. Mereka juga terlihat satu tim dengan kak Jo. Sementara itu kak Taufik terlihat berada di tim yang berbeda, yaitu tim yang akan menjadi lawan mereka di pertandingan yang pertama ini.


"Oi Lang kamu kelihatan sedikit pucat, kamu baik-baik saja?" tanya Ruben tiba-tiba.


"Oh gak papa kok. Aku cuma merasa sedikit pusing saja dan sedikit kemas sedari tadi pagi," jawab ku.


"Wah kalau begitu lebih baik kamu tidak usah ikut latihan aja hari ini, kau istirahat saja sambil menonton," ucap Ruben.


"Tapi jika aku tidak bermain, maka peluang ku pasti akan habis karena jika bukan hari ini, kapan lagi? Minggu depan kan ekstrakulikuler ditiadakan karena ada UTS," ucap ku.


"Gak papa kok, lagi pula kan pertandingannya gak terlalu lama juga. Sekali-kali, aku harus memaksakan tubuh ku ini hehehe," ucap ku.


"Ya udah kalau begitu. Tapi, jangan terlalu memaksakan diri yah? Jika kau merasa semakin tidak enak badan, kau langsung minta diganti saja oke?" ucap Ruben.


"Sip," jawab ku singkat. Aku tidak menyangka ternyata Ruben se-peka dan se-perhatian ini. Tak aneh rasnya jika Ruben terlihat mempunyai banyak teman dan gampang mendapatkan teman.


Akhirnya, pertandingan kini dimulai. Bola pertama dimulai dari sisi tim kak Taufik. Kita akan melihat bagaiman perbedaan kak Taufik ketika main futsal dan sepak bola.

__ADS_1


***


Pritttt. Peluit babak pertama telah usai. Di pertandingan kali ini, satu babaknya hanya sepanjang sekitar 12 menit saja. Alhasil, tanpa terasa kini satu babak telah terlewati. Skor sementara adalah 1-1. Tim yang diperkuat oleh para pemain inti memang sama-sama kuat. Hanya dengan melihat permainan mereka saja, sudah membuat ku sedikit agak minder.


Jalannya tempo pertandingan babak pertama terasa tidak terlalu cepat. Kedua tim sama-sama bermain dengan tempo sedang dan lebih banyak menguasai bola di daerah lapangan tengah. Dari anak kelas 10, cuma Rudolf dan Renaldi yang baru dimainkan. Aku tidak tahu apakah Robi, Ahsan, dan Aji juga akan diturunkan atau tidak. Namun, feeling ku mengatakan mereka tetap akan dimainkan.


"Oi Lang kau serius sekali menontonnya tadi, jangan serius-serius nanti kau cepat mati lohh hahaha," ucap Ruben sambil tertawa.


"Eh benarkah??" tanya ku yang sedikit terkejut mendengar perkataan Ruben.


"Tuh kan kau masih serius begitu hahaha. Hidup itu jangan terlalu serius Lang. Nikmati saja. Nanti, kalau kau mati dalam keadaan serius kau pasti akan menyesal kan? Hahaha," ucap Ruben lagi.


"Ya mungkin memang seperti itu, tapi apakah memang aku selama ini terlihat begitu serius?" tanya ku.


"Ya... Kau sangat, sangat, sangat terlihat serius dalam segala hal. Sekali-kali, kau boleh becanda dengan ku atau yang lainnya kok," ucap Ruben.


"Becanda dengan yang lainnya? Contohnya?" tanya ku.


"Contohnya gini. Pertama-tama hal yang harus kau ubah itu raut wajah mu dulu. Coba kau ubah raut wajah mu jangan menjadi terlalu tegang," balas Ruben.


"Sepeti ini?" tanya ku sambil berusaha memasang raut wajah seperti yang Ruben minta.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2