Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 210 : Nasehat


__ADS_3

"Menurut mu, rezeki itu seperti apa anak muda?" tanya kakek petugas kebersihan makan itu lagi.


"Mungkin secara umum bisa dikatakan kalau rezeki itu adalah segala bentuk materi yang Tuhan anugerah kan kepada kita," jawab ku.


"Begitu ya. Lalu berarti rezeki itu hanya sebatas pada materi saja ya? Lalu jika kakek tanya lagi, misalkan ada seorang pedagang yang mana dagangannya belum laku dari pagi hingga sore itu berarti Tuhan tidak memberikan rezeki pada pedagang itu dong kalau rezeki itu hanya terbatas pada materi saja?" ucap kakek itu lagi.


Aku tidak bisa menjawab pertanyaan dari kakek itu. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku katakan sekarang.


"Kalau menurut kakek, pedagang itu walaupun dagangannya masih belum laku ia masih tetap diberi rezeki oleh Tuhan. Namun, rezeki yang diberikan bukanlah berupa materi, akan tetapi berupa kesabaran. Dagangan yang sepi itu akan melahirkan rezeki berupa kesabaran. Kesabaran itu juga merupakan salah satu bentuk rezeki dari Tuhan," ucap kakek itu lagi.


Aku lalu hanya mengangguk dan tak berkata sepatah apa pun. Aku rasa lebih baik saat ini adalah mendengarkan apa yang kakek ini katakan.


"Selain pada kesabaran, anak yang baik seperti mu itu juga merupakan sebuah rezeki yang amat besar yang ayah mu terima dari Tuhan. Jaman sekarang, banyak sekali anak yang sudah berani melawan orang tua, menentang, bahkan bisa mengabaikan orang tua mereka. Ayah mu pasti sekarang begitu bahagia karena memiliki anak yang begitu berbakti seperti mu yang mana masih menyempatkan waktu untuk mengunjunginya walaupun sekarang masih belum hari libur. Aku benar-benar salut pada mu nak," lanjut kakek itu.


Ucapan kakek itu benar-benar langsung menusuk dan masuk ke dalam hati ku. Entah kenapa rasanya begitu melegakan ada orang yang memuji diri kita seperti itu. Benar kata orang, kalau kita dipuji itu pasti rasanya seperti sedang terbang di atas langit. Sehingga, kadang kala kita rupa kalau kita itu masih harus berpijak pada tanah agar kita tidak terjauh.

__ADS_1


"Eh aku tidak merasa seperti itu kek. Aku juga hanya kebetulan kepikiran untuk berkunjung ke makam ayah ini," jawab ku mencoba untuk tetap merendah.


Kakek itu kaku hanya tersenyum seakan sudah tau kalau aku itu mungkin hanya sedang merendah. Kakek itu lalu mengalihkan pandangannya menuju ke sebuah pohon kelapa dan juga langsung menunjuk pohon itu, "Kamu lihat pohon kelapa itu nak?"


"Oiya kek, lihat kenapa?" tanya ku yang kini juga ikut memandang ke arah pohon kelapa yang terlihat cukup tinggi itu yang mana tumbuh di pinggiran pekarangan area makam.


"Umur manusia itu seperti buah pohon itu, yaitu seperti buah kelapa. Buah kelapa yang terjatuh dengan sendirinya itu bisa saja yang masih muda, bisa juga yang sudah tua, bisa juga yang masih kecil-kecil itu. Seperti umur manusia, bisa saja meninggal saat masih muda, tua, kecil, atau umur berapapun. Tidak ada yang tahu. Kita sebagai manusia, hanya harus selalu memikirkan bekal kita untuk kelak di kehidupan yang selanjutnya," lanjut kakek itu lagi.


Aku lagi-lagi hanya mengangguk. Aku tak menyangka pada akhirnya aku menerima begitu banyak nasehat dari kakek ini.


"Setiap manusia yang terlahir, pasti akan selalu mencari arti dari kehidupan itu sendiri. Mereka akan mulai memberontak, keras kepala, begitu egois ketika mereka sudah mulai menyadari kalau masing-masing dari manusia itu spesial yang mana satu dengan yang lainnya tidak lah sama. Hanya saja, untuk orang-orang yang bisa mengendalikan emosi dan jiwa mereka tentu tidak akan sampai melakukan hal-hal yang merepotkan," lanjut kakek itu yang mana kelihatannya masih akan terus berlanjut.


"Lagi, manusia itu pada dasarnya adalah makhluk yang tak akan pernah puas. Contohnya saja misalkan ada seorang siswa yang pada awalnya hanya mempunyai uang saku sekitar 10.000. Di dalam benaknya pasti mempunyai keinginan untuk mendapatkan uang saku yang lebih banyak lagi. Contohnya saja 15.000. Namun, ketika ia sudah mendapatkan uang saku sebesar 15.000, ia pasti juga akan merasa kalau 15.000 itu masih lah terlalu kurang. Ia pun kembali berandai-andai kalau seandainya uang sakunya 20.000 pastilah akan tercukupi. Namun lagi-lagi, bila ia juga sudah mempunyai uang saku sebanyak 20.000 ia pasti akan segera merasa masih kurang dan masih berkeinginan untuk mendapatkan uang saku yang lebih banyak lagi. Terus menerus seperti itu, seperti tidak ada habisnya," ucap kakek itu.


"Lalu, kapan menurut mu manusia itu akan benar-benar berhenti menginginkan hal yang lebih dan lebih lagi anak muda?" tanya kakek itu.

__ADS_1


Aku kini hanya mengeleng-gelengkan kepala ku yang mana memang tidak tahu jawaban dari pertanyaan tersebut. Lagi-lagi aku pun tidak berkata sepatah kata pun.


"Manusia akan benar-benar berhenti dan menerima apa yang ia sudah punya adalah ketika ia sudah bersyukur atas apa yang sudah ia miliki. Bahkan dengan bersyukur ini, bisa jadi orang yang berpenghasilan 5 juta perbulan akan lebih merasa bahagia dibandingkan orang yang berpenghasilan 15 juta perbulan jika dia tidak bersyukur. Sebenarnya, bersyukur itu adalah salah satu kunci kebahagiaan," lanjut kakek itu.


"Selain itu, dengan bersyukur Tuhan juga akan memberikan kebahagiaan yang berkelanjutan dan lebih besar lagi, Tuhan juga akan terus menambah rezeki yang sudah kita punyai," ucap kakek itu yang kini terlihat mengeluarkan kertas rokok, tembakau, dan beberapa bahan lain yang mana sepertinya ia akan mulai membuat rokok linting sendiri.


"Wah kakek tau banyak sekali yah tentang kehidupan ini. Aku jadi bisa belajar banyak hal dari apa yang kakek katakan tadi," ucap ku.


"Pada umumnya memanglah seperti itu. Yang tua membimbing yang muda. Namun, jangan salah sangka. Bisa jadi orang yang sudah tua itu malah harus belajar banyak hal dari para anak muda apabila memang pengetahuan dan Budi pekerti ya masih perlu diperbaiki lagi. Bisa jadi juga, justru kakek ini yang lebih banyak belajar dari kamu loh," ucap kakek yang sekarang sudah mulai meracik rokok lintingnya itu.


Lagi-lagi aku hanya tertegun dan mengangguk-angukan kepala ku saja tanpa bersuara. Aku pun saat ini masih belum tau apa yang harus aku katakan.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2