Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 130 : Hari Terakhir Festival


__ADS_3

Di hari terakhir festival ini, masih ada satu lomba yang akan dilaksanakan yaitu lomba memasak. Selain itu, hari ini juga adalah hari pengumuman untuk pemenang lomba puisi, cerpen, dan juga melukis. Sejauh ini, kelas ku telah memperoleh dua gelar juara yaitu juara 3 futsal dan juara 3 bulu tangkis ganda campuran.


"Aku berangkat dulu ya bu," ucap ku saat hendak pergi.


"Oh iya Lang, hati-hati," jawab ibu yang masih sibuk membereskan meja makan.


Cuaca hari begitu cerah. Bahkan langit terlihat begitu biru, sebiru air laut. Sebenarnya tidak terlalu yakin, air laut yang menyerupai warna langit, ataukah warna langit yang menyerupai air laut? Entahlah.


Seperti biasa, aku berangkat dengan berjalan kaki. Karena biasa hari Sabtu adalah hari libur, saat ini rasanya cukup aneh karena harus pergi ke sekolah dihari Sabtu seperti ini.


Selain festival sekolah, 2 hari ini juga sedang heboh soal video amatir yang menangkap sesosok misterius yang terekam di sebuah stasiun tua yang sudah tidak dipakai lagi yang terletak di ujung barat kota ini. Sosok yang dimaksud adalah sosok yang memiliki rambut panjang, dan pakaiannya serba hitam. Sosok tersebut terekam sedang berjalan perlahan dari satu sisi ke sisi yang lain. Durasinya pun cukup panjang, sekitar satu setengah menit.


Di antara teman-teman ku, tentu saja yang paling heboh dan antusias dengan video amatir tersebut adalah Ruben. Bahkan seingat ku, dia dulu lah yang memperlihatkan video tersebut pada kami dan kemudian menyebarkannya secara luas. Aku tidak tahu dari mana Ruben mendapatkan video tersebut, tapi entah kenapa Ruben bisa sangat update jika tentang soal yang seperti itu. Apakah Ruben ikut komunitas tertentu? Entahlah.


Tanggapan ku sendiri tentang video tersebut adalah tidak terlalu menganggap serius video tersebut. Aku pun tidak terlalu mengambil pusing tentang sosok yang terekam kamera itu. Bagi ku, itu semua tidak masuk akal dan aku juga lebih condong tidak mempercayai video tersebut. Bagi ku, sangat tidak masuk akal kalau makhluk yang seharusnya tak kasat mata seperti itu bisa terekam oleh kamera.


Karena ada perbaikan jalan di sekitar taman, aku pun jadi berjalan agak memutar pagi ini. Mungkin sekitar 500 meter lebih jauh dari pada seharusnya.


Saat aku sudah sampai kelas, suasana kelas terlihat seperti masih sedang memperbincangkan soal video yang tadi aku sebutkan itu. Bahkan sepertinya mereka jadi semakin heboh dan heboh lagi.


"Oi Lang sini-sini, kemari cepat," teriak Ruben yang entah kenapa pagi ini ia berangkat lebih dulu dari pada aku.


Aku pun lalu menghampiri Ruben seperti apa yang ia minta. "Ada apa Ben?" tanya ku saat sudah berada di sisinya.


"Coba kau lihat ini. Ternyata masih ada video lanjutan dari video yang kemaren kita tonton itu. Durasi penuhnya jadi sekitar 5 menit. Ini, kau mau nonton?" tanya Ruben.


"Masih berlanjut? Sepetinya aku tidak tertarik untuk melihatnya," jawab ku.

__ADS_1


"Heeee jadi begitu ya... Kau takut?" tanya Ruben.


"Bukan takut, tapi aku benar-benar tidak tertarik. Mungkin lebih tepatnya aku kurang mempercayai hal-hal seperti itu," jawab ku lagi.


"Tapi kalau kau lihat terusan video ini, kau mungkin jadi lebih percaya," ucap Ruben lagi.


Aku pun lalu tidak membalas perkataan Ruben itu dan langsung meletakan tas dan duduk di kursi ku. Ternyata sekarang sudah jam 7 lewat 20. Masih sekitar 40 menit lagi hingga lomba masak di mulai.


***


Kini teman-teman ku yang terpilih untuk ikut lomba masak sudah mulai bersiap-siap. Mereka mulai menyiapkan bahan-bahan dan alat-alat yang akan mereka gunakan. Setiap kelompok memiliki 5 anggota. Dari kelompok kelas kami, yang mewakili lomba memasak kali ini adalah Ruben, Cindy, Ayu, Wita, dan Risa. Tentu saja, yang akan menjadi kapten tim memasak adalah Ruben. Meskipun dia adalah satu-satunya laki-laki di tim kami, ia adalah orang yang dipercaya mempunyai kemampuan memasak di kelas kami. Oleh karena itu, ia dipercaya untuk menjadi kaptennya.


Saat ini, aku belum mengetahui apa yang akan mereka masak nanti. Yang jelas, setiap anggota kini terlihat begitu sibuk dengan tugas mereka masing-masing. Begitu juga dengan Ruben. Kali ini, ia tampak sangat serius. Ia pun kini terlihat seperti orang yang berbeda dengan Ruben yang biasanya.


"Wah ngapain ngalamun di sini Lang?" tanya Aji yang tiba-tiba menghampiri ku dari arah belakang.


"Oh begitu ya, tapi memangnya asik menonton orang yang masih bersiap-siap seperti itu?" tanya Aji lagi.


"Entah kenapa aku menikmatinya," jawab ku.


"Oh begitu ya. Ya sudah aku sama Renaldi mau keliling-keliling dulu. Kau mau ikut gak?" tanyanya lagi.


"Kalian aja duluan, aku masih ingin berada di sini," jawab ku.


"Okee," jawab Aji yang lalu langsung pergi meninggalkan ku.


***

__ADS_1


Sudah sekitar 15 menit telah berlalu. Aku masih saja betah menonton Ruben dan yang lainnya di sana. Selain itu, aku juga melihat-lihat peserta yang lainnya yang terlihat juga tidak kalah sibuk dengan Ruben dan yang lainnya.


"Galang?" tiba-tiba ada suara perempuan yang memanggil ku dari arah belakang. Aku pun lalu langsung menengok untuk mencari tahu siapa pemilik suara ini. Dari suaranya, aku sepertinya sudah pernah mendengarnya, tapi aku masih kurang yakin akan hal itu.


Jantung ku seakan berhenti ketika aku menemukan bahwa yang baru saja memanggil ku ternyata adalah Celine. Kali ini, Celine terlihat hanya seorang diri saja. 2 temannya yang selalu terlihat bersamanya, kini tidak ada.


"I-iya? Ada apa?" tanya ku yang terbata-bata dan kurang yakin.


Celine lalu tersenyum dan memperlihatkan ku wajah yang sangat mempesona itu, "Kamu lagi ngapain? Kenapa sendirian?". Celine lalu mendekat dan mulai duduk di sebelah ku.


Aku lalu sedikit menggeser posisi duduk ku agar tidak terlalu dekat dengannya. Entah kenapa, jantung ku sekarang berdegup sangat kencang.


"Lagi liat lomba masak nih. Kamu juga sendirian, gak sama dua teman mu yang biasanya itu?" ucap ku.


"Iya, kebetulan mereka berdua lagi ada urusan tadi. Jadi, aku sendirian deh," jawab Celine.


Rambutnya terlihat terurai karena tiba-tiba ada angin yang berhembus ke arah kami. Celine pun terlihat beberapa kali merapikan kembali rambutnya yang lurus dan agak panjang itu.


"Perwakilan dari kelas mu yang ikut lomba masak siapa aja Lang?" tanya Celine lagi.


"Ruben, Ayu, Cindy, Wita, sama Risa," jawab ku.


"Oh Ruben ikut lomba masak?" tanya Celine agak terkejut.


"Iya. Kemampuan memasaknya itu hebat. Aku pernah beberapa kali memakan masakannya, dan rasanya selalu enak," jawab ku.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2