Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 201 : Ruben Si Master Hitung


__ADS_3

Sepulang sekolah aku, Ahsan, dan Ruben berencana untuk makan di tempatnya ayahnya Sofia. Kami pun saat ini tengah menunggu bel pulang sekolah yang dari tadi semakin ditunggu semakin terasa lama.


Setelah hampir seharian, siswa baru yang bernama Alex itu terlihat masih sangat mengandalkan uangnya. Ia selalu meminta Ruben untuk membelikan makanan dan minuman di masing-masig istirahat pertama dan kedua. Di setiap istirahat, Ruben selalu diberi uang sebanyak 200 ribu. Berarti untuk hari ini, Ruben telah menerima uang sebanyak 700 ribu dari Alex. Aku tidak tahu berapa banyak uang saku Alex seharinya. Meskipun ia telah memberikan Ruben uang sebanyak itu, akan tetapi sepertinya uang yang ada di dompetnya masihlah sangat banyak.


Tet tet tet. Akhirnya bel tanda pulang sekolah berbunyi. Kami pun lalu langsung bersiap-siap untuk pulang.


***


Setibanya di warung bakso milik ayahnya Sofia, seperti biasa kami langsung memesan 3 buah mangkuk bakso, 2 es teh, dan satu es jeruk. Setelah itu kami langsung duduk di salah satu meja yang masih kosong. Suasana warung pada sore hari ini cukup ramai. Meja yang kami tempati ini juga merupakan meja terakhir yang masih belum terpakai saat kami datang tadi.


"Hahahaha hari ini aku yang akan traktir kalian," ucap Ruben yang mana kini tengah memamerkan uang hasil pemberian Alex tadi.


"Widihhh banyak juga ya kau dapetnya, ngomong-ngomong tadi kau dapet uang berapa dari Alex?" tanya Ahsan.


"700 ribu hahaha. Kau tau apa yang aku belikan tadi pas dia minta dibelikan makanan pas istirahat pertama dan kedua?" tanya Ahsan sambil tersenyum.


"Apa emang?" tanya Ahsan penasaran.


"Aku belikan dia roti isi cokelat biasa yang harganya 3000 sama satu gelas es teh manis seharga 2000. Nah kan dia setiap istirahat ngasih uang 200 ribu, sementara pengeluaran ku cuma 5000. Berarti kan satu kali istirahat aku untuk 205 ribu kan? Nah berarti kalau 2 kali istirahat berarti aku untuk 420 ribu. Belum lagi pas awal tadi dia ngasih 300 ribu buat mengambil alih tempat duduknya. Jadi bila di total, semuanya yang aku dapatkan ada 850 ribu hahahaha," ucap Ruben yang terlihat begitu kegirangan tersebut.


"Bagusss... Pinter banget sih kau ini," ucap Ahsan sambil menempelkan jempol kanannya tepat di hidung Ruben. "Pantes kau dapat nilai 0 di mata pelajaran matematika," tambah Ahsan.


"Haaa? Kenapa sih? Ada yang salah?" tanya Ruben yang seakan-akan merasa tidak ada yang salah dengan hitungannya tadi.


"Otak kau itu yang salah. Kalau kau jadi pedagang dan hitung-hitungan mu seperti tadi, aku yakin baru 2 minggu jualan kau udah jual satu ginjal mu," ucap Ahsan.


"Pftttt hahahaha," aku tertawa. Aku sudah tidak kuat lagi menahan tawa ku ini melihat tingkah mereka berdua.


"Kenapa malah kau yang ketawa Lang? Kau mau ikut-ikutan mengejek ku yah?" timpal Ahsan.


"Bukan, bukan seperti itu. Aku hanya hahaha... Aku hanya tidak kuat melihat tingkah kalian berdua yang seperti itu hahaha," ucap ku yang masih belum bisa mengendalikan diri.

__ADS_1


"Hahaha Galang pasti saking herannya sama hitung-hitungan mu sampai tertawa terbahak-bahak seperti itu," timpal Ahsan.


"Permisi, tiga bakso, dua es teh, sama satu es jeruk yah?" tanya salah seorang pelayan yang datang dengan sudah membawakan pesanan kami tadi.


"Iya mas, betul," timpal Ahsan.


Setelah itu, kami pun lalu langsung menyantap makanan pesanan kami itu dan untuk sejenak melupakan tentang obrolan kami sebelumnya.


***


Sesaat setelah kami selesai makan, tiba-tiba saja Sofia datang ke warung.


"Eh ada kalian... Kebetulan nih," ucap Sofia saat pertama kali menyadari kehadiran kami bertiga.


"Kebetulan apa nich?" timpal Ahsan dengan logat khasnya.


"Kebetulan aku mau makan, jadi kalian jangan pergi dulu yah hehehe," ucap Sofia degan tersenyum. Sejak pertama kali aku melihat senyuman milik Sofia, rasanya tidak ada yang berubah sejak saat itu.


"Oh itu... Gampang lachh," jawab Ahsan dengan logat khasnya.


"Orangnya sih lumayan nyebelin. Ketika pertama kali datang, ia langsung merebut tempat duduk ku," timpal Ruben.


"Loh kok gitu? Wah itu sih nyebelin banget. Terus kamu lawan? Apa kamu biarin aja?" tanya Sofia.


"Awalnya si aku lawan, tapi..." ucap Ruben dengan tidak melengkapi kalimatnya itu.


"Tapi apa Ben?" tanya Sofia penasaran.


"Tapi pada akhirnya Ruben memberikan tempat duduknya itu padanya dengan dispensasi uang sebesar 300 ribu," ucap Ahsan yang mana menjelaskan tentang kalimat Ruben yang belum lengkap tadi.


"Haaa? Dia bayar 300 ribu buat dapetin tempat duduk kamu? Wah itu sih bener-bener gila..." ucap Sofia yang masih seakan tak mempercayainya.

__ADS_1


"Tak hanya sampai di situ saja loh Sof, bahkan Ruben sampai dua kali disuruhnya untuk membelikan makanan dan minuman sewaktu istirahat pertama dan kedua," tambah Ahsan.


"Ha yang bener? Terus kamu gimana Ben? Mau?" tanya Sofia.


"Tentu saja Ruben mau. Orang dia dikasih uang 200 ribu per istirahat untuk membelikan orang baru itu makanan dan minuman dan kembaliannya untuk Ruben. Ya jelas mau lah Ruben," timpal Ahsan.


"Mau bagaimana lagi... Itu semua kan uang loh... Ingat baik-baik... U... Ang... Uang," timpal Ruben membela diri.


"Hahaha iya iya, kau gak salah kok. Hanya saja itu terlihat kalau kau itu gak punya harga diri," timpal Ahsan.


***


Setelah selesai, kami bertiga pun langsung pulang menuju ke rumah masing-masing. Kami pun lalu saling berpamitan, termasuk dengan Sofia.


Di saat dalam perjalanan pulang, tiba-tiba saja aku kembali mengingat tentang si anak baru itu. Aku hingga saat ini masih belum mengerti kenapa ia terlihat begitu menonjolkan kekayaannya yah? Ditambah lagi penampilannya juga yang terlihat begitu mewah. Aku tau itu semua adalah haknya, akan tetapi sepertinya ia melakukannya dengan tujuan tertentu.


***


Saat aku sudah hampir sampai di rumah, aku lalu tiba-tiba kepikiran untuk mampir terlebih dahulu ke toko bunga. Entah kenapa aku tiba-tiba ingin melihat Hana, ibu, dan bunga-bunga.


"Eh kakakk?" tukas Hana yang menyadari ku. Ia lalu langsung berlari ke arah ku dan langsung memeluk ku.


"Wah kakak baru pulang? Sore juga yah? Udah mau gelap begini baru pulang," ucap Hana setelah selesai memeluk ku.


"Iya kakak tadi soalnya mampir dulu ke warungnya ayahnya kak Sofia sama kak Ruben dan kak Ahsan," jawab ku.


"Wah habis makan bakso dong?? Wah enaknya..." ucap Hana.


"Hehehe kamu mau?" tanya ku.


"Mau mau mau mauuu," timpal Hana.

__ADS_1


***


Bersambug


__ADS_2