Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 51 : Sebenarnya


__ADS_3

Aku pun lalu mulai mencicipi seblak buatan Ruben yang berisikan telur, sosis yang di potong kecil-kecil, kerupuk, dan bahan-bahan lainnya. Pertama aku menyendok kuahnya terlebih dahulu. Sejujurnya secara tampilan sangatlah menggugah selera. Hanya dengan melihatnya saja sudah membuat perut ku keroncongan.


Aku mulai mencicipi kuah yang tadi sudah aku sendok. Rasanya sungguh luar biasa. Pedas, asin, manis, asam, semuanya bercampur jadi satu dan rasanya pun pas. Tidak ada yang lebih dominan.


Aku lalu mencicipi isinya. Lagi-lagi aku dibuat kagum oleh kemampuan memasak Ruben. Sosis, telur, dan bahan-bahan lainnya dimasak dalam keadaan yang sangat pas. Teksturnya pun sangat lembut. Sepertinya mulai dari sekarang, aku memang harus memanggilnya dengan sebutan Chef.


"Gimana rasanya Lang?" tanya Ruben dengan antusias.


"Sangat enak Ben, sepertinya kau memang harus menjadi koki beneran setelah lulus nanti. Lalu jika kau membuka restoran atau rumah makan, aku pasti menjadi pelanggan pertama mu," puji ku pada Ruben.


"Jangan terlalu memuji ku seperti itu Lang, aku jadi besar kepala nih hahahaha," Ruben tampak senang dengan pujian yang aku berikan barusan.


"Jadi sesuai perjanjian, mulai saat ini aku akan memanggil mu Chef Ruben," ucap ku lagi.


"Hahahaha ga usah dianggap serius seperti itu Lang. Tadi aku cuma bercanda kok," ucap Ruben.


"Meskipun kau bercanda sekalipun, janji tetaplah janji," ucap ku.


"Baik lah terserah kau saja hahahaha. Yasudah silahkan dilanjutkan makannya. Mumpung masih hangat," ucap Ruben.


Lalu kami berdua pun langsung melahap seblak buatan Ruben dengan cepat. Kami bahkan tidak mengobrol lagi hingga seblak di mangkok kami masing-masing telah habis.


***


Setelah selesai makan seblak, aku pun lalu duduk sejenak di kursi ruang tamu sebelum melangkah pulang. Ruben juga kini berada di hadapan ku di ruang tamu.


"Makasih banyak Chef. Makanannya sungguh enak," ucap ku sambil memuji Ruben.


"Hahaha kau masih saja menganggap hal tadi serius," ucap Ruben tertawa.

__ADS_1


"Sayang yah Ahsan gak bisa ikut hari ini," ucap ku lagi.


"Ya si bodoh itu katanya sedang pergi dengan kakaknya, jadi gak bisa ikut," ucap Ruben.


"Hahaha walaupun gak ada orangnya, kau tetap terlihat seperti sedang mengajak Ahsan untuk ribut yah. Oiya kalau kau merasa sepi, kau bisa main ke rumah ku Ben," ucap ku.


"Hahaha pasti aku akan main ke situ, tapi aku benar-benar sedang baik-baik saja," ucap Ruben dengan senyum tipis yang penuh tanda tanya.


"Ya baguslah kalau kau merasa begitu. Yaudah aku pamit pulang dulu yah. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih Chef," ucap ku.


"Hahaha apa-apaan kau ini. Formal sekali ucapan mu. Yasudah hati-hati di jalan," ucap Ruben.


Aku lalu mulai melangkah pergi dari rumah Ruben dan segera bergegas menuju rumah ku. Aku pun pulang dengan perasaan kagum sekaligus salut pada Ruben.


Aku mungkin sekarang cukup mengerti kenapa dia selalu saja membuat suasana sekitarnya menjadi lebih bewarna dan ramai. Selalu saja membuat candaan agar membuat orang-orang di sekitarnya tertawa. Bahkan langsung terlihat khawatir jika ada orang di sekitarnya yang kelihatan bersedih seperti kasus Cindy kemarin. Mungkin semua itu ia lakukan karena ia tidak ingin orang lain merasakan rasa sepi sama seperti yang ia alami.


Mungkin, di lubuk hatinya yang paling dalam ia selalu saja merasa kesepian setiap kali ia berada di rumah. Mungkin juga, ia ingin selalu mengajak teman-temannya untuk selalu bermain bersamanya, tapi ia sadar bahwa teman-temannya juga masih ada keluarga yang selalu menunggu kepulangan mereka di rumah. Oleh karena itu, ia seperti lebih memilih merasakan kesepian yang selalu ia rasakan dari pada orang lain yang merasakannya.


Malam ini angin berhembus cukup kencang. Menusuk kulit ku yang tidak memakai jaket atau hoodie untuk sekedar menghalangi angin secara langsung menusuk kulit ku.


Dengan ditemani cahaya bulan yang redup, suara serangga, dan bisikan nada dari angin, aku melangkah dengan perlahan menembus gemerlapnya kota. Seterang apa pun cahaya lampu yang menyala, tidak akan mengalahkan rasa kagum ku pada sinar redup sang rembulan. Dan jika suatu saat sinar itu akhirnya menghilang, mungkin bayangan ku juga akan ikut menghilang bersamaan dengan perasaan umat manusia.


Aku penasaran apakah jika aku pergi menuju bulan sana, aku akan ikut bersinar dan menyinari malam orang-orang yang sedang bersedih dalam sepi? Atau aku hanya akan menjadi bayangan yang menghalangi sinar redup rembulan? Entahlah. Terkadang pikiran ku sangat lah gila dan tidak masuk akal.


Melihat lengkungan cakrawala di ujung langit malam juga tak kalah membuat ku terpesona. Setiap kali aku melihatnya, aku semakin terpesona lagi dan lagi. Kira-kira jika aku sampai jatuh cinta pada cakrawala itu, apakah ia juga akan balik mencintai ku juga? Entahlah hahahaha.


Akhirnya aku sampai di depan rumah ku. Tempat dimana aku selalu di tunggu kedatangannya. Aku pun lalu langsung masuk ke dalam sambil mengucapkan salam saat pertama kali membuka pintu.


Setelah itu, aku langsung mandi dengan air hangat. Rasanya seperti semua rasa letih ku seharian ini mengalir kebawah bersamaan dengan air yang membasahi ku. Setelah selesai mandi, aku pun lalu langsung menuju ke kamar ku.

__ADS_1


Aku lalu segera merebahkan tubuh ku di kasur dan memejamkan mata ku. Rasanya aku sudah sangat ingin tertidur setelah seharian ini melakukan aktivitas. Tak berselang lama, aku pun tertidur.


***


Selasa 16 Agustus. Di kelas 10-7 setelah pembagian hasil ulangan Sejarah.


"Kau dapat berapa Lang?" tanya Ruben.


"87," jawab ku.


"Kalau kau San?" tanya Ruben.


"Hahaha aku senang kau bertanya. Entah apa yang terjadi aku sendiri saja tidak terlalu mengerti. Rasanya, terasa seperti keajaiban saja," ucap Ahsan.


"Aku tidak peduli dengan itu, katakan saja berapa nilai mu?" tanya Ruben lagi.


"Hahahaha persiapkan diri mu. Nilai ku adalahhhh 74. Aku lulus dengan nilai pas batas KKM hahahaha," ucap Ahsan.


"Haaa? Beneran tuh? Mungkin nilai mu salah kali. Nanti biar aku tanyakan lagi pada bu Ella apakah nilai mu sudah benar atau belum," ucap Ruben.


"Haaaa? Kau iri yah melihat ku lulus KKM seperti ini? Ngomong-ngomong nilai mu sendiri berapa?" tanya Ahsan.


"Sayang sekali, kurang dua lagi," jawab Ruben.


"Ha apa maksudmu? Kurang dua lagi kau lulus KKM begitu?" tanya Ahsan.


"Bukan, bukan begitu. Kurang dua lagi nilai ku jadi dua digit," ucap Ruben.


"Butuh dua lagi untuk nilai mu jadi dua digit? Hahahahahaaha berarti nilai mu cuma 8 dari 100?" Ahsan tertawa dengan terbahak-bahak.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2