Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 147 : Waktu yang seakan terhenti


__ADS_3

Dengan cepat Celine langsung membalas balasan Galang yang baru saja ia kirim itu, "Tadi aku niatnya mau ngajak kamu makan, kebetulan aku juga ada di daerah Deket rumah mu, tapi tadi kamu gak bales jadi yaudah deh hehehe."


"Begitu ya. Maaf yah tadi aku sedang baca buku jadi engga perhatiin kalau ada pesan masuk. Ini baru aku buka HP sekarang," balas ku melalui WA.


"Wah baca buku? Rajin belajar yah hehehe," balas Celine.


"Bukan buku pelajaran kok. Maksud ku buku novel," jawab ku.


"Owh novel yah. Oh iya kamu kan suka baca-baca novel yah. Ngomong-ngomong akhir-akhir ini kamu lagi baca novel apa?" tanya Celine lagi.


"Ini, Kesatria Bulan," jawab ku.


"Wah kedengarannya menarik :D," tulis Celine.


"Iya menurut ku menarik sekali. Saking menariknya, aku bahkan sampai-sampai sangat sayang ketika membacanya. Sayang apa bila ceritanya cepat habis aku baca," balas ku.


"Hihihihi kenapa bisa begitu? Aneh juga yah kamu," balas Celine lagi.


Setelah itu aku tidak tahu lagi harus membalas Celine dengan apa. Pada akhirnya aku pun lebih memilih untuk tidak membalasnya lagi dan pikiran ku kembali memikirkan soal Cindy tadi.

__ADS_1


***


Setelah beberapa menit berpikir dan merenung, akhirnya aku mendapatkan ide agar aku bisa bertemu dengan Cindy. Aku kepikiran untuk kembali ke toko buku milik neneknya. Jika Cindy masih belum juga pulang, aku hanya tinggal menunggunya saja hingga pulang. Lagi pula, jika aku menelpon atau mengiriminya pesan, Cindy pasti hanya akan menghiraukan ku seperti sebelum-sebelumnya.


Sebelum pergi kembali ke toko buku milik neneknya, aku terlebih dahulu memberi tahu ibu ku bahwa aku akan pulang sedikit lebih malam hari ini. Aku pun sepertinya akan makan malam di luar saja setelah itu. Jadi, aku bilang pada ibu ku untuk tidak perlu membeli atau membuat makan malam untuk ku, cukup untuk berdua saja, ibu dan Hana.


Saat aku mulai berjalan, dengan mendadak angin berhembus cukup kencang dan terasa begitu dingin. Kebetulan, hari ini aku tidak membawa jaket, jadi rasa dingin itu dengan leluasa langsung menusuk ke bagian dalam tubuh ku.


Saat aku berjalan saat ini, langit sudah dipenuhi dengan bintang-bintang. Bulan pun terlihat sudah berada di tempat dimana ia semestinya berada saat matahari sudah menghilang.


Aku sering berpikir sendiri, apakah benar manusia benar-benar sudah pernah menginjakkan kakinya di bulan? Di bulan yang hampi setiap malam kita lihat itu? Entahlah. Jika mereka sudah pernah melakukannya, mereka pasti akan sangat beruntung.


Aku juga sempat berpikir bahwa mungkinkah sebenarnya bulan dan matahari itu sedang bermain petak umpet? Dimana satu dan yang lainnya berusa agar tidak saling bertemu. Jika benar seperti itu, kira-kira siapakah di akhir nanti yang akan memenangkannya yah? Siapa yang akan berhasil menemukan yang lainnya terlebih dahulu? Entahlah.


Aku kini berjalan dengan cukup cepat. Hawa dingin yang semakin terasa, memaksa ku untuk bergerak lebih cepat supaya bisa cepat sampai di tujuan ku yaitu di toko buku.


Lampu-lampu jalan yang amat terang itu, entah kenapa tidak dapat menjangkau hati ku ini. Lampu-lampu itu hanya bisa menerangi jalanan saja, sementara itu hati ku entah kenapa di dalam sana terasa begitu gelap dan sepi.


***

__ADS_1


Akhirnya, aku telah sampai kembali di toko buku. Aku pun langsung masuk dan kembali bertanya pada mas Reza apakah Cindy sudah pulang atau belum. Ternyata, kata mas Reza Cindy hingga saat ini masih belum juga pulang.


Aku pun lalu keluar dari dalam toko dan mulai menunggu kedatangan Cindy tepat di samping pintu masuk toko. Karena saat ini aku sudah tidak bergerak dalam artian aku hanya diam berdiri di sini sambil menunggu Cindy, hawa dingin kali ini terasa lebih dingin dan terasa lebih menusuk. Aku pun lalu meletakkan tas punggung ku di bagian depan tubuh ku. Sehingga, aku bisa memeluk tas itu dan setidaknya mengurangi hawa dingin yang juga diselingi dengan hembusan angin yang semakin menambah dingin.


***


Sudah beberapa menit aku menunggu Cindy di depan sini. Di dalam tunggu ku ini, aku selalu berharap bahwa langkah kaki yang terdengar di sekitar sini adalah milik Cindy. Mungkin aku saat ini terlihat seperti orang aneh yang sedang menunggu ketidakpastian di depan sebuah toko buku kecil di pinggiran kota. Namun, aku tidak merasa malu atau semacamnya. Rasa kegelisahan ku terhadap Cindy mengalahkan segala perasaan malu atau semacamnya.


Jika saja aku mempunyai kekuatan super yang bisa membaca pikiran orang, mungkin tidak akan sampai se-penasaran dan se-bingung ini. Namun, jika pun aku mempunyai kekuatan seperti itu, rasanya mungkin hidup ku akan lebih dipenuhi oleh masalah.


Bayangkan saja kalau kalian bisa membaca pikiran orang, itu berarti kalian akan bisa mendengar apa yang mereka pikirkan ketika pertama kali melihat mu. Kesan yang bagus mungkin tidak akan jadi masalah, akan tetapi bagaimana dengan kesan yang buruk? Belum lagi setiap saat entah di jalan, di sekolah, di taman, di toko, atau dimana pun itu kalian akan mendengarkan masalah orang-orang yang sedang berada di sekitar situ. Memikirkan masalah diri kita sendiri saja terkadang sangat membuat frustasi, apa lagi jika kalian harus mendengarkan masalah dari setiap orang yang kalian temui. Membayangkannya saja sudah membuat ku merasa mual.


Tak lama berselang, aku mendengar langkah kaki yang mendekat dari arah samping kanan. Dari irama langkah kakinya, aku sepertinya sudah tahu siapa pemilik langkah kaki itu. Untuk memastikannya aku pun menoleh ke arah samping kanan dengan hati yang sudah sangat berdebar-debar.


Benar saja seperti yang aku duga sebelumnya. Langkah kaki yang baru saja datang itu adalah milik Cindy. Akhirnya, aku bertemu dengannya setelah cukup lama aku mencari dan menunggunya. Saat ini, perasaan ku sangat campur aduk. Gelisah, bingung, senang, khawatir, lelah, sedih, semuanya bercampur menjadi satu.


Di bawah sinar rembulan yang sinarnya tidak terlalu terang itu, akhirnya kau bertemu dengan Cindy. Kedua mata kami saat ini saling bertemu, akan tetapi mulut kami masih terkunci dengan rapat. Langkahnya pun terhenti, sekitar 5 langkah di hadapan ku.


Saat ini, waktu dan dunia ku seakan berhenti. Saat ini, aku tidak bisa melihat dan merasakan apa pun di sekitar ku. Semuanya terlihat begitu buram dan samar. Hanya saja, di saat semuanya seperti sedang terhenti itu, yang aku lihat hanyalah sosok Cindy semata.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2