Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 121 : Perkenalan


__ADS_3

Akhirnya Ahsan berhenti di depan sebuah kedai yang tidak terlalu besar, tetapi juga tidak terlalu kecil. Kedai yang sederhana, namun terlihat rapih dan nyaman. Bangunannya terlihat sangat simpel tapi entah kenapa juga terlihat begitu sejuk. Di kedai ini, mereka menjual berbagai macam minuman dan cemilan. Sepertinya, kedai ini lebih berfokus pada minumannya dan sedikit pada makanan kecil.


"Ternyata ke sini yah," ucap Calvin.


"Kau sudah pernah ke sini?" tanya Ahsan.


"Tentu saja. Kedai ini cukup populer dikalangan anak-anak," jawab Calvin.


"Berbincangnya nanti saja, lebih baik sekarang kita pesan minuman dan cari tempat duduk dulu, dari pada nanti keburu penuh," ucap Ruben sinis.


Kami berlima pun lalu langsung memesan minuman dan beberapa makanan kecil. Setelah selesai membayar, kami pun langsung memilih tempat duduk yang masih kosong. Di saat kami datang sekarang ini, pengunjung kedai ini juga tergolong ramai. Hanya tinggal 3 meja saja yang masih kosong.


"Oi copot sepatu mu dulu sebelum duduk di situ," gumam Ahsan kepada Ruben.


"Iya, aku tahu. Cerewet sekali," Ruben lalu mencopot kedua sepatunya sebelum duduk lesehan.


"Kau terlihat seperti baru pertama kali ke sini Lang," tanya Calvin.


"Oh iya. Ini yang pertama kali aku datang ke sini. Aku cukup terkejut ada tempat seperti ini di sekitar sekolah kita," jawab ku yang masih memperhatikan bangunan kedai ini.


"Hahaha iya sih emang tempatnya agak di dalam gang kecil, jadi tidak banyak yang lewat sini. Pengunjung di sini juga kebanyakan anak-anak sekolah dari sekolah kita," timpal Calvin lagi.


"Oh begitu ya," jawab ku singkat.


Tak lama berselang, makanan dan minuman pesanan kami pun datang. Belum lama kami duduk di sini, kini kedai ini terlihat sudah penuh dan tak ada meja kosong lagi yang tersisa. Aku tidak tahu kenapa kedai ini bisa seramai ini. Apa karena kantin sekolah sudah penuh? Atau memang karena tempatnya yang nyaman dan makanannya enak-enak? Entahlah.


Aku lalu mulai menyeruput minuman yang baru saja datang itu. Pada kunjungan ku yang pertama ini, aku memesan satu es cokelat ukuran sedang. Saat aku meminumnya sedikit demi sedikit, rasanya begitu manis dan menyegarkan. Sebenarnya rasanya sama seperti rata-rata rasa es cokelat pada umumnya. Tidak ada yang terlalu sepesial dengan rasanya.


"Eh lihat-lihat, bukankah itu Celine dan teman-temannya?" ucap Fahmi yang langsung mengarah kepada 3 orang anak perempuan yang terlihat baru saja datang itu.


"Wah benar sekali. Kau cepat juga yah menyadari kehadiran Celine. Bahkan lebih cepat dari pada ku, mungkin juga lebih cepat dari pada kecepatan cahaya loh hahaha," ucap Ruben sambil tersenyum.

__ADS_1


"Memangnya kau tau berapa kecepatan cahaya itu?" timpal Ahsan sinis.


"Itu tidak penting. Sekarang yang terpenting adalah... Lihat Celine dan teman-temannya tampak kebingungan tuh. Sepertinya mereka mencari tempat yang kosong tapi malah sekarang semua meja sudah dipakai," ucap Ruben yang kali ini lebih berfokus pada Celine dari pada perkataan Ahsan barusan.


"Wah aku ada ide. Bagaimana kalau kita ajak Celine dan kedua temannya itu untuk bergabung sama kita saja? Barangkali mereka mau hahaha," ucap Fahmi dengan memasang senyuman liciknya itu.


"Wah tumben kali kau pintar. Ya udah sana, kau yang ajak," timpal Ahsan.


"Ehhh kenapa aku? Aku kan yang punya ide, berarti sekarang giliran kalian yang harus mengajak mereka," gumam Fahmi.


"Kau penakut sekali. Memangnya apa yang kau takutkan?" tanya Ruben.


"Kalau begitu kenapa tidak kau saja yang menawari mereka Ben?" balas Fahmi.


"Aku ini ibarat pelatih, dan kalian ibarat pemainnya. Yang bermain itu pelatih atau pemainnya? Kan tugas pelatih cuma memberi arahan saja," timpal balik Ruben.


"Alahh... Banyak alasan kau Ben," balas Fahmi.


Setelah menghampiri mereka bertiga, Calvin terlihat mengajak mereka mengobrol. Aku tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, akan tetapi sesekali Calvin menunjuk ke arah kami.


Tak butuh waktu lama, Celine dan kedua temannya itu kini terlihat mengikuti Calvin dari belakang menuju ke sini. Aku tidak tahu apa yang Calvin bicarakan dengan mereka bertiga, akan tetapi aku rasa Calvin sangat pandai untuk membujuk atau merayu seseorang. Mungkin ketika sudah besar nanti, dia akan sangat pandai untuk bernegosiasi dengan orang-orang.


"Silahkan, duduk di meja kami. Kebetulan masih ada tempat yang kosong," ucap Calvin sambil mengeluarkan senyuman yang sangat ramah.


"Oh iya... Makasih ya... Maaf loh kami jadi mengganggu begini..." ucap Celine yang lalu langsung duduk di meja kami.


"Wah enggak ganggu kok Lin... Kami malah seneng kok hehehe," ucap Ruben dengan senyum yang ia usahakan terlihat menawan itu.


"Sepertinya kita perlu kenalan dulu deh, biar bisa saling akrab... Perkenalkan nama ku Celine, dari kelas 10-4.


"Nama ku Fani, dari kelas 10-4 juga," ucap anak perempuan yang berada di samping kiri Celine.

__ADS_1


"Kalau aku Devi, aku juga dari kelas 10-4. Salam kenal semuanya," ucap anak perempuan yang duduk di sebelah kiri Fani.


"Aku Fahmi, dari kelas 10-7. Salam kenal juga hehehe," ucap Fahmi dengan tersenyum.


"Aku Ahsan. Dari kelas 10-7 juga," ucap Ahsan.


"A-aku Galang. Aku satu kelas dengan mereka," ucap ku agak terbata-bata. Rasanya, ini pertama kalinya aku memperkenalkan diri ku di hadapan orang yang baru aku temui.


"Hahaha kenapa kau grogi begitu Lang. Perkenalkan aku Ruben, orang yang akan menguasai dunia hahaha," ucap Ruben dengan senyum dan dengan penuh percaya diri.


Ucapan Ruben barusan langsung disambut gelak tawa oleh Celine dan juga Devi, tapi tidak dengan Fani. Fani terlihat masih datar dan tak bereaksi apa pun. Sepetinya Fani orang yang lumayan serius dan tidak suka bercanda.


"Aku Calvin, orang yang mengajak kalian tadi hehehe," ucap Calvin sambil tertawa kecil.


"O iya, kalian sudah pesan makanan atau minuman?" tanya Fahmi.


"Wah wah wah. Langsung gerak cepat nich," gumam Ahsan spontan.


"Hahahahah," Ruben dan Calvin terlihat tertawa. Kini wajah Celine dan kedua temannya itu terlihat kebingungan. Mungkin mereka tidak mengerti apa yang sedang dibahas oleh para anak laki-laki barusan. Dan kenapa mereka juga tertawa.


"Sudah kok. Kam sudah memesan makanan tadi," jawab Devi mewakili Celine dan Fani.


"Oh begitu," jawab Fahmi.


"Oiya ngomong-ngomong nanti jangan lupa yah dukung kelas kita di perebutan juara tiga," ucap Ruben.


"Oh iya. Nanti kan kelas 10-7 masih main yah. Tadi kami juga nonton pertandingan kalian waktu melawan kelas 11 IPA 5. Tadi itu hampir saja yah kalian bisa menahan imbang kakak kelas," ucap Celine.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2