
"Sudah semakin gelap nih, pulang yuk," ucap Aji.
"Ayo," timpal Ruben.
Kami berlima lalu bangkit dari duduk dan akan segera pulang kembali ke rumah.
"O iya Ben, aku hari ini bawa sepeda yang kemaren aku pinjam. Kalau gak keberatan, kau sekalian yang membawanya ke rumah mu yah? Aku mau langsung pulang soalnya," ucap ku.
"Oh begitu yah. Okee. Ngomong-ngomong sepedanya kau parkirkan di sebelah mana?" tanya Ruben.
"Di parkiran sebelah barat, dekat dengan pagar," jawab ku.
"Okee,"
Aku kemudian berpisah dengan mereka dan langsung keluar dari lingkungan sekolah. Setelah itu, aku langsung berjalan menuju ke rumah. Aku ingin segera sampai di rumah tepat sebelum matahari benar-benar tenggelam, jadi aku berjalan agak cepat sekarang.
Alasan ku pulang buru-buru adalah karena aku sudah berjanji akan membuat makanan untuk makan malam nanti. Rencananya, aku akan membuat nasi omelet.
Udara sore hari ini tiba-tiba berubah menjadi dingin. Angin yang berhembus melewati ku, entah kenapa terasa seperti membawa sepenggal rasa sepi yang entah datang dari mana.
Aku berjalan menyusuri jalan yang sama setiap harinya, akan tetapi entah kenapa aku selalu merasa bahwa aku sedang melewati jalan yang sama sekali baru. Begitu banyak hal baru yang aku temui setiap harinya yang mana aku belum pernah temui sebelumnya.
Lampu-lampu jalan yang sudah mulai bernyalaan, terlihat seperti parade obor yang menuntun ku ke ujung jalan sana. Aku tidak bisa melihat dengan jelas apa yang sedang menunggu ku di ujung sana, yang aku bisa lihat sekarang ini hanyalah bayangan ku sendiri.
Angin lagi-lagi menerpa ku dengan cukup kuat. Kaos yang ku gunakan sekarang ini, tak cukup tebal untuk menahan hawa dingin yang dibawa oleh angin itu. Beruntung hal itu tak berlangsung lama, hanya beberapa detik saja.
Akhirnya, aku benar-benar bisa sampai di rumah sebelum matahari benar-benar tenggelam. Sepertinya Hana dan ibu masih berada di toko, kondisi rumah saat ini masihlah gelap. Lampu-lampu masih belum dinyalakan.
Setelah aku menyalakan lampu-lampu rumah, aku langsung bergegas mandi dan setelah itu akan langsung mempersiapkan makan malam. Sejujurnya, tidak banyak yang bisa aku masak. Sejauh ini, aku hanya bisa memasak masakan yang berbahan sederhana saja seperti telur. Maka dari itu, aku memilih nasi omelet untuk aku hidangkan nanti saat makan malam karena bahan dasarnya adalah telur.
***
"Kami pulang," Hana membuka pintu depan, "Wahhh baunya harum sekaliiii... Sudah matang kak?"
"Belum, kakak baru menumis bumbu rempah-rempahnya dulu," jawab ku yang masih terus memperhatikan bumbu yang sedang aku tumis ini.
"Cepetan dong kak, Hana sudah gak sabar nih," Hana kini duduk di dapur sambil memperhatikan ku memasak.
"Iya, iya, kakak juga udah cepet ini," jawab ku.
Sementara itu, ibu terlihat duduk di meja makan sambil membuka kembali buku catatannya. Aku tidak terlalu paham dengan isinya, akan tetapi dari raut wajah ibu aku bisa sedikit melihat kecemasan. Aku harap itu bukan suatu masalah yang besar.
__ADS_1
***
Nasi omelet buatan ku akhirnya selesai dibuat. Aku langsung buru-buru meletakkannya di piring untuk segera dihidangkan di meja makan. Walaupun bentuknya tidak terlalu bagus, akan tetapi aku cukup yakin dengan rasanya.
Aku lalu meletakkan nasi omelet itu di meja makan. Di situ, Hana dan ibu terlihat sudah menunggu.
"Maaf menunggu lama Hana hehehe," aku memberikan hidangannya ke hadapan Hana dan ibu.
"Itadakimasssss," ucap Hana dengan semangat dan langsung mengambil sendok untuk segera mencicipi masakan ku.
"Hahaha kamu ngomong apa barusan? Sebuah mantra yah?" ucap ku sambil sedikit tersenyum.
"Bukan mantra kakk tapi itadakimas. Itu bahasa jepang, artinya selamat makan," jelas Hana.
"Ohhh begitu... Dari mana kamu tahu kosa kata itu?" tanya ku lagi.
"Dari ibu lah. Jangan tanya-tanya lagi, Hana mau makan dulu," jawab Hana yang kini sudah mulai memasukkan nasi omelet buatan ku ke dalam mulutnya.
"Hahaha iya iya," jawab ku yang kini ikut memakan nasi omelet buatan ku sendiri.
Ibu hanya tersenyum ketika melihat percakapan kami tadi. Rasa cemas yang tadi sempat ibu tampakkan, kini telah benar-benar sudah tidak terlihat lagi.
***
"Walaupun tampilannya tidak rapih, tapi rasanya enak. Hana kasih nilai 8 untuk makanan ini hehehe," Hana tersenyum.
"Hahaha kamu seperti juri lomba masak saja," ucap ku.
"Oiya bu, ajari aku bahasa Jepang lagi dong bu," pinta Hana.
"Memangnya kamu mau tau tentang kata apa lagi?" tanya ibu.
"Kalau bahasa Jepangnya terima kasih apa bu?" tanya Hana polos.
"Arigatou gozaimasu," jawab ibu.
"Arigatou gozaimasu," Hana menirukan suara ibu yang diikuti oleh gelak tawa aku dan ibu.
"Oiya ngomong-ngomong nama mu juga merupakan bahasa Jepang loh, kamu sudah tahu?" tanya ku.
"Eh benarkahh? Beneran bu? Hana belum tau," jawab Hana.
__ADS_1
"Iya bener hehehe," ibu tersenyum tipis.
"Emang arti dari Hana apa bu?" tanya Hana lagi.
"Coba kamu tebak dulu," timpal ku sebelum ibu benar-benar menjawab pertanyaan Hana barusan.
"Apayah? Mmmm Cantik? Wanita? Air? Langit? Daun? Pohon?" ucap Hana dengan cukup cepat.
Aku menggelengkan kepala tanda belum ada jawaban yang benar, lalu berkata "Bukan, masih belum ada yang benar hahaha."
"Terus apa dongg?" Hana mulai cemberut.
"Coba pikirkan dulu, jangan terburu-buru," jawab ku.
"Mana bisa Hana memikirkan sesuatu yang Hana tidak mengerti. Kasih petunjuk dongg kak," pinta Hana lagi.
"Baiklah kakak akan kasih petunjuk. Dengarkan baik-baik yah. Petunjuknya adalah Hana selalu bertemu dan melihat hal itu setiap harinya," ucap ku.
"Haaa? Bertemu? Melihat? Setiap hari?" Hana terlihat berpikir dengan keras.
"Awan? Jalan? Rumah? Baju? Sekolah? Pejalan kaki? Sepeda? Teman-teman? Kakak? Ibu?" tebak Hana lagi.
"Ya memang sih hal-hal tersebut adalah hal yang selalu kamu lihat setiap harinya, tapi bukan di antara hal-hal tersebut jawabannya," aku sedikit tersenyum mendengar jawaban dari Hana tadi. Begitu pun dengan ibu.
"Hmmm Hana nyerah deh," Hana kembali memasang wajah cemberut dan patah semangatnya itu.
"Hahaha yakin mau menyerah? Kakak kasih petunjuk lagi yah. Petunjuknya adalah sesuatu yang sangat dengan ibu," ucap ku lagi.
"Sesuatu yang sangat dekat dengan ibu?" Hana lalu terdiam sejenak lalu langsung berteriak, " ya !!!! Hana tau sekarang."
"Hahaha sepertinya kamu cukup yakin sekarang. Lalu apa jawabannya?" tanya ku.
"Hmmm kakak jangan terkejut yah..." ucap Hana dengan percaya diri.
"Ya tentu saja hahaha," aku tertawa melihat tingkahnya barusan.
"Jawabannya adalahhhh Bung....Nngaaa," ucap Hana dengan bersemangat.
"Yakin bunga?" tanya ku meyakinkan lagi.
***
__ADS_1
Bersambung