Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 137 : Orang Dengan Tingkat Risiko Keterlambatan Paling Tinggi Di Kelas


__ADS_3

Minggu 25 September, tepat satu minggu setelah Celine berkunjung ke toko bunga milik ibu. Sejak saat itu, aku dan Celine menjadi semakin dekat. Kami sering bertemu saat istirahat, sering bertukar pesan WA, dan kami juga beberapa kali pergi makan bersama setelah pulang sekolah.


Namun sebaliknya dengan Cindy, sejak saat acara api unggun itu, Cindy masih belum berubah. Ia bahkan sama sekali belum berbicara pada ku lagi. Bahkan, hanya sekedar tersenyum atau menyapa saja sekalipun.


Hari ini, aku dan Celine berencana untuk pergi ke kebun binatang. Tentu saja, kami tidak berdua. Kami akan pergi bersama Ruben, Ahsan, dan dua teman dekat Celine yang selalu terlihat berada di sebelahnya yaitu Devi dan Fani.


Kami sudah berjanjian untuk bertemu di depan sekolah pukul 9 pagi. Saat ini masih pukul 07.30, jadi masih ada cukup banyak waktu hingga waktu bertemu nanti. Sebenarnya, kita juga sudah mengajak Cindy dan juga Sofia untuk ikut pergi ke kebun binatang bersama kami. Namun, mereka menolaknya. Mereka bilang kebetulan ada urusan di hari ini. Tentu saja, bukan aku yang mengajak mereka berdua, tetapi Ruben lah yang mengajak mereka.


Sifat Cindy kepada yang lainnya masih sama seperti biasanya, hanya pada ku saja yang berbeda. Aku masih tidak tahu kenapa itu bisa terjadi. Semakin aku memikirkannya, semakin aku tidak mengerti. Lagi pula, aku tidak akan pernah mengerti tentang hal yang aku tidak pahami.


"Wah kakak tumben sudah bangun, mau pergi ke mana kak?" Hana tiba-tiba datang menghampiri ku yang sedang berada di balkon lantai dua sambil menikmati secangkir cokelat hangat dan beberapa lembar roti.


"Kenapa kalimat mu terdengar seperti kakak selalu bangun siang? Kakak bangun siang kan cuma waktu itu saja. Itu pun karena kakak merasa lelah saja," jawab ku.


"Heheehe iya-iya maaf, tapi Hana benar kan kalo kakak mau pergi hari ini?" tanya Hana lagi.


"Iya kakak mau pergi, kenapa kamu bisa tahu kalau kakak mau pergi?" tanya ku


"Mungkin cuma insting saja hehehe... Ngomong-ngomong kakak mau pergi kemana kak?" tanya Hana lagi yang kini duduk di samping kanan ku.


"Ke kebun binatang," jawab ku.


"Ehhhh? Kebun Binatanggg? Hana ikut yahhh kakkk... Pllisssss... Hana ikut yah?" Hana tiba-tiba saja menjadi begitu tertarik dengan kebun binatang ini.


"Wah tapi kan ini bukan cuma kakak yang pergi, tapi juga sama temen-temen kakak yang lain. Lain kali saja yah?" ucap ku.


"Ga mauuuuu... Hana maunya sekarang. Ayolah kak... Hana pingin ikut... Plisss..." ucap Hana sambil menarik-narik baju ku dari samping.


"Iya-iya deh, tapi kakak tanya dulu sama temen-temen kakak yang lain yah? Kalau mereka ga ngizinin kamu, berarti kita ke kebun binatangnya lain kali yah? Setuju?" tanya ku.


"Setujuuuu," jawab Hana dengan semangat.

__ADS_1


Aku lalu bertanya pada yang lainnya apakah tidak apa-apa jika aku mengajak Hana bersama ku? Pada akhirnya, mereka tidak keberatan jika aku mengajak Hana.


"Kata temen-temen kakak, kamu boleh ikut," ucap ku.


"Boleh? Yeaaayyyyyy... Tunggu ya kak, Hana ganti baju dulu," ucap Hana yang langsung turun ke lantai satu untuk ganti baju. Hana terlihat begitu bersemangat sekali.


"Jangan berlari..." ucap ku yang sepertinya tidak ia dengarkan.


Sebenarnya masih ada satu hal lagi yang mengganjal, yaitu soal Risal dan lomba puisi. Sekarang sudah diketahui kenapa Risal tidak mendapatkan juara. Ternyata, ia tidak menyerahkan naskah puisinya pada panitia. Tentu saja hal itu sangat membuat ku terkejut.


Ia sudah membuat puisinya, akan tetapi ia tidak menyerahkannya pada panitia. Aku pun tidak tahu kenapa ia melakukan hal tersebut. Meskipun bila ia menyerahkan puisinya pada panitia belum tentu juga ia mendapatkan juara, akan tetapi setidaknya masih ada peluang untuk itu.


Sementara itu, untuk naskah puisinya sendiri ia pajang di Mading (majalah dinding) di dalam kelas. Aku sudah membacanya, dan menurut ku itu sangatlah bagus dan sangat menyentuh. Aku tidak terlalu ingat secara detail naskah puisinya, lain kali aku akan menunjukkannya pada kalian saat aku sudah berada di kelas.


***


Akhirnya, aku dan Hana berangkat menuju ke tempat perjanjian. Karena ibu sudah berada di toko bunga, kami pun langsung saja menuju ke depan sekolah. Lagi pula, sebelumnya kami sudah bilang pada ibu kalau kami akan pergi ke kebun binatang.


Hari ini, aku memakai kelana jeans hitam dengan atasan hoodie yang juga bewarna hitam dan memakai sepatu. Sementara itu Hana memakai gaun satu potong bewarna merah muda dan juga memakai sepatu.


***


Saat kami sudah sampai di depan sekolah tempat dimana telah disepakati sebelumnya, kami adalah orang pertama yang sampai. Hal itu cukup masuk akal karena kami sampai di sini 15 menit sebelum waktu yang telah disepakati yaitu pukul 9.


"Besok kalau Hana sudah besar, Hana juga mau sekolah di sini," ucap Hana sambil mengamati gedung SMA.


"Hahaha kenapa begitu?" tanya ku.


"Rahasia dong hehehe," jawab nya sambil tertawa.


Tak berselang lama, Celine dan kedua temannya yang lain pun datang.

__ADS_1


"Pagi Lang, pagi Hana," ucap Celine dengan sedikit tersenyum.


"Pagi..." jawab ku.


"Pagi kakkk, maaf yah Hana ikut hehehe," ucap Hana.


"Gak papa Hana. Tambah orang berarti tambah seru juga," timpal Celine.


"Hallo kak, nama ku Hana. Aku adiknya kak Gilang. Salam kenal yah," Hana menjulurkan tangannya mengajak bersalaman pada Fani, setelah itu pada Devi. Ngomong-ngomong, ini juga pertama kalinya mereka berdua bertemu dengan Hana.


"Wahh pintar banget kamu... Nama kakak Fani," ucap Fani yang menyambut dengan ramah uluran tangan dari Hana tadi.


"Nama kakak Devi... Salam kenal jugaa..." kali ini giliran Devi yang menyambut uluran tangan Hana.


"Berarti sekarang tinggal nunggu siapa kak?" tanya Hana pada ku.


"Kak Ahsan sama kak Ruben. Kamu masih ingat mereka berdua kan?" tanya ku.


"Oh iya masih-masih," jawab Hana.


***


Saat ini waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih 5 menit. Semua orang telah berkumpul kecuali satu orang, yaitu siapa lagi kalau bukan Ruben. Orang memiliki tingkat risiko keterlambatan paling tinggi di kelas ku.


"Wah si Ruben itu belum datang juga. Padahal rumahnya yang paling dekat," gumam Ahsan.


"Aku kira kau bakalan menghampirinya terlebih dahulu sebelum datang ke sini," ucap ku.


"Iya, sebetulnya aku juga ingin begitu tapi tadi pas di perempatan situ aku lupa belok kanan. Ya udah deh aku terusin aja ke sini. Aku malas putar balik wkwkwk," ucap Ahsan sambil tertawa.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2