Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 205 : Pesan Kak Jo


__ADS_3

"I-iya nih kak," jawab ku agak gugup.


"Temen-temen mu mana? Biasanya kalian bertiga?" tanya kak Jo lagi.


"Belum tau kak, udah biasa kalau berangkat ekstrakulikuler kayak gini kita bertiga gak barengan. Cuma mereka berdua aja," jawab ku.


"Oh begitu yah," jawabnya yang kini terlihat mengeluarkan sepatu sepak bolanya dari dalam tas. Lalu seketika itu juga ia mulai memakainya.


"Oiiii Lang..." teriak suara yang sudah tidak asing lagi bagi ku.


"Nah sepertinya itu mereka. Mereka berdua selalu terlihat bersemangat sekali yah. Apa lagi yang posisinya sebagai kiper itu," ucap kak Jo yang langsung menoleh ke sumber suara itu.


"Ya begitulah," jawab ku singkat.


"Wah ada kak Jo," ucap Ruben sedikit terkejut.


"Hehehe tadi aku pas baru dateng liat teman mu ini sedang sendirian. Jadi aku langsung saja duduk di sebelahnya hahaha," ucap kak Jo sambil tertawa.


"Wah mumpung kak Jo ada di sini, bagi tips dong kak biar bisa kepilih seleksi bagaimana?" tanya Ruben.


"Wah tipsnya yah... Hmmm tipsnya itu ya kalian harus bersungguh-sungguh dalam setiap sesi latihan," jawab kak Jo.


"Wah kalau itu sih aku sudah bersungguh-sungguh kak. Tapi kayaknya aku belum ikut terpilih deh nanti," timpal Ruben.


"Hahaha jelas lah kau gak bakal kepilih," timpal Ahsan agak mengejek.


"Wah kalau kau saja sudah tidak yakin pada diri mu sendiri, lalu jangan salahkan orang lain jika juga tidak mempercayai mu," ucap kak Jo.


"Dengerin tuh hahaha," timpal Ahsan.


"Diam kau," sahut Ruben.


"Pesan ku yah, kalau semisal nanti kalian belum terpilih, jangan patah semangat. Toh seleksi nanti juga bukan untuk turnamen, tapi hanya untuk sekedar latih tanding biasa dengan sekolah lain. Jadi, masih ada kesempatan," ucap kak Jo yang saat ini sudah selesai memakai sepatunya.


"Oh begitu yah... Oke kak," jawab Ruben.


"Ya sudah kalau begitu aku mau ke sana dulu yah. Sebentar lagi juga sudah mau mulai. Semangat," ucap kak Jo yang mana lalu langsung pergi dari sekitaran kami.

__ADS_1


***


Akhirnya sesi latihan telah selesai. Saat ini, kami sedang menunggu hasil seleksi untuk pertandingan persahabatan yang mana akan dibacakan oleh pak Bimo beberapa saat lagi. Saat ini, pak Bimo dan asistennya yaitu kak Jo dan kak Taufik terlihat sedang berdiskusi dengan serius.


***


Akhirnya, kedua puluh empat nama pemain yang terpilih telah dibacakan. Dari nama-nama yang telah dibacakan, hanya tiga yang berasal dari kelas X yaitu Rudolf dari 10-4, Roby dari 10-9, dan yang terakhir adalah Renaldi dari kelas ku. Tentu saja aku sangatlah kecewa dengan hasil ini karena aku masih belum bisa mewakili sekolah ku dalam pertandingan persahabatan besok. Namun seperti yang kak Jo tadi bilang bahwa aku harus tetap bersemangat. Lagi pula seleksi untuk turnamen yang sebenarnya masih lah sangat lama.


Setelah itu aku, Ruben, dan Ahsan lalu langsung menuju warung bakso milik ayahnya Sofia untuk makan sekaligus beristirahat sejenak. Sebenarnya, kami juga tadi mengajak Aji dan Renaldi untuk ikut serta ke sana. Namun Aji dan Renaldi bilang kalau mereka mau langsung pulang saja. Alhasil, cuma kami bertiga yang pergi ke sana.


***


Sesampainya di warung bakso, kami agak terkejut. Ternyata di situ sudah ada kak Jo dan Sofia yang terlihat tengah mengobrol santai sambil makan bakso. Entah kenapa jantung ku sedikit berdebar-debar tadi saat melihat mereka pertama kali. Rasanya juga agak sedikit sesak.


"Wah ada kak Jo dan Sofia," ucap Ruben dengan semangat.


"Eh kalian lagi... Wah kebetulan, sini-sini. Ayo kita makan bareng," sahut kak Jo.


"Wahaha bener banget tuh. Kalian bisa sekalian tanya-tanya soal sepak bola sama kak Jo," timpal Sofia.


"Kalian sering datang ke warung bakso ini?" tanya kak Jo sesaat setelah kami duduk di meja yang sama dengannya.


"Ya lumayan kak hehehe," jawab Ahsan.


"Kakak sering juga datang ke sini?" tanya Ruben.


"Dulu waktu masih kelas 10 sama 11 sering, tapi kalau sekarang udah jarang," jawab kak Jo.


"Ooo pantes jarang lihat," timpal Ruben.


g-ngomong Kalian itu udah saling kenal sejak kapan? Dari SMP?" tanya kak Jo.


"Hahaha engga kok kak, aku sama Galang baru kenal di kelas 10, tapi kalau sama si cecurut ini aku udah dari kelas 7 SMP," jawab Ahsan.


"Oi oi oi, siapa yang kau maksud dengan cecurut ha?" protes Ruben.


"Ya mana saya tau, saya kan ikan," timpal Ahsan yang mana langsung disambut gelak tawa yang lainnya.

__ADS_1


"Cih... Oiya Sof aku mau tanya nih. Ada yang mengganjal banget di pikiran ku," timpal Ruben.


"Oiya tanya aja Ben," jawab Sofia.


"Hhaaa memangnya kau itu punya pikiran yah?" timpal Ahsan.


"Ya punya lah... Emangnya kau yang gak punya," timpal Ruben. "Gini Sof kalau kau makan di warung bakso ini, apa kamu bayar juga?" lanjut Ruben.


"Haaa? Apa-apaan itu? Ya jelas enggak lah. Masa gitu aja kamu ga tau," timpal Ahsan.


"Oi oi, aku itu tanyanya sama Sofia, bukan sama taplak meja," timpal Ruben.


"Haaa taplak meja? Dari pada kau ampas kopi," timpal balik Ahsan.


"Hehehe sudah-sudah. Kalau aku makan di sini, tentu saja aku gak bayar hehehe," jawab Sofia.


"Ooo gitu ya. Kalau kak Jo kan sepupu mu ya Sof, nah kak Jo kalau makan bayar apa engga?" tanya Ruben lagi yang mana langsung disambut tawa dari kak Jo.


"Oi oi oi pertanyaan macam apa itu?" timpal Ahsan.


"Hahaha ya tentu saja kalau aku yang makan pasti bayar, tapi setiap kali aku bayar, pasti sama om itu gak mau diterima. Uangnya dikembalikan ke aku lagi," timpal kak Jo.


"Wah gitu yah? Sof ada cara gak biar aku bisa jadi sepupu kamu?" ucap Ruben lagi.


"Hehehe ya mana bisa gitu Ben Ben," timpal Sofia.


Tak berselang lama, makanan kami pun akhirnya datang. Kami pun lalu langsung menyantap bakso yang baru datang itu.


***


Sesampainya di rumah, aku lalu langsung mandi dan kemudian rebahan sebentar hingga waktu makan malam tiba yang mana mungkin hanya tinggal beberapa menit lagi sana. Meskipun aku baru saja makan bakso barusan, akan tetapi rasanya aku masih merasa lapar. Mungkin karena tadi waktu ekstrakulikuler sepak bola tenaga yang aku pakai cukup banyak hingga aku butuh asupan nutrisi yang banyak juga.


Hari ini, aku cukup kecewa karena aku masih belum terpilih seleksi pemain yang akan menjadi wakil di pertandingan persahabatan besok akhir bulan. Namun, berkat kata-kata dari kak Jo yang mana mengatakan masih ada kesempatan, aku pun bisa kembali menatap ke depan.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2