Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 112 : Futsal Babak 8 Besar


__ADS_3

Suara teriakan dari penonton langsung terdengar tatkala Didit menendang bola ke arah gawang meskipun hanya mengenai jaring sebelah luarnya saja. Sejauh ini, kelas 10-9 lebih mendominasi dalam penguasaan bola. Robi sangat mahir dan tenang dalam menjaga bola supaya tetap dalam penguasaan mereka.


Lagi-lagi 10-9 terlihat sedang membangun sebuah serangan baru lagi. Kali ini mereka bergerak dari sebelah kiri pertahanan kami. Seperti biasa, Robi yang menjadi mesin penggerak serangan dari kelas 10-9 itu.


Robi mengumpan satu dua dengan Adit yang mana dijaga dan dibayang-bayangi oleh Ahsan dan Aji. Sementara itu, aku menjaga Didit agar supaya ia tidak memiliki cukup ruang kosong.


Pada akhirnya, Robi yang membawa bola itu sendirian hingga ke depan gawang kami, dapat dihalau oleh Renaldi. Renaldi sendiri mendapat sebuah julukan dari komentator pertandingan yaitu sebagai tembok berlapis baja dari kelas 10-7. Julukan itu tentu masuk akal melihat peforma dari Renaldi yang sangat bagus ketika mengawal pertahanan kita.


Ia sejauh ini menjadi satu-satunya pemain yang belum pernah diganti sepanjang cabang futsal ini digelar. Itu artinya ia selalu ikut bermain di setiap menit pertandingan. Sungguh statistik yang sangat luar biasa. Itu juga menunjukkan bahwa Renaldi sudah memiliki stamina yang bagus.


Kali ini, kami mendapat kesempatan untuk melakukan serangan balik. Bola operan yang ditujukkan kepada Robi dengan mudah dibaca oleh Aji karena pola permainan 10-9 sudah mulai bisa ditebak, yaitu selalu berfokus pada Robi.


Aji yang berhasil mencuri bola itu pun langsung lari di sebelah kiri area pertahanan lawan. Sementara itu, aku dan Ahsan ikut berlari sambil mencari ruang kosong agar Aji punya pilihan untuk mengumpan atau mau langsung ditendang ke gawang.


Aku lalu mengangkat tangan ku tanda meminta umpan. Namun, Aji terlihat seperti akan langsung menembaknya dari pada mengumpan. Benar saja, setelah ia berhasil melewati satu pemain bertahan lawan, Aji langsung menembak dari sisi kiri pertahanan lawan. Bisa dibilang, sudut tembakan dari posisinya adalah sudut yang sempit. Entah kenapa, hal itu terkesan seperti memaksakan.


Jebretttt. Tembakan yang keras itu hanya menghantam dinding di belakang gawang. Tendangannya masih cukup jauh dari gawang milik 10-9. Tidak biasanya Aji terlihat begitu memaksakan tembakannya. Seperti bukan dirinya saja.


Ditengah pertandingan, tiba-tiba saja kaki ku kram. Aku pun langsung meminta pergantian pemain. Tomi lalu terlihat bersiap-siap di pinggir lapangan untuk melakukan pergantian pemain dengan ku.


Aku yang sudah kesulitan berjalan pun harus dibantu Ahsan untuk meninggalkan lapangan pertandingan. Setelah sampai di pinggir lapangan, aku langsung duduk dan meluruskan kaki ku.


"Kau kenapa Lang?" tanya Calvin yang langsung menghampiri ku.

__ADS_1


"Sepertinya kram Vin. Kaki ku rasanya tegang sekali," jawab ku.


Calvin dan Fahmi lalu terlihat mencari pertolongan kepada panitia. Setelah itu, panitia bagian P3K pun langsung terlihat datang kemari untuk memeriksa kaki ku.


***


Pritttt. Bunyi peluit tanda berakhirnya babak pertama akhirnya berbunyi. Skor saat ini masih sama kuat 0-0.


Meskipun baru satu babak, wajah Ahsan dan Aji terlihat lebih lelah dari pada biasanya. Mungkin hal itu karena mereka lebih sering diserang oleh 10-9. Mereka juga harus bergantian menjaga pergerakan dari Robi yang sangat berbahaya itu.


"Kaki mu sudah baikan Lang?" tanya Aji yang baru saja duduk di samping ku setelah pertandingan babak pertama usai.


"Tenang saja, sekarang semuanya sudah baik-baik saja," jawab ku.


"Kau kelihatan cape sekali Ji. Tidak seperti biasanya,"


"Iya, baru babak pertama saja capenya sudah seperti ini. Menjaga Robi memang bukan tugas yang mudah. Ia sangat gesit sekali," jawabnya yang masih terlihat ngos-ngosan itu.


"Aku sepertinya masih belum kuat jika langsung bermain di babak kedua. Lang, tolong gantikan aku dulu ya," ucap Ahsan yang juga terlihat ngos-ngosan. Aku tidak percaya Robi seorang sudah bisa membuat dua orang yang bisa dibilang memiliki stamina yang cukup baik ini terlihat begitu kelelahan hingga mereka berdua ngos-ngosan seperti ini.


"Oh oke. Aku juga sudah bisa bermain saat ini," jawab ku.


"Aku juga... Aku juga tolong gantikan dulu ya di awal babak kedua ini. Aku masih belum sanggup juga jika langsung bermain," ucap Aji.

__ADS_1


"Jadi, siapa yang mau menggantikan Aji?" tanya Ruben.


"Aku... Aku saja gak papa," ucap Calvin sambil mengangkat kedua tangannya.


"Wahh bagus Vin... Semangat," Ruben memberi semangat sambil menunjukkan senyum sumringahnya itu.


Karena terlalu fokus terhadap pertandingan futsal ini, aku jadi melupakan soal Cindy. Aku pun lalu memeriksa kerumunan penonton dari kelas ku untuk memeriksa apakah Cindy benar-benar datang menonton atau tidak seperti yang dikatakan Aji tadi sebelum pertandingan.


Akhirnya, aku menemukan keberadaan Cindy. Ia terlihat sedang duduk di barisan paling belakang. Seperti biasa, ia saat ini terlihat sedang membaca sebuah buku. Aku belum tahu apakah ia masih membaca buku saat pertandingan sedang berlangsung atau hanya saat istirahat seperti saat ini saja. Entahlah.


***


Akhirnya pertandingan babak kedua sebentar lagi akan dimulai. Para pemain dari kedua belah pihak pun telah memasuki lapangan pertandingan. Susunan pemain yang akan turun di babak kedua ini mengalami cukup banyak perubahan. Ruben, aku, dan Renaldi akan langsung bermain sementara Aji dan Ahsan akan digantikan terlebih dahulu oleh Calvin dan Tomi. Jika aku ingat-ingat lagi, mungkin ini adalah momen pertama ku bermain bersama Tomi di festival kali ini.


Sebelum pertandingan benar-benar dimulai, aku iseng-iseng melirik ke arah Cindy. Aku ingin mengetahui apakah ia masih membaca buku atau lebih memilih untuk melihat pertandingan kelas kita. Saat aku melihat ke arahnya, ternyata Cindy sudah menutup bukunya dan dengan cukup serius melihat ke arah lapangan. Untuk sesaat, tatapan kedua mata kami pun bertemu. Aku langsung buru-buru memalingkan pandangan ku kembali ke dalam lapangan.


Saat tatapan kami bertemu tadi, rasanya jantung ku berdetak menjadi lebih kencang dari pada biasanya. Rasanya seperti hentakan yang sangat keras dan berhenti sesaat didalam dada ku sana. Walaupun begitu, aku merasa begitu senang dan lega. Aku pun lalu tersenyum tipis.


Pritttt. Di saat aku sedang memikirkan kejadian tadi itu, tiba-tiba peluit tanda dimulainya babak kedua pun dimulai. Bola kali ini dimulai dari kami.


Dengan pemain yang berbeda, pola permainan kami pun jadi berbeda. Kali ini yang bertugas untuk menjaga pergerakan Robi hanyalah aku seorang. Selain itu, saat kami sedang menguasai bola seperti sekarang ini, kami juga tidak boleh terlalu lama menahan bola. Sebisa dan secepat mungkin kami harus segera mengoper bola kepada rekan yang sedang dalam posisi bagus atau kosong.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2