Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 80 : Hukuman


__ADS_3

"Apa maksud mu ngomong begitu San? Masa kamu lupa sama ulang tahun mu sendiri sih?" Ruben terlihat sangat terkejut dan mencoba untuk mencari pembenaran.


"Lupa? Sekarang aku tanya, dari mana kau dapat informasi kalau besok aku ulang tahun?" tanya Ahsan.


"Dari pemberitahuan Facebook tadi pagi. Kalau tidak percaya lihat saja, nih..." Ruben lalu mengambil HPnya dan menunjukkannya pada Ruben.


Setelah selesai melihat pemberitahuan tersebut, Ahsan tampak sedikit geregetan. Ia lalu berkata, "Kau sudah baca siapa yang ada di pemberitahuan tersebut?"


"Tentu saja sudah," jawab Ruben.


"Coba baca sekali lagi siapa nama orang yang ada di pemberitahuan tersebut," ucap Ahsan.


"Ahsan Pa..." Ruben terlihat berhenti membaca nama yang tertera.


"Ahsan siapa?" ujar Ahsan lagi.


"Ahsan Pa-m-bu-di," ucap Ruben terbata-bata.


"Kau tau siapa nama ku?" ucap Ahsan lagi.


"Ahsan Prayoga," jawab Ruben lirih.


"Jadi, orang yang ada di pemberitahuan itu aku atau orang lain?" tanya Ahsan lagi.


"Orang lain hehehehe," Ruben memasang wajah tak berdosa dan memelas.


"RUBENNNNNNN," Wita langsung berteriak dan menghampiri Ruben.


"Hehehe ada apa Wita?" Ruben masih memasang senyum memelasnya itu.


"Jadi, apa yang akan kau lakukan untuk ini??" Kali ini Wita memelankan suaranya.


"Hehehe mungkin minta... Maaf?" jawab Ruben agak ragu.


Ruben lalu berdiri dari duduknya dan langsung membungkuk hampir 90 derajat sama seperti saat ia ketiduran tadi. Kali ini ia berkata, "Maaf teman-teman... Sungguh aku minta maaf... Aku benar-benar ceroboh kali ini... Aku minta maaf... Aku tau kalian sangat marah kali ini, jadi aku persilahkan kalian untuk menghukum ku apa pun yang kalian mau... Jadi... Maaf kan aku teman-teman..."


"Hahahaha sudah-sudah, lagi pula ini juga belum sepenuhnya terjadi kan? Kita masih dalam tahap diskusi," ucap Aji mencoba untuk menenangkan suasana.

__ADS_1


"Jadi, enaknya Ruben dihukum apa nich?" Ahsan kembali memanas-manasi yang lain.


"Silahkan hukum aku apa saja, aku siap menerimanya," Ruben masih membungkuk.


"Bagaiman kalau kau makan cabe satu gelas? Hahahahaha," Ahsan tertawa dengan kejam.


"Oi oi jangan becanda begitu San hahahaha," timpal Aji.


"Siapa yang becanda Ji? Kan Ruben sendiri tadi yang bilang mau menerima hukuman apa saja kan? Ya sudah sekarang hukuman dari ku itu makan cabe hehehehe," Ahsan masih tertawa jahat.


"Tapi kan kau gak dirugikan sama sekali San? Yang dirugikan kan kami ini, yang datang sejak pukul 09.30. Bahkan sebelum itu," timpal Aji lagi.


"Oh iya yah hahahaha. Gimana sih gue," ucap Ahsan.


"Tapi sebenarnya kan niat Ruben baik, jadi ku pikir sih gak papa. Lagi pula kita juga jadi lebih akrab kan?" kali ini Ayu yang bersuara mencoba untuk kembali menenangkan suasana.


"Iya betul tuh, karena Ruben juga kita jadi bisa kumpul gini kan? Mending sekarang kita bahas mau pergi kemana kita setelah ini? Mumpung udah kumpul," ujar Aji menambahi.


"GAK BISAA LAH, TETEP AJA SI RUBEN ITU HARUS DI HUKUM," Wita kini "meledak" dengan penuh emosi dengan logat Bataknya.


"Hahahaha bagus Wita... Aku mendukung mu," timpal Ahsan mengompor-ngompori lagi.


"Terserah kalian ajalah, yang penting Ruben harus tetap dihukum," ujar Wita.


"Kalau begitu, aku tau hukuman yang cocok untuk Ruben dan menguntungkan untuk kita juga," kini aku mencoba untuk menengahi Wita dan Ruben.


"Wah apa tu Lang?" tanya Aji.


"Kita suruh Ruben untuk masak makan siang aja gimana? Nanti kita iuran untuk beli bahan makanannya, gimana? Sekalian juga yang pingin bantu masak juga boleh ikut," aku mengungkapkan usul ku.


"Wah ide bagus tuh, aku sih setuju. Yang lain gimana?" timpal Aji.


Setelah itu, semua orang pun terlihat setuju dengan usul ku. Bahkan Wita pun tampak setuju.


"Nah kalau semuanya sudah setuju, kira-kira kita mau makan apa nih?" tanya Aji lagi.


"Wah apa ya? Tapi emang kamu bisa masak Ben?" tanya Wita seakan tak percaya Ruben bisa masak.

__ADS_1


"Bisa dong Wit. Kalau rame-rame begini kayaknya makan mie kuah aja gimana?" ucap Ruben.


"Wah kedengarannya enak tuh. Seger juga kayaknya," timpal Ayu.


"Yang lain setuju?" tanya Aji.


"Setujuuuu," jawab mereka kompak.


"Bagus... Berarti sekarang tinggal membeli bahan makanannya aja. Biar cepet, kita list aja dulu kali yah bahan makanannya apa aja. Setelah itu, tinggal dibagi aja," ucap Aji.


Ruben pun lalu menulis daftar bahan makanan yang dibutuhkan untuk memasak mi kuah sebanyak 22 porsi. Kalau sedang dalam urusan memasak, Ruben tampak sangat serius dan benar-benar seperti orang yang berbeda. Rasanya sekarang ia sudah seperti kepala Chef saja yang sedang membagi-bagikan tugas kepada asisten-asistennya.


***


Akhirnya penulisan bahan-bahannya sudah selesai. Kini tinggal pembagian siapa-siapa saja yang akan berangkat membeli bahan-bahan makanannya. Agar supaya ringan, maka kami membagi-bagi secara rata bahan-bahan makanan yang akan dibeli. Aku pun mendapat bagian membeli daging ayam bersama Cindy. Daging ayam yang harus aku beli sekitar 5 kg. Aku dan Cindy pun lalu langsung bergegas menuju ke pasar untuk membeli daging ayam tersebut.


Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul 10.50. Matahari pun sudah mulai tinggi dan menyengat. Di tambah dengan suasana jalanan di hari Minggu yang super padat, saat ini terasa sungguh sangat panas sekali.


Beruntung jarak pasar dari rumah Ruben tidaklah terlalu jauh. Hanya sekitar 500-an meter saja. Aku dan Cindy pun berjalan agak cepat kali ini.


"Kamu sudah tahu tempat kios yang jualan daging ayam gak Cin?" tanya ku.


"Tau kok Lang, belum lama ini aku nemenin nenek ku beli daging ayam juga ke pasar," jawab Cindy sambil mengusap peluh yang mulai menetes di dahinya.


"Bagus deh kalau gitu hehehehe, tapi ngomong-ngomong hari ini panas banget yah," ucap ku lagi.


"Iya nih," timpal Cindy yang kembali mengelap peluh yang menetes dengan cukup deras itu.


Entah kenapa walaupun sekarang cuacanya sangat terik, berjalan di sisinya seperti ini membuat ku merasa sejuk dan nyaman. Rasanya, aku ingin jarak pasar dan rumah Ruben lebih jauh lagi supaya aku bisa berjalan di sampingnya lebih jauh dan lebih lama lagi. Aku tidak tahu perasaan aneh ini apa namanya. Hanya saja, rasanya benar-benar menyenangkan.


Akhirnya, kita telah sampai di pintu masuk pasar. Seperti pada umumnya, suasana pasar sangatlah ramai dan selalu terlihat sesak. Apalagi hari ini adalah hari Minggu. Sudah pasti pengunjungnya lebih banyak dari pada hari-hari biasanya.


"Di sebelah mana Cin tokonya?" tanya ku saat kita berdua sudah memasuki area pasar.


"Di ujung selatan sana Lang," jawab Sofia.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2