
Setelah pulang dari kediaman kakek, kami bertiga tidak langsung pulang. Kami menyempatkan untuk ziarah ke makam ayah. Cuaca sangat terik, karena kami sampai di pemakaman ayah sekitar pukul 12.30. Sebelumnya, kami sempat membeli bunga sewaktu menuju kesini.
Kami berdoa di depan makam ayah. Kami pun bercerita bahwa kami habis mengunjungi kakek-nenek. Aku tidak tahu apakah ayah akan mendengarkan cerita kami atau tidak. Akan tetapi, aku harap ayah akan mendengarkannya. Aku harap ayah tidak kesepian di sana.
Setelah selesai berziarah, kami berencana untuk mencari tempat makan untuk makan siang. Kami pun berdiskusi sebentar untuk menentukan tempatnya. Akhirnya, usulanku diterima. Aku mengusulkan untuk makan bakso di tempat Sofia. Selain karena memang rasanya yang enak aku juga ingin sekalian melihatnya. Entah kenapa aku merasa ingin sekali bertemu dengannya.
Kami pun langsung bergegas menuju ke sana. Jalanan di hari ini pun tak kalah macet dari hari kemaren. Kami sudah menduganya karena memang hari ini masih weekend.
Akhirnya kami sampai di depan warung bakso ayahnya Sofia. Setelah memarkirkan mobil, kami langsung turun dan memesan bakso.
"Silahkan mau pesan apa bu?" tanya ayah Sofia.
"Bakso 2 sama mie baksonya satu. Minumannya es teh 3," jawab ibuku.
"Baik silahkan ditunggu sebentar ya bu..."
Kami bertiga pun menunggu sejenak sambil mengobrol ringan. Sambil mengobrol aku mencoba untuk menemukan Sofia, tapi sepertinya ia sedang tidak ada di sini. Entah kenapa aku merasa sedikit kecewa jika tidak bisa bertemu dengannya hari ini. Sepertinya, ini pertama kalinya juga aku merasa kecewa jika tidak bertemu seseorang.
Akhirnya pesanan kami datang, dan Sofia pun belum kelihatan. Kami lalu menyantap pesanan kami masing-masing. Aku dan Hana yang memesan bakso, sementara ibu memesan mie bakso.
Kami makan dengan cukup lahap, mungkin karena kami merasa sudah cukup lapar. Hingga kami selesai menyantapnya, Sofia tetap tidak kelihatan. Mungkin dia sedang tidak di sini. Aku merasa sedikit kecewa.
__ADS_1
Lalu ibu pun membayar makanan kami lalu langsung bergegas kembali ke rumah. Akan tetapi, aku meminta pulang jalan kaki saja sekalian juga, aku mau mampir ke mini market. Aku pun berpisah dari ibu dan Hana dari sini.
Aku mulai berjalan sendiri menuju mini market. Sambil berjalan, pikiranku terbagi menjadi dua, satu memikirkan tentang angket ekstrakulikuler, yang satu lagi memikirkan tentang Sofia.
Sejak pertama kali ia datang ke rumah, aku selalu memikirkannya setelah itu. Sepertinya aku ingin menjadi temannya, maka dari itu aku ingin bertemu dengannya untuk menanyakan apakah ia mau menjadi temanku atau tidak. Selain itu, aku juga ingin melihat senyum milik Sofia lagi.
***
Waktu kecil dulu, saat berjalan di waktu malam, aku selalu berpikir bahwa bulan selalu mengikutiku. Kemana pun aku melangkah, bulan selalu berada di samping belakangku. Bulan seperti sedang mengawasiku. Bulan juga terlihat tidak pernah marah. Kalau di ibaratkan orang, mungkin bulan adalah orang yang baik, tenang, bijaksana, dan anggun. Karena sebab itulah, aku sangat menyukai bulan.
Aku lebih menyukai malam dari pada siang. Aku tidak pernah takut akan sunyinya malam, sebaliknya itu malah membuatku sangat nyaman. Bagiku, semakin larut malam semakin menenangkan.
Suara alam akan sangat jelas terdengar ketika malam. Terkadang, kau bisa mendengar suara tangisan yang datang dari sisi kota yang lain yang terbang bersama angin. Bunyi-bunyian dari serangga, daun-daun yang saling bergesekan terkena angin, dan suara deru kereta api adalah sebagian kecil dari nyanyian malam. Aku tidak punya alasan untuk takut, ataupun benci pada malam.
***
Nama guru olahraga kelas kami adalah pak Budi. Tingginya mungkin sekitar 180 cm dan potongan rambutnya pendek rapih. Pak Budi terlihat selalu mengalungkan sebuah peluit.
Pada pertemuan pertama kali ini, seperti pada umumnya, pak Budi melakukan perkenalan singkat kemudian mengecek kehadiran kami dengan memanggil nama kami satu per satu.
Materi pertama hari ini adalah lari sejauh 3 km. Tujuan dari lari 3 km ini adalah untuk mendapatkan kembali kebugaran kami setelah libur panjang setelah lulus SMP.
__ADS_1
Kami pun berbaris. Pak Budi memberikan aba-aba, "satu...dua...prittt..." Bersamaan dengan suara peluit itu, kami mulai berlari.
Awalnya kami berlari masih bersamaan, akan tetapi setelah menempuh sekitar 500 meter, sudah mulai terpisah-pisah. Aji sang wakil ketua kelas memimpin paling depan. Aku berada di belakangnya persis, sekitar 20 meter.
Setelah sekitar satu km, terlihat banyak yang sudah kehabisan nafas untuk berlari, jadi banyak yang mulai berjalan sambil mengisi kembali tenaga. Akan tetapi, Aji masih terlihat sangat baik, dia tidak terlihat lelah sedikitpun. Langkahnya cukup kecil tapi tapi tidak pernah berhenti. Dia sangat konsisten menjaga kecepatan larinya.
Sebaliknya, aku sudah mulai kehabisan tenaga, dan akhirnya aku pun memutuskan untuk berjalan kaki sejenak sambil mengisi tenagaku kembali. Meskipun begitu, sepertinya aku masih aman berada di posisi kedua ini. Pesaing terdekatku yang berada di belakangku juga ikut-ikutan berjalan.
***
Hingga akhir lintasan, Aji tetap konsisten berada di peringkat satu diikuti oleh siswa laki-laki yang aku belum ingat namanya, dan kemudian aku. Aku disalip di akhir-akhir lintasan ketika aku sudah benar-benar kehabisan tenaga.
Setelah menyentuh garis finis, aku langsung duduk sambil meluruskan kakiku dan mengembalikan ritme nafasku. Aku lihat jarakku dengan peringkat ke-4 cukup jauh.
Akhirnya semuanya finis. Pak Budi mengumumkan bahwa kami semua berhasil lolos dari waktu maksimal yang diperlukan untuk lari jarak 3 km. Kami semua terlihat lega, walaupun kami semua sangat terlihat lelah, kecuali Aji.
Aji terlihat baik-baik saja. Dia bahkan hanya terlihat duduk sebentar saja dan kemudian langsung jalan-jalan kecil bolak-balik untuk pendinginan. Aku rasa dia memiliki stamina yang sangat baik.
Setelah itu, kami diperbolehkan untuk istirahat. Masih ada waktu sekitar 30 menit hingga kami berganti mata pelajaran. Kami pun langsung menuju ke kantin untuk membeli minuman untuk mengembalikan tenaga kami. Kali ini, untuk pertama kalinya aku ikut ke kantin bersama teman-teman. Siswa laki-laki terlihat bergerombol menjadi satu kelompok ketika menuju kantin. Aku pun mengikuti mereka di paling belakang. Sejauh ini aku baru ingat nama Aji dan Ahsan saja, jadi agak canggung rasanya. Walaupun, aku sudah ingat semua wajah siswa laki-laki di kelasku.
Setelah selesai dari kantin, kami langsung kembali ke kelas untuk kemudian mengganti pakaian kami. Kira-kira, 10 menit lagi hingga mata pelajaran selanjutnya. Kami pun berjalan cukup tergesa-gesa kali ini. Meskipun tadi yang kulakukan hanyalah mendengarkan obrolan-obrolan ringan mereka, akan tetapi sepertinya sudah mulai bisa berinteraksi dengan mereka.
__ADS_1
***
Bersambung