
Saat ini, kami sudah berada di warung bakso milik ayahnya Sofia. Saat ini, kami sedang menunggu pesanan kami datang.
"Oi Lang gimana persiapan UTS mu? Aman?" tanya Ruben sambil mengorek-ngorek lubang hidung dengan jari kelingkingnya.
"Yah seperti biasa, tidak ada yang tidak baik. Kau sendiri bagaimana?" tanya ku balik.
"Aku yah? Kalau aku sih gampang. Aku sudah membulatkan tekat ku," jawab Ruben.
"Membulatkan tekat? Maksudnya?" tanya ku yang masih belum paham.
"Iya aku sudah membulatkan tekat ku untuk sepenuhnya menyerahkan hasil UTS ku pada keberuntungan," ucap Ruben dengan muka masa bodohnya.
"Apa-apaan tuch? Maksud mu kau sudah menyerah yah? Kalah sebelum bertanding Hahahaha," ejek Ahsan.
"Haaa tentu saja bukan begitu. Aku ini seorang laki-laki yang benar-benar mempertaruhkan semuanya kepada takdir ku. Aku ini laki-laki yang siap menerima segala macam takdir yang menimpa ku," ucap Ruben dengan bangga.
"Ya ya ya. Terserah kau sajalah," timpal Ahsan.
Akhirnya pesanan kami lun datang. Berbarengan dengan itu, Sofia juga terlihat muncul dari arah depan. Seperti biasa, Sofia muncul dengan sepedanya.
"Eh Sofia," sapa Ruben.
"Halo Ben, semuanya," sapa Sofia balik.
"Baru pulang Sof?" tanya Ruben lagi.
"Iya ini hehehe. Tadi habis pulang sekolah ada beberapa hal yang harus dilakukan jadi pulangnya agak telat. Terus pas mau pulang, aku lihat kalian ada di sini. Ya udah aku mampir dulu ke sini. Sudah lama juga yah semenjak terkahir kalian makan di sini," ucap Sofia yang lalu mengangkat tangannya tanda memesan.
"Hahaha kalau aku jadi kamu, aku pasti akan mampir setiap hari ke sini. Aku akan memakan semua makanan yang belum terjual hahaha," ucap Ruben.
"Hihihihi bisa aja kamu. Oiya ngomong-ngomong gimana persiapan UTS kalian?" tanya Sofia.
"Kalau aku sudah tidak perlu memikirkannya lagi Sof. Aku sudah menyerahkan semuanya pada keberuntungan ku," jawab Ruben.
"Hihihihi lagi-lagi kau melakukannya lagi yah? Terakhir kali, aku mendengar kalimat semacam itu waktu kita masih SMP. Kamu memang sama sekali belum berubah ya," ucap Sofia.
"Oi San, Lang, kenapa kalian diam saja," ucap Ruben.
"Maaf maaf, habisnya rasa baksonya terasa semakin enak saja. Ini resep baru ya Sof?" tanya Ahsan.
"Hehe iya. Beberapa waktu yang lalu, ayah berhasil menemukan resep baru. Alhasil kini warung jadi semakin ramai hehehe," ucap Sofia.
__ADS_1
"Eh beneran? Wah aku sepetinya harus mulai memakannya deh," ucap Ruben yang memang dari tadi belum mulai memakan bakso yang sudah ada di hadapannya itu. Sedari tadi, ia sudah sibuk berbicara dan mengobrol dengan Sofia.
***
"Wah kenyang sekali... Rasa bakso yang baru ini memang semakin mantap saja..." ucap Ruben.
"Syukurlah kalau kamu suka hihihi," ucap Sofia.
"Oiya ngomong-ngomong bagaimana kalau habis UTS nanti kita pergi refreshing bersama-sama?" tanya Ruben.
"Haa apa-apaan tuch?" timpal Ahsan.
"Wah ide bagus tuh Ben... Aku juga udah lama sekali tidak pergi bersama kalian," ucap Sofia.
"Kalau kau Lang gimana?" tanya Ruben.
"Aku sih ikut-ikut aja," jawab ku.
"Berarti udah diputuskan yah. Terus besok kita mau pergi kemana?" tanya Ruben.
"Enaknya kemana yah? Hmmm..." ucap Sofia.
"Kau ada ide Lang?" tanya Ahsan.
"Eh aku? Aku tidak punya ide apa-apa kalau soal seperti itu. Aku benar-benar tidak tahu," ucap ku.
"Hahaha sudah ku duga jawaban mu akan seperti itu," ucap Ahsan.
"Ahaaaa... Aku punya ide nih," ucap Ruben tiba-tiba dan dengan wajah yang sangat antusias.
"Wah apa itu Ben? Dari ekspresi mu, sepertinya kamu telah menemukan ide yang bagus," timpal Sofia.
"Iya nih... Jadi kalian dengerin baik-baik yah hehehehe," ucap Ruben.
"Sudah cepat katakan apa ide mu itu? Gak usah banyak tingkah seperti itu," ucap Ahsan sinis.
"Iya iya. Gak usah kau bilang seperti itu, aku pasti akan bilang dengan sendirinya. Jadi, ide ku itu adalah pergi ke candi Borobudur, gimana?" tanya Ruben.
"Wah sepertinya asik tuh," timpal Sofia.
"Hmm boleh juga ide mu ini. Kenapa kau tidak menggunakan otak mu juga ketika di sekolah?" timpal Ahsan.
__ADS_1
"Haaa apa maksud mu? Berarti kau mengatakan kalau aku tidak pernah menggunakan otak ku di sekolah?" ucap Ruben.
"Ya memang kenyataannya seperti itu kan? Contohnya saja kau sudah menyerah dengan UTS dan lebih memilih untuk bergantung pada keberuntungan mu itu kan? Hahaha," Ahsan tertawa cukup keras.
"Apa bedanya dengan mu coba? Kau juga sama-sama tidak belajar dan lebih memilih untuk menyerah juga kan?" timpal Ruben.
"Tentu saja aku berbeda. Prinsip ku itu kan berapapun nilai yang aku dapat, asalkan masih lebih tinggi dari pada kau, itu semua tak masalah hahahaha," ucap Ahsan.
"Apa bedanya dengan ku coba? Prinsip ku juga hampir sama dengan mu itu," ucap Ruben.
"Hihihihi kalian tidak pernah berubah yah, selalu terlihat akrab begitu..." ucap Sofia sambil tersenyum.
"Akrab dari manaaaa?" sergah Ahsan dan Ruben bersamaan.
***
"Kalau begitu kami pulang dulu ya Sof," ucap Ruben.
"Oh iya Ben... Sering-sering mampir ke sini yah hehehe," balas Sofia.
"Siap Sof... Ya sudah sekalian nanti titip salam buat ayah mu yah... Dahh..." ucap Ruben.
"Iya hati-hati kaliannn," timpal Sofia.
Setelah itu, kami bertiga pun pergi dari warung bakso itu dan langsung menuju ke rumah kami masing-masing.
***
Setibanya di rumah, ketika aku baru saja membuka pintu depan, Alex ( kucing kecil yang waktu itu aku pungut di pinggir taman) langsung menyambut ku. Entah kenapa hal-hal seperti itu menambah kesan lucu pada anak kucing itu.
Aku lalu langsung menggendong Alex dan aku bawa ke tempat makanannya. Saat aku tiba, ternyata tempat makanannya masih lumayan penuh. Aku kira Alex menunggu kehadiran ku karena ia sudah kelaparan, ternyata bukan. Mungkinkah dia sebenarnya ingin mengajak ku bermain? Entahlah.
Aku lalu meletakkan Alex kembali ke lantai dan mengambil sebuah tali. Aku lalu menggoyang-goyangkan tali tersebut di hadapan Alex. Alex seketika itu juga langsung berlari dan melompat menjangkau ujung tali itu. Ia terlihat begitu gemas saat mulai menggigit dan menendang-nendang tali tersebut.
Aku lalu langsung mengelus-elus perut dan punggungnya. Bulu-bulu kecilnya terasa begitu lembut. Alex tampak begitu senang, ia lalu mulai menggigit jari telunjuk ku itu. Setelah itu, aku langsung menuju ke kamar ku untuk berganti pakaian dan juga untuk bersiap-siap mandi.
Sebelum itu, aku juga menyalakan lampu-lampu rumah terlebih dahulu. Sekarang ini sudah pukul 17.40, jadi sudah mulai terlihat gelap.
***
Bersambug.
__ADS_1