Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 160 : Bunga Untuk Siapa?


__ADS_3

"Sepertinya kau mengatakan hal itu kepada hampir semua perempuan deh," jawab ku.


"Tidak, tidak, tidak. Yang kali ini benar-benar cantik loh Lang. Jujur aku juga tahu belum lama ini. Sekitar satu bulan yang lalu," ucap Ruben.


"Satu bulan itu bukannya sudah lama yah?" jawab ku.


"Satu bulan itu sudah lamaaa Bambanggg," timpal Ahsan yang terlihat kesal.


"Hahaha ya pokoknya gitu lah Lang. Kalau kau penasaran, kak Dea itu kelas 11 IPA 1. Kau tau kan kalau anak-anak IPA 1 itu termasuk anak-anak terpilih yang otaknya itu sangat pintar hahaha. Sudah cantik, pintar lagi," ucap Ruben.


"Oh begitu yah," jawab ku.


Tak berselang lama, bel tanda berakhirnya istirahat pertama pun berbunyi. Berbarengan dengan itu, Ayu kini telah kembali ke kelas dengan membawa kartu UTS di tangannya. Ia pun lalu langsung membagi kartu tersebut dengan cara memanggil nama yang tertera di kartu itu satu per satu.


***


Bel tanda pulang sekolah akhirnya berbunyi. Pada akhirnya, hari terkahir sekolah sebelum UTS telah berakhir. Kini, setiap siswa terlihat berbondong-bondong mulai meninggalkan area sekolah.


"Oi Lang kau mau langsung pulang?" tanya Ruben tiba-tiba saat aku hendak beranjak dari kursi ku.


"Iya nih, aku mau langsung pulang. Lagi pula masih ada beberapa materi yang masih perlu aku baca lagi," ucap ku.


"Oh begitu yah, hati-hati di jalan yah," ucap Ruben lagi.


"Oh iya. Ngomong-ngomong kau mau kemana memang?" tanya ku.


"Gak kemana-mana kok, memangnya kenapa?" jawab Ruben.


"Aku kira tadi kau mau mengajak ku ke suatu tempat makanya kau bertanya pada ku apakah aku mau langsung pulang atau tidak," ucap ku.


"Hahaha engga, engga kok. Aku cuma mau menyapa mu sebelum pulang saja," ucap Ruben.


"Oh begitu. Ya sudah aku pulang dulu yah," ucap ku.


"Oh iya, sampai bertemu hari Senin," balas Ruben dengan melambaikan tangannya.


Setelah itu, aku pun langsung pulang menuju ke rumah. Aku benar-benar harus mempersiapkan buat UTS besok supaya paling tidak aku tidak mendapatkan nilai di bawah KKM.


***

__ADS_1


Saat hendak pulang ke rumah, tiba-tiba saja aku kepikiran untuk mampir sebentar ke toko bunga milik ibu. Entah kenapa aku sedang ingin melihat-lihat toko sekalian melihat-lihat bunganya.


Sesampainya di toko bunga, aku sedikit terkejut. Aku melihat Aji sedang melihat-lihat bunga. Namun kali ini ia sendirian, tidak bersama dengan Renaldi seperti biasanya. Kira-kira, untuk apa yah aji membeli bunga.


"Hai Ji, lagi mau beli bunga?" ucap ku saat baru datang di toko bunga.


"Ehhh kau Lang... Iya-iya nih hehehe," jawab Aji dengan raut wajah yang entah kenapa jadi sedikit panik. Mungkin iya sedikit terkejut.


"Ohh, kalau mau beli bunga kenapa tadi tidak mengajak ku sekalian saja?" ucap ku.


"Tadi kau masih terlihat mengobrol dengan Ruben jadi aku pikir kau mau pergi ke suatu tempat. Makanya aku langsung datang ke sini tadi," jawab Aji dengan raut wajah yang masih sedikit panik.


"Oh begitu, tumben juga kau sendirian. Renaldi kemana?" tanya ku lagi.


"Renaldi yah... Dia tadi mau langsung pulang hehehe," jawab Aji.


"Oh begitu yah. Ngomong-ngomong kau mau beli bunga buat apa Ji? Tumben sekali," tanya ku lagi.


"Anuuu... Mmmm... Buat... Buat... Buat koleksi aja hehe. Mau aku taruh di vas bunga rumah ku," jawab Aji dengan panik.


"Ohh begitu ya. Ya sudah ya, aku tinggal sebentar. Aku mau ketemu ibu dulu," ucap ku.


***


Setelah cukup lama, Aji akhirnya telah mendapatkan bunga yang ia inginkan. Ia pun lalu langsung pergi dari toko bunga.


"Aku duluan yah Lang, sampai jumpa hari Senin," ucap Aji yang sudah berada di atas sepedanya itu.


"Oke Ji, hati-hati," ucap ku.


Tak lama setelah itu, setelah puas melihat-lihat bunga, aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah. Aku mau langsung mandi terlebih dahulu sebelum mulai belajar.


"Aku pulang dulu ya bu..." ucap ku.


"Oh iya Lang..." jawab ibu ku yang terlihat sibuk menata ulang bunga-bunga.


***


Malam hari setelah makan malam, aku masih terpikirkan tentang Aji yang terkesan diam-diam membeli bunga. Ia terkesan berusaha agar tak seorang pun tahu kalau ia sedang membeli bunga. Jika memang benar bunga itu ia akan taruh di vas bunga rumahnya, kenapa ia sampai harus bersembunyi-sembunyi seperti itu yah? Entahlah.

__ADS_1


Selain itu, aku juga masih kepikiran tentang hal yang Ruben tadi ingin tanyakan pada ku yang tiba-tiba diingatkan oleh Ahsan apakah ia yakin mau menanyakan hal itu pada ku atau tidak. Lalu pada akhirnya, Ruben mengurungkan niatnya dan tidak jadi bertanya pada ku.


Tok tok tok. Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar ku. Dari suara ketokannya itu aku sudah tahu siapa yang tengah mengetok pintu ku.


"Kakak di dalam? Lagi sibuk gak?" teriak Hana dari balik pintu. Seperti yang sudah aku duga sebelumnya, suara ketokan pintu itu pasti milik Hana.


"Iya kakak lagi di dalem nih," ucap ku yang lalu langsung menuju pintu itu untuk membukanya, "ada apa?"


"Ini kak, Hana mau tanya soal matematika hehehehe," ucap Hana sembari menyodorkan buku catatannya pada ku.


Aku lalu mengambil buku yang disodorkannya itu lalu aku lihat-lihat sebentar, "Ini yang mau ditanyakan nomer berapa saja?"


"Nomer satu, sama nomer dua, sama nomer tiga, terus nomer 4, sama yang terakhir nomer 5 kak," ucap Hana sambil menunjukkan nomer-nomer tersebut.


"Wah berarti semuanya dong?" ucap ku.


"Hehehehe iya kak," jawab Hana.


"Hahaha kamu ini. Kenapa gak bilang aja semuanya kak, malah nyebutin nomer satu-satu," ucap ku.


"Hehehe kan biar terkesan gak tanya semuanya kak," timpal Hana.


Setelah itu, aku pun mulai mengajari Hana bagaimana menyelesaikan soal-soal matematika tersebut.


***


"Wah kakak enak banget ngajarinnya. Hana jadi langsung mudeng. Kakak besok kalo udah besar jadi guru aja kak, pasti banyak anak-anak yang paham," ucap Hana ketika kita berdua telah selesai mengerjakan soal matematika tersebut.


"Eh jadi guru? Hahaha sepertinya kakak engga cocok," jawab ku yang lumayan terkejut mendengar kalimat dari Hana itu.


"Gak cocok bagaimana? Tadi itu kakak cocok banget loh jadi guru. Terus kakak gak gampang marah lagi. Sempurna deh hehehe," ucap Hana.


"Bisa aja kamu," jawab ku.


"Ya udah kak, Hana mau kembali ke kamar Hana dulu yah... Selamat malam... Besok ingat bangunnya jangan sampai kesiangan lohhh... Dahhh," ucap Hana yang kemudian langsung berlari menuju ke kamarnya di lantai satu.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2