Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 128 : Datang Ke Rumah


__ADS_3

"Ayo kita sebelum pulang ke rumah, pergi ke mana gitu buat ngerayain pencapaian tadi," ucap Aji.


"Boleh, mau kemana emang?" jawab Fahmi.


"Nah ini... Kan aku juga nanya, kenapa malah dijawab dengan pertanyaan juga? Hahaha," timpal Aji.


"Aku ada ide," tiba-tiba Ruben berucap.


"Apa tuh?" tanya Aji.


"Kita pergi ke rumah Galang aja gimana?" jawab Ruben.


"Eh ke rumah ku? Kenapa?" tanya heran. Aku sungguh terkejut tiba-tiba Ruben mengusulkan untuk merayakan pencapaian kota di rumah ku.


"Sepertinya kalau merayakan kemenangan ini dan dengan ditemani makanan rumahan rasanya akan sangat menyenangkan. Apalagi, rumah mu kan cukup luas pasti juga bakalan tambah nyaman lagi hehehe," ucap Ruben dengan tersenyum.


"Di rumahnya Galang yah? Hmmm sepertinya ide yang menarik," timpal Aji.


"Wah kebetulan tuh. Aku juga ingin melihat bagaiman anggota keluarganya yang lain. Apakah semuanya memiliki tatapan mata yang sama menjengkelkannya dengan tatapan dingin milik Galang? Hahaha," ucap Calvin.


"Tapi menurut ku, tidak satupun baik itu ibu maupun adiknya yang mirip dengan Galang. Sepertinya cuma Galang yang sangat pendiam dan agak kaku," ucap Ruben.


"Berarti sudah diputuskan yah?" timpal Aji.


"Eh sudah fiks ini?" tanya ku yang masih keheranan.


"Ya, sudah fiks," ucap Aji dengan senyum lebar di wajahnya.


"Ya sudah ayo kita segera ke sana. Mumpung belum terlalu sore juga ini," ucap Fahmi.


"Letssss gooo," ucap Ruben.


Aku, Ruben, Ahsan, Fahmi, Calvin, Aji, Renaldi, dan juga Tomi kini langsung bergegas menuju ke rumah ku. Karena beberapa dari kami ada yang membawa sepeda, mereka pun menuntun sepeda milik mereka untuk ikut berjalan bersama kita.


"Berarti rumah mu gak terlalu jauh ya Lang?" tanya Aji.


"Iya, gak begitu jauh. Gak sampe satu kilo kok. Makanya aku jalan kaki," jawab ku.


"Kenapa gak naik sepeda aja? Kan jadi lebih cepet?" tanya Calvin.


"Entahlah. Rasanya, aku lebih suka ketika berjalan kaki dari pada harus naik sepeda," jawab ku.

__ADS_1


"Aku tidak terlalu mengerti apa yang kau maksud, tapi sepertinya aku sedikit mengerti apa yang kau rasakan," ucap Ruben.


"Haaa? Apa maksud perkataan mu itu? Kau sedang mengantuk yah?" ucap Ahsan.


"Kau itu yang mungkin sedang mengantuk," timpal Ruben.


"Oiya kalian sudah tahu toko buku itu?" ucap ku sambil menunjukkan toko buku milik nenek Maria (Neneknya Cindy).


"Mmm ya aku tau kenapa memangnya?" tanya Fahmi.


"Ya sudah kalau sudah tahu," ucap ku.


"Haaaaa? Apa-apaan itu?" timpal Fahmi.


"Eh ada yang aneh? Kan kau sudah tahu kan? Terus apa lagi yang harus kau katakan pada mu?" tanya ku keheranan.


"Aku kira kau akan memberikan informasi selain dari pada sekedar tau atau tidak tahu," ucap Fahmi.


"Maaf, maaf," jawab ku.


"Tapi, aku baru tahu kalau pemilik toko buku itu namanya nenek Maria. Selama ini, aku hanya mengetahui tokonya saja. Aku juga jarang beli buku hahahaha," ucap Fahmi sambil tertawa lebar.


"Kelihatan sekali kalau kau memang malas baca buku," timpal Ruben.


"Mana mungkin aku membaca hal yang sangat membosankan seperti itu," ucap Ruben.


"Ternyata kau malah lebih parah," timpal Fahmi.


"Oiya apa kalian sudah tahu kalau Cindy juga sekarang tinggal di situ?" tanya ku lagi.


"Aku sudah mendengarnya sih, tapi jujur aku juga belum pernah berkunjung lagi ke toko buku itu. Aku juga jarang baca buku juga. Jadi, cuma mendengar kabarnya saja," jawab Calvin.


"Di rumah kau tinggal bersama siapa aja Lang?" tanya Aji.


"Cuma adik sama ibu ku saja," jawab ku.


"Oh... Ayah mu memang kemana?" tanya Aji lagi.


"Ayah ku sudah lama meninggal, mungkin sekitar 7 tahunan yang lalu," jawab ku.


"Eh sudah meninggal? Wah maaf ya Lang aku gak tau," ucap Aji dengan nada menyesal.

__ADS_1


"Iya gak papa kok," jawab ku.


***


Akhirnya kami pun sampai di rumah ku. Aku lalu langsung menyuruh semuanya untuk masuk dan duduk-duduk sambil istirahat terlebih dahulu. Sementara itu aku akan mengganti pakaian ku terlebih dahulu. Setelah itu, aku akan membuatkan mereka minuman dan membawakan makanan kecil yang masih ada. Aku harap masih ada beberapa makanan kecil yang tersisa di dapur.


***


"Oiya ngomong-ngomong ibu sama adik mu dimana Lang? Kok dari tadi gak ada. Mereka lagi pergi kah?" tanya Aji.


"Oh mereka masih berada di toko bunga. Ibu ku membuka toko bunga setelah ayah ku meninggal. Setiap hari toko ibu ku buka sampai sekitar jam 6. Adik ku juga akan berada di sana jika tidak ada kegiatan. Jadi, saat ini ibu dan adik ku masih berada di toko bunga. Paling mereka akan pulang saat jam menjelang makan malam," jawab ku.


"Eh coba dengar nih ada berita unik. Puluhan siswi perempuan mendadak kerasukan setelah salah satu pohon tua di sekolah mereka di tebang. Menurut kalian gimana?" tiba-tiba Ahsan membacakan sebuah berita yang sedang ia baca lewat ponselnya itu.


"Kalau aku sih percaya gak percaya sih kalau ada orang yang kesurupan gitu," ucap Aji.


"Kalau aku percaya. Mungkin aja setannya pingin kenalan aja tuh, jadi masuk ke tubuh manusia lain agar supaya suara mereka bisa di dengar. Kan kalau mereka masih dalam wujud aslinya, suara mereka gak bakalan bisa di dengar sama orang normal," jawab Ruben.


"Entah kenapa aku sudah tahu kalau Ruben pasti akan percaya sama hal-hal yang begituan hahaha. Ternyata benar," ucap Calvin.


"Kalau kau sendiri gimana Vin?" tanya Ruben.


"Gimana ya? Mmm aku juga sama sih kaya Aji. Percaya gak percaya," jawab Calvin.


"Kalau kau Lang? Kenapa diam saja? Kau sakit perut?" ucap Ruben.


"Oh engga. Aku engga sakit perut kok," jawab ku.


"Kalau begitu jawab lah. Tanggapan mu gimana soal berita tadi?" tanya Ruben.


"Entah kenapa aku tidak percaya. Rasanya tidak masuk akal saja kalau mereka kerasukan di saat yang bersamaan," jawab ku.


"Hahaha jawabannya Galang banget," ucap Aji.


Tak lama setelah itu, ibu dan adik ku pulang. Teman-teman ku lalu langsung memasang senyuman di wajah mereka. Tak terkecuali Tomi dan Renaldi yang biasanya memasang wajah datar cenderung serius itu.


"Wah ramai sekali. Wah maaf ya, tante gak tau kalau kalian dateng, jadi gak bawa makanan. Galang juga gak mau ngomong kalau teman-temannya dateng," ucap ibu ku sambil ikut tersenyum.


"Gak papa kok tante. Kami ke sini juga tadi mendadak. Gak usah repot-repot juga hehe," ucap Aji yang masih tersenyum.


"Enggak repot kok. Ya sudah tunggu dulu ya, biar tante siapin makan malam aja yah..." ibu dan adik ku lalu langsung pergi menuju dapur.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2