Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 158 : Makan Malam Bersama


__ADS_3

Setelah berdiskusi cukup lama, kami pun akhirnya memutuskan untuk pergi ke candi Borobudur, candi Mendut, dan juga candi Pawon yang mana letaknya kebetulan memang saling berdekatan.


"Wah jadi engga sabar lagi nih pingin cepet-cepet hari Minggu," ucap Ruben.


"Oi ingat Ben, sebelum itu kita masih ada UTS," ucap Ahsan.


"Kan sudah aku bilang beberapa kali, aku sudah sangat siap menghadapi yang namanya UTS sialan itu," ucap Ruben.


"Hahaha terserah kau saja lah," ucap Ahsan.


"Lagi pula kau juga sama kannn gak belajar," ucap Ruben.


"Hahahaha kalian ini, mending kalian coba belajar deh buat persiapan UTS, biar engga menyesal nantinya," ucap Aji.


"Iya tuh bener," timpal Ayu.


"Persiapan? Persiapan itu untuk orang-orang yang lemah hahaha. Lagi pula, jalan hidup seorang laki-laki itu salah satunya adalah harus hidup dengan kepala tegak dan perasaan bangga di dadanya. Salah duanya adalah hidup seorang laki-laki itu harus bebas tanpa penyesalan hahahaha," ucap Ruben.


"Entah kenapa kalimat mu itu terdengar seperti kalimat yang sangat bijak, tapi..." ucap Aji belum tuntas.


"Tapi apa Ji? Jangan berhenti di tengah kalimat seperti itu dong, bikin penasaran aja," ucap Ruben.


"Tapi entah kenapa kalau kau yang ngomong kayaknya kalimat itu jadi gak berharga. Kayak sampah malahan hahahahaha," timpal Ahsan menyerobot jawaban dari Aji. Seisi ruangan pun langsung tertawa mendengar jawaban nyeleneh dari Ahsan tersebut.


"Haaaa? Apa maksud mu? Kenapa malah kau yang jawab? Kan tidak ada yang sedang mengajak mu berbicara?" ucap Ruben.


"Tidak ada, tidak ada kok. Lagi pula siapa juga yang sedang berbicara dengan kau? Pede sekali kau ini hahahaha," ucap Ahsan kembali mengolok-olok Ruben.


"Oiya ngomong-ngomong makasih banget yah kalian semua udah mau dateng jenguk aku. Maaf aku cuma bisa menjamu kalian segini aja. Maaf juga jadi ngrepotin kalian," ucap ku.


"Engga ngrepotin kok Lang. Kami semua khawatir loh sama kamu. Apalagi Cindy tadi hihihi," ucap Ayu.


"Eh emangnya Cindy kenapa yu?" tanya ku penasaran.

__ADS_1


"Bukan, bukan apa-apa kok Lang. Ayu cuma asal bicara kok, jangan di dengerin," ucap Cindy yang entah kenapa tiba-tiba wajahnya berubah menjadi memerah.


"Hihihihi," Ayu cuma tertawa mendengar hal itu. Namun, tawanya itu seperti mengandung makna tersembunyi.


"Sebenernya Celine tadi pas tahu kamu gak berangkat juga kelihatan cemas banget loh Lang, bahkan Celine juga terlihat gak fokus pas pelajaran hihihihi," kini giliran Devi yang bersuara yang juga entah kenapa Celine langsung buru-buru menutup mulut Devi tersebut.


"Wah sepertinya jadi semakin menarik saja hihihihi," tawa Ayu yang lalu diikuti Aji, Devi, dan Ahsan.


Sementara itu Sofia, Renaldi, dan Fanny terlihat biasa saja. Sedangkan Cindy dan Celine wajah mereka tampak semakin memerah. Ruben sendiri cuma terlihat tersenyum kecut yang entah kenapa bermakna sangat ambigu, apakah ia senang, cemas, atau yang lainnya.


***


Ketika langit sudah mulai gelap, dan mereka semua berencana untuk pulang, tiba-tiba saja ibu dan Hana pulang. Mereka pulang lebih awal dari pada biasanya.


"Kami pulang," ucap Hana saat membuka pintu depan rumah.


"Eh rame sekali ini. Wah lagi jenguk Galang yah? Eh? Loh? Kok udah pada bawa tas? Mau kemana?" tanya ibu ku.


"Hehehe kami udah mau pamit dulu tante... Lagi pula sekarang udah gelap tante," ucap Ayu.


Aku sungguh tidak mengerti pada perkataan ibu ku barusan. Aku tidak tahu korelasi antara makan malam bersama dengan kesembuhan ku ini.


"Wah nanti ngrepotin tante," ucap Aji.


"Engga, engga kok. Tante malah seneng. Galang, itu temen mu jangan boleh pulang dulu loh, ajak mereka masuk lagi," ucap ibu yang lalu langsung menuju ke dapur.


"Kalian lagi gak sibuk kan? Ayo sekalian makan malam aja. Lagi pula dari tadi kan kita cuma makan cemilan. Gimana? Gak papa ya?" tanya ku.


"Kalau kau memang memaksa seperti itu, apa boleh buat hehehehe. Sini biar aku bantu juga," Ruben lalu benar-benar langsung menuju ke dapur untuk membantu ibu ku.


Pada akhirnya, mereka semua mau untuk makan malam bersama di sini. Mereka pun kembali duduk di ruang tamu.


Saat ini, wajah Sofia terlihat sedikit murung. Aku tidak tahu kenapa. Padahal, sepertinya saat pertama kali datang tadi, wajahnya tidak terlihat murung sama sekali.

__ADS_1


"Kamu kenapa Sof? Kok keliatan murung begitu?" tanya ku.


"Eh gak papa kok Lang," jawab Sofia yang terlihat sedikit kaget karena ia juga terlihat melamun tadi.


"Oh begitu ya. Aku kira kenapa. Syukurlah kalau tidak papa," jawab ku.


***


Akhirnya setelah cukup lama menunggu, masakan yang sedang dinanti-nantikan akhirnya matang. Kini ibu, Ruben, dan Hana terlihat sedang menata makanannya di atas meja makan.


Sepertinya, hanya beberapa orang saja yang akan makan di meja makan karena jika semuanya makan di sana, sepertinya meja makan tersebut masih terlalu kecil.


Ngomong-ngomong ini adalah pertama kalinya Ruben dan ibu ku memasak bersama. Hidangan yang baru saja mereka masak adalah soto khas. Dari raut wajah ibu dan Ruben, terpancar rasa puas yang sangat menyilaukan. Sepetinya ibu dan Ruben sangat puas dengan hasil masakan mereka hari ini.


Setelah itu, kami semua lalu langsung mengambil makanan di atas meja makan. Karena mejanya terlalu kecil untuk kita semua, maka yang akan makan di meja makan hanya ibu, Hana, dan para anak perempuan saja. Sisanya yaitu para anak laki-laki akan makan sambil duduk lesehan di samping meja makan itu.


Saat pertama kali aku menyeruput kuah sotonya, rasanya benar-benar enak. Semua bumbu rempah begitu sedap dirasakan dan sangat lembut. Wanginya juga harum, sehingga menambah selera makan. Apalagi, ditambah sedikit nasi hangat semakin menggugah nafsu makan ku.


"Ini teman kalian jago banget masak loh. Tante aja tadi diajarin beberapa bumbu dan teknik sama dia. Besok, kalau sudah besar katanya ia mau jadi koki," ucap ibu ku yang mengacu pada Ruben.


"Hehehe jangan gitu tante, jadi mau, eh malu maksudnya hehehe," ucap Ruben.


"Ya ampun Ben, raut wajah mu sangat tidak cocok dengan karakter gemas. Nafsu makan ku jadi ikut berkurang nih," ucap Ahsan.


"Haaa? Kenapa begitu?" ucap Ruben.


"Sudah-sudah, kalau makan jangan berdebat dulu, tunggu selesai makan," sela Aji.


"Hahahaha," seisi ruangan lalu tertawa.


Setelah itu, kami pun lalu mulai menyantap makanan dengan tanpa halangan, maksudnya Tanpa berbincang-bincang yang berat-berat lagi. Lagi-lagi, aku kembali teringat tentang ucapan Sofia tentang makan bersama akan terasa lebih nikmat dari pada makan sendirian, kali ini kembali terbukti.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2