
Pagi ini, aku bangun dengan cara yang cukup buruk. Aku bermimpi melihat seorang wanita seusia ku yang sedang menangis sendirian di tengah malam di bawah bulan purnama dan memakai gaun serba hitam. Kulitnya pucat, rambutnya lurus panjang dan hitam. Tak ketinggalan ia juga memakai bando yang juga bewarna hitam. Ia menangis sesenggukan lalu berkata, "Aku ketakutan, tolong aku."
Aku pun ingin menghampiri wanita tersebut tapi saat aku tinggal satu langkah lagi, tiba-tiba saja aku terjatuh ke dalam lubang yang sangat dalam. Dan saat aku terus terjatuh ke bawah lubang hitam itu, tiba-tiba saja aku sudah terbangun dan sudah berada di atas lantai. Aku sungguh sangat terkejut saat mendapati bahwa aku terbangun di atas lantai dari pada di atas kasur. Ini pertama kalinya bagi ku mengalami hal semacam ini.
***
Setelah selesai sarapan, aku pun langsung pamit pada ibu untuk berangkat sekolah. Hari ini, Kamis 18 Agustus, aku berangkat lagi bersama Hana setelah sekian lama. Hana seperti biasa selalu saja terlihat bersemangat dan ceria.
"Kalau dilihat-lihat kakak mirip juga ya sama Alex Siregar," ucap Hana tiba-tiba.
"Ha siapa? Alex Suregar?" tanya ku
"Bukan Alex Suregar tapi Alex Siregarrrrr, masa kakak gak tau?" ucap Hana.
"Iya kakak gak tau, emang siapa dia?" tanya ku lagi.
"Dia itu aktor bintang film yang lagi naik daun loh kak. Kemaren Hana habis nonton Film sama ibu judulnya 'Bulan Delapan'. Kebetulan yang jadi pemeran utamanya Alex Siregar kak. Nah ketika Hana lihat lagi, ternyata memang kakak mirip sekali dengan Alex Siregar," jelas Hana.
"Oh gitu ya, hahaha kakak gak terlalu suka nonton film jadi kakak juga ga tau banyak tentang artis yang lagi naik daun sekarang ini. Emangnya apanya yang mirip?" tanya ku lagi.
"Semuanya hampir mirip. Mata, hidung, muka, semuanya hampir sama," jelas Hana.
"Haa? Apa-apaan itu hahaha," aku pun ikut tertawa.
__ADS_1
***
Hari ini, mata pelajaran pertama dan kedua adalah Bahasa Indonesia. Hari ini semuanya juga terlihat sudah berada di kelas, bahkan Ruben pun yang paling sering telat hari ini entah kenapa ia berangkat lebih awal dari ku. 5 menit lagi hingga bel masuk akan berbunyi.
"Kenapa kalian berangkat siang banget hari ini? Pingin telat yah? Hahahaha," ucap Ruben dengan sombong pada ku dan Ahsan.
"Haaa? Apa-apaan tuch?" Ahsan bereaksi.
Aku pun hanya diam tidak bereaksi apa pun. Pagi ini, perhatian ku lebih tertuju pada Risal. Tempat duduk Risal berada di pojok belakang paling kanan. Ia selalu saja terlihat sendiri dan makai earphone besar yang menutupi kedua telinganya seperti yang sudah ku ceritakan sebelumnya. Melihatnya sekarang seperti mengingatkan ku tentang diri ku sendiri ketika SMP.
Akhirnya bel pun berbunyi. Tak berselang lama, bu Hesti ( guru Bahasa Indonesia) pun masuk ke kelas. Seperti biasa, kami selalu memulai kegiatan di pagi hari dengan berdoa. Setelah selesai berdoa, bu Hesti lalu menjelaskan kalau materi untuk pertemuan kali ini adalah membuat puisi.
"Selamat pagi anak-anak," sapa bu Hesti.
"Sepertinya hari ini semuanya masuk ya. Langsung saja, mohon maaf sekali karena ibu ada urusan mendadak, jadi ibu mau izin keluar dulu. Sebelum itu, ibu minta kalian untuk membuat puisi untuk mengisi kekosongan ibu. Temanya bebas. Nanti kalau misal masih ada waktu, ibu pasti akan kembali lagi ke kelas ini. Mungkin nanti akan ada yang membacakan puisinya di depan jika masih ada waktu. Sekali lagi ibu mohon maaf, sampai bertemu nanti," ucap Bu Hesti lalu segera pergi meninggalkan kelas yang baru saja ia masuki beberapa menit yang lalu.
Setelah bu Hesti keluar, suasana yang tadinya tenang kini menjadi agak ramai. Banyak siswa yang berjalan-jalan dan saling berbincang-bincang dari pada langsung mengerjakan tugas dari Bu Hesti.
Ayu selaku ketua kelas pun langsung bertindak saat menyadari bahwa suasana kelas semakin ramai dan berisik. Ia lalu langsung maju ke depan kelas.
"Mohon perhatiannya sebentar teman-teman," ucap Ayu dengan suara tegas yang diawali dengan memukul papan tulis terlebih dahulu.
Anak-anak yang mendengar suara Ayu pun lalu menjadi diam dan kembali ke tempat duduk mereka masing-masing.
__ADS_1
"Mohon dikondisikan untuk tidak ramai. Kalian boleh berjalan-jalan, atau berkumpul dengan yang lainnya, tapi usahakan jangan membuat suara yang terlalu keras dan berisik. Ingat, kita masih dalam jam pelajaran yang mana kelas di samping kanan-kiri kita pasti akan terganggu jika suara kita terlalu keras. Untuk itu, mohon kerjasamanya untuk tertib. Terima kasih," ucap Ayu lalu kembali lagi ke tempat duduknya.
Setelah itu, suasana kelas menjadi lebih tenang meskipun masih ada beberapa anak yang berjalan-jalan. Aku pun lalu mulai berpikir kira-kira puisi apa yang akan aku buat kali ini.
Aku lalu meletakkan pulpen ku terlebih dahulu lalu memejamkan kedua mataku sambil menghirup nafas dalam-dalam. Saat aku sedang melakukan hal itu, tiba-tiba saja Ruben memanggil ku dari arah belakang.
"Langg... Langg... Oiiii... Lang..." ucapnya dengan agak berbisik.
Aku pun lalu segera menengok ke arah Ruben.
"Aku pinjam pulpen dong... Pulpen ku ternyata sudah habis," ucapnya dengan masih sambil berbisik dari kejauhan.
Aku lalu memberikannya pulpen. Entah kenapa aku selalu saja membawa alat tulis lebih dari satu sejak aku masih kecil dulu. Mungkin hal ini karena ayah ku dulu selalu mengatakan kepada ku untuk selalu sedia cadangan dalam urusan apa pun. Setelah aku memberikan pulpen ku pada Ruben, aku pun kembali berbalik menghadap ke depan untuk memulai membuat puisi.
Sudah sekitar lima menit aku berpikir, tetapi masih saja kertas di hadapan ku ini kosong. Pena yang aku pegang dari tadi pun belum setitik pun menggores di kertas. Aku sungguh masih belum mempunyai ide sedikit pun.
Aku pun lalu melihat-lihat sekeliling kelas. Tentu saja untuk hal yang seperti ini, Agung pasti menjadi anak yang paling bersemangat. Ia pun terlihat dengan serius sedang menuliskan kata-katanya pada kertas putih di hadapannya itu.
Aku lalu memperhatikan Cindy yang duduk tepat di sebelah kanan tempat duduk ku. Cindy terlihat dengan perlahan menuliskan kata demi kata di bukunya. Kadang ia berhenti sejenak sambil terus memikirkan kata apa yang akan ia gunakan di bait berikutnya.
Tak terasa 10 menit telah berlalu dan aku masih saja belum menuliskan apa-apa. Sekarang aku pun mulai berharap kalau bu Hesti tidak akan kembali ke kelas hingga jam pelajaran Bahasa Indonesia berakhir.
***
__ADS_1
Bersambung