Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 162 : Tebak-Tebakan Dengan Hana


__ADS_3

*******


Aku tidak tahu kenapa menilai orang lain jauh lebih mudah ketimbang menilai diri sendiri yah? Apakah itu semua karena kita lebih suka melihat keburukan orang lain dan menutup mata untuk keburukan kita sendiri? Entahlah...


*******


Setelah sekitar 15 menit berada di toko bunga, kak Dea pun kini telah memilih bibit bunga yang akan ia tanam. Setelah itu, ia pun akan langsung pulang.


"Sampai jumpa lagi yah kaliann..." ucap kak Dea yang mana langsung pergi meninggalkan toko.


"Iya kak, hati-hati," balas Hana.


"Kakak ga nyangka ternyata kamu kenal sama kak Dea. Kakak aja yang satu sekolahan baru tahu sekarang," ucap ku.


"Hehehe siapa dulu... Hana gituloh..." ucap Hana dengan membanggakan dirinya.


"Palingan juga karena kak Dea itu sering belanja di sini yah?" tanya ku lagi.


"Bukan sering lagi kak, tapi rutin. Setiap hari Sabtu, kalau tidak ada hujan atau halangan lainnya, kak Dea pasti berkunjung ke toko ini. Entah itu membeli bunga, membeli bibit, atau terkadang juga kak Dea datang hanya untuk menyapa ku dan ibu. Terus kak Dea juga terkadang ikut menyirami bunga-bunga di sini kalau sedang senggang," jelas Hana.


"Wah begitu yah... Pantas kamu kelihatan akrab sekali dengan kak Dea," ucap ku.


***


Tak lama berselang, kini giliran Aji yang terlihat datang berkunjung ke toko bunga ini. Ini berarti sudah dua hari berturut-turut aku melihat Aji datang ke toko ini.


"Eh kau datang lagi. Mau beli apa Ji?" sapa ku.


Entah kenapa saat aku menyapanya, raut wajah Aji malah terlihat sedikit panik dan terlihat tidak nyaman. Aku tidak tahu apakah aku mengganggunya atau tidak karena baik sekarang atau kemaren, raut wajahnya selalu terlihat cukup panik saat aku menyapanya.


"Eh Galang... Tumben sekali kamu di sini hehehe," ucap Aji mencoba memasang wajah biasa saja.


Ini cuma perasaan ku saja atau memang sifat Aji yang terlihat sedikit aneh yah? Entah kenapa ia terlihat seperti tidak bertemu dengan ku ketika sedang berkunjung ke toko ini. Raut wajahnya pun tak seperti biasanya.


"Iya soalnya di rumah aku sedang tidak ada kerjaan, terus aku juga sudah berjanji pada Hana untuk berkunjung, jadi aku di sini deh sekarang," jawab ku.


"O-oh bbe-begitu yah..." jawabnya sedikit kikuk.


"Oiya ngomong-ngomong kamu mau cari bunga lagi? Kemaren juga bukannya kamu udah beli bunga yah? Memangnya kamu lagi ada acara apa Ji, tumben jadi sering beli bunga?" tanya ku lagi.


"Oh gak ada. Gak ada apa-apa kok Lang. Cuma iseng-iseng aja hehehe," ucap Aji dengan raut wajah yang masih kikuk itu.

__ADS_1


"Oh begitu yah... Ya sudah silahkan memilih bunga yang mau kau beli. Santai saja... Aku tidak akan mengganggu mu kok," ucap ku yang lalu langsung meninggalkan Aji sendirian untuk memilih bunga.


Sebenarnya, aku juga tidak enak jika kehadiran ku malah membuatnya kikuk dan tidak nyaman. Hal-hala yang masih sangat mengganjal pikiran ku saat ini adalah untuk apa aji membeli bunga-bunga itu dan kenapa ia seperti seolah-olah menghindari ku ketika sedang membeli bunga-bunga tersebut. Sepertinya ada hal yang sedang ia sembunyikan.


***


Setelah beberapa menit terlihat sangat serius memilih bunga, pada akhirnya Aji telah menentukan bunga mana yang akan ia beli. Setelah itu, ia pun langsung pulang.


"Kak Aji kelihatan sedikit aneh ya kak," ucap Hana tiba-tiba.


"Eh kamu juga berpikir begitu? Kakak kira cuma kakak aja yang berpikiran seperti itu," jawab ku.


"Kak Aji kaya kelihatan gelisah atau cemas gitu. Apalagi pas tahu kakak ada di sini. Kemaren juga, waktu kakak dateng, muka kak Aji langsung kelihatan panik banget. Sepertinya kak Aji kayak lagi menyembunyikan sesuatu," ucap Hana.


"Begitu yah... Kakak juga sempat berpikir seperti itu, tapi kakak langsung membuangnya jauh-jauh. Oh iya sudah waktunya makan siang nih, gimana kalau kita cari makan siang aja sekarang? Sekalian makan bareng di luar? Kan kita juga udah cukup lama gak makan bareng lagi di luar," ucap ku.


"Wah ide bagus tuh kak, Hana juga udah laper," timpal Hana.


"Ya udah kamu tanya ibu dulu sana. Ibu mau ikut atau engga," pinta ku.


"Okkeee. Tunggu sebentar yah kak," Hana lalu langsung menghampiri ibu.


***


"Kata ibu kita duluan aja Kak. Kata ibu, ibu masih sibuk," ucap Hana.


"Wah begitu yah... Sayang banget... Terus mau makan apa nih?" tanya ku.


"Mmmm apa yah? Kakak ada ide?" Balas Hana yang membalas pertanyaan dengan pertanyaan.


"Hahaha kamu ini, masa pertanyaan dibalas pertanyaan," ucap ku.


"Hehehe gak papa kak," jawab Hana.


"Kalau begitu kita cari yang dekat-dekat sini aja yah?" ucap ku.


"Boleh kak," timpal Hana.


"Ya udah kita cari aja sambil jalan, let's go" ucap ku.


"Lessss goooo," timpal Hana dengan antusias.

__ADS_1


"Bukan l**ess go, tapi l**et's go," ucap ku mengoreksi pengucapan Hana.


"Iyaa maksudnya itu hehehe," jawab Hana.


***


"Eh kak, makan lele aja yuk?" ucap Hana tiba-tiba sambil sedikit menarik baju ku.


"Kamu mau lele? Boleh... Dimana?" tanya ku sambil menoleh ke kanan kiri mencari warung makan yang menjual lele.


"Itu kak, di sebelah sana," ucap Hana sambil menunjuk-nunjuk ke arah barat laut di seberang jalan sana.


"Oh yang itu yah?" ucap ku sambil menunjuk ke warung makan yang barusan Hana tunjuk itu.


"Iya kak yang ituuuu," ucap Hana antusias.


"Okkeee, ayo kita langsung ke sana," ucap ku.


Sesampainya di warung makan yang mana di maksud tadi, kami pun langsung memesan makanan. Salah seorang pelayan lalu memberikan kami daftar menu yang tersedia. Kebanyakan menu di warung makan ini adalah masakan dari ikan air tawar.


"Aku pesan lele asam manis kak, sama es teh," ucap Hana.


"Okeee," jawab ku, "kalau begitu lele asam manisnya dua sama es tehnya juga dua mba."


"Oke kak, bisa ditunggu sebentar yah..." ucap pelayan tersebut yang lalu langsung pergi meninggalkan kami.


"Oiya kak sambil menunggu makanannya dateng, main tebak-tebakkan yuk?" ucap Hana.


"Tebak-tebakkan?" tanya ku.


"Iyya," Hana mengangguk.


"Boleh, mau kakak dulu atau kamu dulu yang ngasih pertanyaan pertama?" tanya ku.


"Jelas aku dulu dong hehehe. Pertanyaannya, gajah naik becak kelihatan apanya hayo?" tanya Hana.


"Gajah naik becak kelihatan apanya? Ya jelas kelihatan bohongnya hehehe," jawab ku yang sebenarnya sudah pernah mendapatkan pertanyaan semacam itu waktu aku masih kecil. Ternyata, tebakan seperti itu sudah bertahan cukup lama yah. Aku penasaran, siapa sebenarnya yang pertama kali menemukan tebakan semacam itu?


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2