
"Ehhh begitu ya...tapi jangan-jangan kalian udah pacaran yah??" tanya Risa dengan nada suara yang antusias.
"Ehhh engga-engga kok, kemaren kebetulan aja Galang ngajak aku. Kebetulan juga aku lagi ga ada acara, jadi aku ikut deh," jawab Cindy agak tersipu.
"Hmmm mencurigakan sekali, udah deh ngaku aja Cin hehehe. Ga usah malu-malu gitu," ledek Risa lagi.
"Beneran kok beneran, kami engga pacaran. Tanya aja Galang," Cindy masih tersipu. Pipinya kini bewarna kemerahan.
"Eh pipimu memerah tuh, wah jangan-jangan memang bener yah? Hehehe," Risa lanjut meledek.
"Engga ya..cuma kebetulan aja kemaren," Cindy berusa untuk terus membantah tapi raut wajahnya entah kenapa semakin memerah.
"Ngomong-ngomong adikmu kelas berapa Ris?" tanyaku mencoba mengalihkan topik.
"Adikku kelas 4 Lang, kalau adikmu?" Risa balik bertanya.
"Wah sama, adikku juga kelas 4. Namanya siapa? Kalau adikku namanya Hana," tanyaku lagi.
"Adikku namanya Ovi," jawab Risa.
"Oh Ovi ya," balasku singkat.
"Ngomong-ngomong kamu anak tunggal atau punya saudara lgi Cin?" kali ini Risa bertanya pada Cindy.
"Aku anak tunggal Ris," jawabnya dengan datar. Kali ini entah kenapa raut wajahnya agak bersedih.
"Wah pasti kamu disayang banget ya sama orang tua kamu. Soalnya kan anak tunggal hehe," Risa sedikit tersenyum.
Cindy hanya tersenyum tipis mendengar itu. Akan tetapi, entah kenapa senyum tipisnya itu seperti mengatakan banyak hal. Kesepian, kesedihan, rasa sakit, dan kesendirian. Lesung pipinya yang akan terlihat bila ia tersenyum atau tertawa pun seakan mengatakan hal yang sama.
"Mari berikan tepuk tangan yang meriah untuk penampilan yang ke-3," ucap pembawa acara dengan cukup keras yang sesaat memecah perhatianku pada raut wajah Cindy tadi.
"Wah itu adikku," ucap Risa dengan senyum sumringah di wajahnya.
__ADS_1
"Wah apakah dia akan bernyanyi juga Ris? Sama sepertimu waktu acara pentas seni dulu?," Cindy terlihat berusaha menyembunyikan perasaannya. Sepertinya Risa tidak menyadari kalau Cindy sepertinya menjadi sedih akibat ucapannya tadi.
"Iya hehe, dulu ibuku adalah seorang penyanyi. Akan tetapi setelah menikah, ibuku sudah tidak pernah bernyanyi di panggung lagi. Sekarang ibuku bekerja sebagai pelatih vokal saja di rumah," jelas Risa.
"Wah pantas ya kalian berdua pandai bernyanyi hehe," Cindy kembali tersenyum tipis.
Ovi pun kini sudah mulai bernyanyi. Suara tepuk tangan penonton ikut membuka penampilannya yang sedang membawakan lagu "Andaikan Aku Punya Sayap". Ia tampak percaya diri membawakan lagu itu. Sepertinya Ovi lebih memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi dari pada Risa saat berada di atas panggung.
***
Akhirnya setelah menunggu cukup lama, kini tiba giliran Hana untuk tampil. Aku masih belum tahu pertunjukkan apa yang akan ia tampilkan hari ini. Ia benar-benar membuatku penasaran hingga detik-detik terakhir menjelang penampilannya.
"Berikan tepuk tangan yang meriah kepada penampilan ke-9 kita hari ini. Mari kita sambut kelompok drama dari kelas 4 yang diberi nama Kelinci.....Kecillllll," ucap pembawa acara dengan penuh semangat.
Suara tepuk tangan yang meriah pun kini kembali terdengar menyambut kedatangan mereka di atas panggung. Ternyata Hana akan menampilkan drama bersama teman-temannya. Aku jadi tambah penasaran, kira-kira mereka akan menampilkan drama apa ya?
"Pada jaman dahulu, hiduplah seekor kancil. Ia hidup di hutan yang sangat luas dan sangat rimbun seorang diri. Setiap Hari ia melewati hari-harinya dengan penuh kesepian karena tidak memiliki seorang temanpun," narator mulai membacakan jalan cerita.
***
Kami pun melanjutkan menonton acara pentas seni itu sampai selesai. Total ada sekitar 15 penampilan yang ditampilkan. Setelah acara selesai, kami bertiga pun mutuskan untuk makan siang bersama. Kebetulan ada rumah makan Padang tak jauh dari sini. Kami pun memutuskan untuk makan di situ.
"Tadi penampilan adikmu lucu banget ya Lang. Apalagi tadi ia mengenakan kostum kelinci, jadi pengen meluk rasanya hehehe," ucap Risa sambil menyeruput minumannya.
"Ya begitulah hehe," jawabku sambil menyeruput minumanku juga.
Kami pun lalu tidak banyak berbincang lagi sampai kami menghabiskan makanan kami masing-masing.
"Habis ini kalian mau kemana?" tanya Risa yang terlihat sudah habis menyantap makanannya.
"Mungkin kami akan langsung pulang," jawabku yang sudah cukup lama menghabiskan makanannku.
Sekarang, cuma tinggal Cindy yang belum menghabiskan makanannya. Ia makan dengan perlahan. Wajar saja ia menjadi orang terakhir yang belum menghabiskan makanannya.
__ADS_1
"Hee jadi kalian gak mau kencan dulu nih?" Risa mulai menggoda lagi.
Cindy terlihat sedikit terkejut dengan pernyataan dari Risa itu. Ia pun sedikit batuk-batuk ketika mendengarkannya. Aku baru tahu ternyata Risa orangnya sangat suka sekali menggoda orang seperti ini. Aku pikir dia orangnya sedikit lebih pendiam.
"Eh kenapa Cin? Pelan-pelan aja makannya hehe," ucap Risa sambil mengelus punggung Cindy.
***
Setalah kami semua selesai makan siang, kami pun memutuskan untuk pulang. Karena arah rumah Risa berbeda, jadi dia pulang sendirian dari sini. Sementara itu aku dan Cindy pulang bersama.
"Makasih ya Lang sudah mau mengajakku melihat pentas seni di sekolahnya Hana," ucap Cindy agak lirih.
"Oh iya Cin bukan apa-apa kok," jawabku agak pelan juga.
"Maaf juga karena tadi kita dikira pacaran sama Risa. Maaf banget ya," Kini pipi Cindy kembali menjadi sedikit memerah.
"Eh gak papa kok hehe," aku mencoba menutupi perasaanku yang sebenarnya juga tersipu dan canggung.
Kami pun lalu berjalan perlahan menuju ke rumah Cindy terlebih dahulu. Angin siang ini berhembus cukup kencang, daun-daun pun banyak yang berguguran di sepanjang jalan. Aku diam-diam memperhatikan rambutnya yang beruraian terkena angin.
"Lang ada waktu ga?" Cindy tiba-tiba berhenti.
"Eh waktu? Sekarang?" aku terkejut dengan pertanyaan dari Cindy itu.
"Iya sekarang. Aku mau cerita soal masalahku yang waktu itu kamu tanya. Kamu mau kan mendengarkan ceritaku?" wajah Cindy kini terlihat seperti orang yang sedang memohon pertolongan.
Aku pun tidak bisa menolaknya. Lagi pula aku memang dari awal penasaran dan ingin membantunya sebisaku.
"Bisa kok, aku mau mendengarkan ceritamu," aku memasang senyuman dan berharap itu akan membuat Cindy merasa lebih baik.
Lalu kami pun berjalan menuju ke arah taman terlebih dahulu. Sejujurnya aku sangat berdebar-debar saat ini. Aku khawatir jika aku sudah mendengar ceritanya, tapi aku tidak bisa membantu apa-apa. Aku pasti akan merasa sangat bersalah jika itu sampai terjadi.
***
__ADS_1
Bersambung