Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 97 : Makan Siang


__ADS_3

Setelah ngobrol cukup lama dengan pak Ramlan, akhirnya trotoar yang tadinya tergenang air, kini sudah tidak lagi. Aku pun langsung berpamitan dengan pak Ramlan untuk langsung pulang ke rumah.


"Ya sudah ya pak, saya mau pulang dulu," ucap ku sambil sedikit melempar senyum tipis.


"Oh iya, eh ngomong-ngomong kamu jalan kaki?" tanya pak Ramlan.


"Iya pak, tadi habis mampir di tempat temen terus jalan-jalan aja. Eh gak terasa sampai sini," jawab ku.


"Wah kamu memang benar-benar mirip bapak mu yah. Dulu bapak mu juga sekali jalan kaki. Mau dekat mau jauh, dia pasti lebih suka berjalan kaki dari pada harus menggunakan kendaraan," ucap pak Ramlan lagi.


"Wah begitu ya pak, ya sudah saya pamit dulu pak, sampai jumpa lagi," ucap ku lalu langsung bergegas meninggalkan kios pulsa itu.


"Iya dek, hati-hati," jawab pak Ramlan sambil melempar senyum dan melambai-lambaikan tangannya.


Meskipun hujan kini telah reda, akan tetapi aromanya masihlah tercium hingga saat ini. Genangan yang tadi cukup tinggi, kini berangsur-angsur mulai surut. Jalanan yang tadinya sepi, kini sudah mulai kembali ramai.


Meskipun begitu, langit belumlah sepenuhnya cerah. Langit masih saja bewarna gelap mendung walaupun baru saja menumpahkan "air matanya".


Jarak dari kios pulsa tadi ke rumah ku sekitar 3 km. Aku juga tidak sadar sudah berjalan cukup jauh sejak aku keluar dari toko buku tadi. Rasanya, aku baru saja kembali dari petualangan ku.


Aku juga kini harus berhati-hati saat melangkah. Aku harus benar-benar memperhatikan langkah ku jika tidak ingin jatuh terpeleset karena kondisi jalan saat ini lumayan licin.


***


"Eh Sofia?" ucap ku saat tak menyangka dan tak sengaja bertemu Sofia yang baru saja keluar dari sebuah tempat les musik.


"Eh Galang... Dari mana Lang?" ucap Sofia.


"Aku habis jalan-jalan, ini mau pulang ke rumah," jawab ku.


"Eh jalan-jalan? Di cuaca yang seperti ini?" tanya Sofia agak keheranan.


"Iya, tadi aku tiba-tiba kepikiran aja pas habis dari toko buku," jawab ku.


"Ternyata memang benar yah, kamu itu orang yang aneh. Sejak pertama kali kita bertemu, kamu memang selalu begitu hihihihi," Sofai terlihat tertawa kecil.


"Kamu sendiri mau kemana setelah ini?" tanya ku.


"Rencananya aku mau makan siang dulu nih, mau ikut?" ajak Sofia.


"Eh makan siang? Bukankah ini masih terlalu dini untuk makan siang?" tanya ku.


"Hihihi gak papa, sesekali tidak apa-apa kan? Gimana kamu mau ikut?" ucap Sofia lagi.

__ADS_1


"Mau makan siang dimana emangnya?" tanya ku.


"Di dekat sini, di sana kamu bisa memilih menu makanan yang lumayan banyak," ucap Sofia lagi.


"Boleh," ucap ku.


"Oke, ayo kita berangkat sekarang, tapi tunggu dulu ya, aku mau ambil sepeda ku dulu," Sofia lalu pergi kembali ke arah parkiran untuk mengambil sepedanya.


"Ayo Lang," ucap Sofia sambil membuat gimik supaya aku cepat naik memboncengnya.


"Ha? Aku di belakang?" tanya ku.


"Hehehe iya, atau kamu mau di depan?" tanya Sofia.


"Kalau begitu aku mending di depan saja. Cukup sekali saja aku menahan malu karena harus membonceng pada perempuan seperti pada waktu itu," ucap ku.


"Hahaha kenapa harus malu? Memangnya ada yang salah dengan seorang laki-laki membonceng pada seorang perempuan?" tanya Sofia.


"Aku tidak tahu itu salah atau benar, tapi aku hanya merasa bahwa itu bukanlah diri ku ketika harus membonceng pada seorang perempuan," jawab ku.


"Hihihihi, ya sudah ini," Sofia lalu turun dari sepedanya dan mempersilahkan ku untuk mengendarai sepedanya.


Aku pun lalu langsung menaiki sepeda itu. Sofia kali ini akan duduk di belakang (boncengan sepeda).


"Lurus aja terus. Nanti pas di perempatan itu belok kiri," jawab Sofia.


***


"Kemana lagi nih," tanya ku.


"Itu, di ujung jalan sana belok kanan. Kita udah sampe," ucap Sofia sambil menunjuk-nunjuk ujung jalan di depan sana.


***


Akhirnya, kami pun sampai di tempat makan yang tadi diarahkan Sofia. Kami pun lalu langsung mencari tempat untuk duduk dan memilih makanan.


Sofia bilang warung makan masih baru, mungkin baru sekitar 2 mingguan, jadi masih belum terlalu ramai dan tentu saja masih banyak promo yang berlaku. Suasana di siang hari ini pun masih terbilang sepi. Dari 15 meja yang tersedia, baru 4 meja saja yang terlihat sudah ada pelanggannya, termasuk satu meja yang baru saja kami tempati ini.


Ketika kamu baru saja menempati meja, salah satu pelayan dengan cekatan langsung membawakan daftar menu makanan dan minuman kepada kami.


"Kamu mau makan apa Lang?" tanya Sofia.


"Bentar aku lihat-lihat dulu," jawab ku.

__ADS_1


"Karena masih baru, nanti ada promonya loh," ucap Sofia.


"Apa promonya?" tanya ku.


"Kalau kita makan berdua atau lebih dari itu, makan akan ada potongan harga. Semakin banyak orang yang makan bareng, semakin banyak potongan harganya" ucap Sofia.


"Wah berarti kita undang orang lagi aja biar potongannya lebih banyak? Hahahaha," ucap ku sambil sedikit tertawa.


Aku pun lalu mulai membolak-balik daftar menu tadi. Memang benar kata Sofia kalau di warung makan ini menyediakan banyak sekali pilihan baik dari jenis makanan maupun minumannya.


Setelah berpikir cukup lama, aku pun akhirnya memutuskan untuk memesan satu Cheese burger saja dengan minuman teh bersoda. Sementara itu, Sofia terlihat memesan Spageti dan jus alpukat dingin.


Setelah menulis pesanan di sebuah kertas yang telah disediakan, Sofia lalu menyerahkan kertas tersebut ke arah kasir untuk melakukan pemesanan sekaligus pembayaran. Karena kita makan berdua, maka kita mendapatkan potongan harga sebanyak 5 ribu rupiah. Setelah membayar, Sofia pun kembali ke sini untuk menunggu makanannya matang.


"Berapa tagihan ku Sof?" tanya ku.


"Udah ga usah Lang. Biar aku saja yang bayar," ucap Sofia.


"Eh kenapa begitu?" tanya ku penasaran.


"Aku kan tadi yang mengajak mu makan siang, jadi biar aku saja yang membayarnya," ucap Sofia.


"Eh jangan begitu Sof. Aku jadi gak enak... Kalau begitu biar aku saja yang membayarnya, semuanya tadi habis berapa?" ucap ku yang merasa tidak karena ditraktir oleh Sofia.


"Sudah gak papa Lang. Lagian kamu gak enak sama siapa? Hihihihi," Sofia tertawa tipis.


"Tentu saja sama kamu," ucap ku.


"Kalau begitu tak usah terlalu dipikirkan saja hihihihi. Lagi pula aku senang kok bisa makan bareng kamu," ucap Sofia.


"Tapi..." ucap ku lirih.


"Sudah gak papa hihihi," Sofia kembali tertawa kecil.


"Kalau begitu, makasih ya Sof..." ucap ku.


"Iya... Sama-sama," jawabnya.


"Oiya, tadi kamu ngomong-ngomong habis les apa?" tanya ku.


"Oh itu... Aku habis les piano sama biola," jawab Sofia.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2