Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 175 : Mengobrol Dengan Orang Asing


__ADS_3

Saat ini, kami sudah berada di atas candi Borobudur. Suasana saat ini begitu ramai. Rombongan kami sendiri saat ini mulai berpencar-pencar. Tentu saja, saat ini aku sedang bersama Ahsan dan Ruben berkeliling candi untuk mengamati bangunan bersejarah ini.


"Oi Ben, lihat tuh," ucap Ahsan sambil menunjuk ke arah turis asing laki-laki yang usianya mungkin sekitar 22 sampai 25.


"Bule? Kenapa memangnya?" tanya Ruben.


"Kau berani gak ajak bicara bule itu?" tantang Ahsan.


"Haaa? Ngajak bicara bule? Pake Bahasa Inggris?" tanya Ruben lagi.


"Ya iya lah, masa pake bahasa Krama Inggil (Bahasa Jawa tingkat sopan yang biasanya digunakan oleh yang muda kepada yang tua atau yang dihormati). Berani gak?" ketus Ahsan sambil melanjutkan tantangannya itu.


"Oke siapa takut," ucap Ruben dengan sedikit ragu tapi dengan nada yang mantap.


Kami bertiga lalu langsung menuju ke turis asing yang dimaksud oleh Ahsan tadi. Turis asing itu terlihat sedang sendirian.


"Eks kyus mi ser," ucap Ruben yang mana yang dia maksud adalah excuse me sir.


"Oh Hello," jawab turis asing itu.


"What is yur nem ser? (What is your name, sir) tanya Ruben lagi. Sementara itu, mendengar ucapan Ruben dalan bahasa Inggris tapi tetap medok (logat Jawa), Ahsan terlihat mulai tertawa kecil-kecil.


"Oh my name is Simon," balas turis asing itu.


"Bahasa Inggrisnya gimana kabar mu apaan?" tanya Ruben pada ku agak berbisik.


"How are you," jawab ku.


"How ar yu ser (How are you sir?" tanya Ruben masih dengan logat medoknya.


"Yeah, i'm fine. Thanks. Anyway, you are a kind guy huh," balas turis asing itu sambil sedikit tertawa.

__ADS_1


"Yes, yes," Ruben mengangguk seakan mengerti apa yang dikatakan turis asing itu barusan, "eh dia ngomong apaan Lang?"


"Hahahahaha," Ahsan langsung tertawa, "Apa-apaan kau ini, mengangguk-angguk seakan mengerti apa yang dia omongin aja hahahaha."


"Diam kau, memangnya kau tau apa yang dia katakan?" tanya Ruben balik.


"Ya jelas enggak lah hahaha," balas Ahsan.


"Wuuuu kalau begitu diam saja," timpal Ruben.


"Tadi katanya dia baik-baik saja. Terus, dia bilang juga kalau kau itu seorang yang ramah," ucap ku.


"Wahhh begitu yah. Aku kira apaan hahaha," jawab Ruben.


"Tengkyu ser... E... En... Eniwey, wer du yu kom from ser ? (thank you sir. Anyway, Where do you come from, sir?)" tanya Ruben lagi.


"Oh i'm from England. Are you still studying speaking right now? You look little confused when we are talking, and then you just look at your friend when you are confused. It's look like that you asking your friend to translate what i just say right?" jawab turis asing itu.


Ruben lalu tampak begitu kebingungan dan lagi-lagi ia menatap ke arah ku untuk pertanda meminta ku untuk menerjemahkan apa yang barusan orang asing itu katakan.


"Wahahaha dia benar sekali, waktunya bertukar tempat Lang," Ruben lalu langsung menarik ku untuk bertukar tempat dengannya (berbicara dengan orang asing itu).


"Ehhh?" ucap ku yang merasa terkejut karena harus bergantian dengan Ruben mengobrol dengan orang asing itu, maksud ku kenapa malah aku? Kan harusnya Ahsan.


"Yeah, you are right Simon. He is still studyng English. I'm so sorry, we are so sorry if we disturb you (yah, kau benar Simon. Dia memang masih belajar Bahasa Inggris. Saya sangat menyesal, kita sangat menyesal jika kami mengganggu kamu)," ucap ku.


"No, i'm not. Anyway, I'm so happy to meet you guys. It gives me some experiences to talk with Indonesian, and i enjoy it (engga kok, aku gak merasa terganggu. Hal itu justru memberi ku beberapa pengalaman untuk berbincang-bincang dengan orang indonesia, dan tentu saja aku menikmatinya)," jawab Simon.


"Oi si Galang ama bulenya lagi ngomongin apaan yah?" bisik Ruben pada Ahsan.


"Ya mana aku tau hahaha. Mungkin mereka berdua lagi ngomongin kebodohan kamu hahaha," jawab Ahsan sambil tertawa.

__ADS_1


"Haaa? Kenapa cuma aku? Kau kan juga sama-sama gak tau," gumam Ruben.


"So, do you come here alone, Simon? (Jadi, apakah kamu datang ke sini sendirian, Simon?)" tanya ku pada orang asing itu lagi.


"No i don't. I come here with my brother. But now, he is in the other place (Tidak. Aku datang ke sini dengan saudara laki-laki ku. Tapi sekarang dia sedang berada di tempat yang lain)," jawab Simon.


Ahsan dan Ruben kini hanya terlihat mengangguk-ngangguk dan sesekali tertawa kecil.


"Anyway, i wonder how old are you. I guess you are between 22 to 25, right? (ngomong-ngomong, aku penasaran berapa usia mu. Aku menebak bahwa usia mu itu antara 22 sampai 25, benar?)" tanya ku lagi.


"Yeah, you are right. I'm 24 this year (ya, kamu benar. Usia ku 24 tahun ini)," jawab Simon.


***


Setelah selesai berbincang dengan turis asing itu, kami bertiga kembali meneruskan penjelajah kami di candi Borobudur ini. Saat ini, kami sedang melihat-lihat relief yang terpahat di dinding-dinding candi. Relief-relief ini seperti sedang menggambarkan sebuah cerita yang berkesinambungan.


"Keren yah orang dulu, bisa buat bangunan Se-besa dan se-bagus ini. Apalagi candi Borobudur kan terletak di atas perbukitan," ucap Ruben.


"Iya lah. Kan orang dulu sakti-sakit," timpal Ahsan.


"Ngomong-nomong kalau kita hidup di jaman saat candi ini dibangun, kira-kira kita bakalan ikut bangun juga engga yah?" ucap Ruben.


"Ya ikut lah, kan kita ini cuma rakyat biasa. Ya pasti ikut lah," jawab Ahsan.


"Yakin ikut? Jangan sok tau lah," ketua Ruben.


"Ya kan tadi kau tanya pada ku kan? Ya udah aku jawab aja. Kalau urusan percaya atau gak, ya urusan mu itu, bukan urusan ku," ketua Ahsan.


"Oiya ngomong-ngomong yang lain mana nih? Udah mau siang nih, mau turun dulu atau nanti nih?" tanya Ruben.


"Oiya gak kerasa udah jam 10 lebih nih. Tapi mungkin sampai jam 11 kurang dikit aja kali yah kita di sini? Rasanya masih belum puas loh ini hahaha," ucap Ahsan.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2