
Akhirnya, aku dan Celine telah sampai di Taman Panggung, tempat kami akan menonton pertunjukan drama. Saat ini, kami telah telat sekitar 15 menit dari yang sudah dijadwalkan. Kami pun langsung buru-buru menuju ke dalam gedung untuk langsung menonton pertunjukkan yang seharusnya sudah dimulai itu.
Saat kami akan masuk, terlebih dahulu kami dimintai tiket tepat di depan pintu masuk. Celine lalu terlihat mencari tiket di dalam tasnya.
"Eh kok gak ada yah?" ucap Celine dengan raut wajah yang mulai panik.
"Eh beneran? Coba cari lagi. Siapa tau tadi cuma keselip," timpal ku.
Celine lalu terlihat mencarinya kembali di dalam tasnya, kini gerakan tangannya terlihat begitu cepat. Namun pada akhirnya, Celine tetap tidak bisa menemukan tiket yang seharusnya ada bersamanya itu.
"Tetep gak ada Lang, aduh gimana ini?" Aduh maaf banget ya Lang..." ucap Celine dengan wajah yang berubah menjadi raut wajah orang yang bersalah. Ia juga tampak sangat cemas sekali.
"Maaf mba, sepertinya teman saya lupa membawa tiketnya, tapi apa kami tetap boleh masuk?" tanya ku pada wanita yang sedang berjaga di depan pintu masuk yang mana usianya terlihat tidak terlalu jauh dengan ku. Mungkin usianya sekitar 19 tahunan.
"Wah maaf mas, kalau gak ada tiketnya gak bisa masuk. Mohon maaf banget ya mas," ucap wanita penjaga itu.
"Oh begitu ya mba. Ya udah deh mau bagaiman lagi," jawab ku.
Aku dan Celine perlahan pergi meninggalkan area pintu masuk itu dan lalu mencari tempat untuk duduk. Saat ini, wajah Celine terlihat begitu merasa bersalah.
"Ma-maaf ya Lang. Aku ceroboh sekali. Seharusnya aku mempersiapkannya dengan dengan lebih teliti lagi. Sekali lagi maaf banget ya Lang," ucap Celine lirih.
"Iya gak papa Lin. Lagi pula kan kamu juga gak sengaja kan? Terkadang dalam hidup memang terjadi hal-hal seperti ini," timpal ku.
"Tapi aku merasa gak enak banget sama kamu. Sudah capek-capek naik sepeda, eh malah tiketnya ketinggalan kayak gini," ucap Celine lagi.
"Yah mau bagaiman lagi. Oiya, kamu haus gak?" tanya ku mencoba mengalihkan topik perbincangan.
"Lumayan sih," jawab Celine.
"Aku juga haus nih. Cari minum dulu yuk? Sekalian jalan-jalan sekitar sini," ajak ku yang lalu langsung bangkit dari duduk. Celine lalu terlihat bangkit dari duduknya dan kami berdua pun mulai berjalan untuk mencari minum.
__ADS_1
"Mau minum yang hangat apa yang dingin nih?" tanya ku.
"Terserah kamu saja deh Lang," jawab Celine.
"Kalau aku sih lebih suka dingin... Bagaimana?" tanya ku.
"Boleh," jawab Celine.
Kami berdua lalu langsung menuju kedai minuman yang menjual jus buah-buahan. Entah kenapa saat aku pertama kali melihat kedai ini, aku langsung ingin mencoba minumannya.
"Aku pesan jus mangga dingin yah mbak," ucap ku saat memesan minuman.
"Kalau aku jus jambu biji merah yah mbak," ucap Celine.
"Oh iya... Tunggu sebentar yah dek," balas penjaga kedai yang lalu langsung mulai mempersiapkan bahan-bahan untuk membuat jus pesanan kami.
Kami pun lalu langsung duduk di kursi yang telah disediakan. Saat ini, cuma kami berdua yang sedang mengunjungi kedai ini. Entah kenapa, untuk sesaat warung kedai ini serasa menjadi milik kami berdua.
"Akhirnya sebentar lagi kita pergi liburan sama-sama yah," ucap Celine sambil memandangi pepohonan yang sedang sedikit bergoyang karena tertiup angin.
"Kalau bisa, aku ingin ketika aku bangun pagi-pagi besok, langsung hari Minggu hehehe," ucap Celine yang lalu tersenyum.
"Apa-apaan itu? Hehehe," timpal ku.
"Oiya ngomong-nomong kamu sudah tahu belum Lang, tentang Aji yang sedang mendekati Fani?" ucap Celine lagi yang kini mengalihkan pandangannya ke arah ku.
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut Celine barusan itu, aku langsung merasa terkejut. "Ehhhh? Ajii? Fani? Wah aku baru dengar," timpal dengan raut wajah yang entah seperti apa. Yang jelas aku merasa sangat terkejut.
"Eh kamu baru tahu? Aku kira Aji udah cerita ke kamu. Iya Aji udah mulai deketin Fani loh, kira-kira udah sekitar 2 mingguan," jawab Celine.
Mendengar perkataan Celine, aku juga jadi langsung teringat bahwasanya Aji sempat membeli bunga 2 hari berturut-turut waktu itu. Dan entah kenapa ia juga terlihat seperti sembunyi-sembunyi dari ku. Sepertinya aku sudah tahu sekarang untuk apa bunga-bunga yang dibelinya waktu itu.
__ADS_1
"Oh pantes. Waktu itu aku juga sempat liat Aji beli bunga di toko ibu ku. Yang aneh itu, ia beli bunganya seakan-akan sembunyi-sembunyi gitu," timpal ku.
"Wah so sweet banget Aji ternyata," timpal Celine.
Di saat kami tengah asik mengobrol, tiba-tiba minuman yang kami pesan tadi datang.
"Ini mbak, mas," ucap wanita penjaga kedai minuman sambil meletakkan minuman pesanan kami di atas meja.
"Oh iya mbak, terima kasih," jawab ku.
"Makasih mbak," jawab Celine.
Setelah itu, wanita itu kembali lagi ke posnya sambil melempar senyum ramah ke arah kami.
"Terus reaksi si Fani gimana? Sejauh yang aku tahu, Fani itu kan orangnya cukup cuek yah? Waktu pertama kali kita kenalan juga raut mukanya engga ramah gitu," tanya ku penasaran.
"Si Fani itu sebenarnya engga jutek loh. Dia itu justru yang paling baik diantara aku, Devi, Sam dia. Dia itu sebenarnya cuma cuek sama anak laki-laki aja. Aku gak tau kenapa, tapi yang jelas ia memang akan sangat cuek bahkan jutek kalau di hadapan anak laki-laki. Tapi kalau sudah kumpul sesama anak perempuan, Fani itu orangnya asik banget loh," jelas Celine.
"Eh benarkah? Wah aku gak nyangka kalau Fani ternyata orangnya asik. Tapi kenapa yah ia selalu terlihat cuek dan jutek kalau di hadapan anak laki-laki. Apa mungkin sebenarnya Fani itu benci anak laki-laki?" tanya ku sambil menebak-nebak.
"Hihihihi entahlah kalau alasannya. Aku sendiri juga belum tahu," ucap Celine sambil sedikit tertawa.
"Oiya tadi kamu belum jawab yang soal tanggapan Fani ada Aji yang mendekatinya," ucap ku lagi.
"Oh iya sampai lupa. Ya gitu deh. Fani kan memang suka bunga yah, ya dia terima bunga pemberian dari Aji, tapi dengan muka yang jutek gitu. Kau yang lihat aja jadi gemes sendiri sama Fani," ucap Celine.
"Hehehe mendengar cerita mu itu, aku juga bisa membayangkan bagaimana ekspresi datar Fani waktu nerima bunganya," timpal ku yang juga sedikit tertawa.
"Oiya ngomong-ngomong ini kita belum minum minumannya dari tadi," ucap Celine.
"Oiya, sampai lupa kalau sudah ada minuman," jawab ku.
__ADS_1
***
Bersambung