Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 62 : Setelah Pertandingan


__ADS_3

Setelah pertandingan berakhir, kedua tim pun saling berjabat tangan. Pertandingan yang sangat seru hingga detik terakhir pertandingan. Setelah itu, kami pun duduk-duduk santai sambil beristirahat dan mengobrol satu sama lain.


"Wah seru juga yah tadi," ucap Aji.


"Iya nih, besok kapan-kapan main lagi yuch?" ucap Ahsan dengan logat khasnya.


"Hahaha kenapa ngomong mu seperti itu San?" tanya Agung.


"Ha kok aku?" jawab Ihsan.


"Bukan kau San, tapi Ahsan hahaha," ucap Agung.


"Hahahaha nama terakhir kalian sama-sama 'San', jadi salah tanggap begitu hahaah," lanjut Agung lagi.


"Apa-apaan tuch?" balas Ahsan dengan logat khasnya lagi.


"Ngomong-ngomong si Risal ga dateng nih," ucap Aji.


"Iya nih, kenapa yah? Ada yang tau?" tanya Fahmi.


"Entahlah, Risal juga selalu terlihat menyendiri di sekolah. Aku bahkan belum pernah melihatnya mengobrol dengan siapa pun," balas Agung.


"Iya yah, dia selalu saja terlihat sendiri," tambah Aji.


"Satu-satunya hal yang aku tahu tentangnya adalah dia sangat menyukai Anime dan hal-hal yang berbau Jepang," ucap Calvin.


"Ada yang tau rumahnya? Bagaimana kalau kita samperin aja kerumahnya?" tanya Fahmi.


Tak ada seorang pun yang menjawab pertanyaan dari Fahmi. Sepertinya memang kami tidak tahu apa-apa tentang Risal kecuali kesukaannya tentang Anime dan hal-hal yang berbau Jepang. Itu pun kami tahu karena dia sendiri yang bilang waktu ditanya hal yang paling disukai waktu bu Hesti mengajar satu minggu yang lalu.


"Gak ada yah?" tanya Fahmi lagi.


"Sepertinya memang gak ada Mi," jawab Aji.

__ADS_1


Tiba-tiba saja langit menjadi agak mendung sekarang. Kami pun lalu saling berpamitan dan mulai pulang satu per satu.


"Oi Lang mau pulang bareng?" tanya Ruben yang di sampingnya sudah ada Ahsan.


"Boleh, ayo," jawab ku.


Kami bertiga pun lalu pulang bersama. Karena masih sedikit haus, kami pun memutuskan untuk mampir dulu di minimarket untuk membeli minum. Kami pun lalu langsung mencari minimarket terdekat dari sini. Tak butuh waktu lama, ternyata ada minimarket yang jaraknya hanya sekitar 100 meter saja dari sini. Kami bertiga pun langsung menggowes sepeda kami menuju ke sana.


Sesampainya di sana kami langsung membeli minuman dingin kesukaan kami masing-masing. Aku dan Ahsan membeli minuman rasa jeruk, sementara Ruben membeli minuman rasa stroberi. Setelah selesai membayar di kasir, kami pun lalu duduk santai sambil meminum minuman yang barusan kami beli itu meskipun langit terlihat semakin mendung.


"Ahhh segarnya..." ucap Ruben sambil memejamkan matanya.


"B aja kalich," balas Ahsan dengan logat khasnya.


"Emang apa sih yang ga boleh? Sombong amattt," balas Ruben sedikit kesal.


"Ngomong-ngomong tadi kalian telat kenapa?" tanya ku memotong perdebatan mereka berdua.


"Sudah aku bilang tadi kan, kami telat gara-gara si bodoh Ruben," jawab Ahsan.


"Tentu saja gara-gara kau lach. Gara-gara kau membeli kaos kaki terlebih dahulu saat kita sedang berangkat ke sini, kita jadi telat kan? Apakah kau tidak ingat itu? Kau masih ingat kan?" ucap Ahsan.


"Tentu saja aku masih ingat, tapi kan itu semua juga bukan murni kesalahan ku. Aku membeli kaos kaki terlebih dahulu itu pun gara-gara kau yang membakarnya kan?" Ruben mencoba untuk membela diri.


"Kan aku tidak sengaja membakar kaos kaki mu," balas Ahsan dengan nada tidak berdosa dan sedikit bersiul.


"Oh begitu ya, aku kira kenapa," ucap ku lagi-lagi memotong perdebatan mereka.


"Tapi karena hal itu, kami jadi tahu kenapa Risal tidak datang hari ini," ucap Ahsan tiba-tiba menyinggung soal Risal.


"Eh benarkah kalian tau? Terus tadi kenapa kalian tidak menjawab pertanyaan dari Fahmi?" tanya ku pada mereka.


"Kalau soal itu, kami sebenarnya sudah berjanji pada Risal untuk tidak memberitahukannya pada yang lain, jadi kami tadi pura-pura tidak tahu apa-apa," jawab Ahsan dengan nada sedikit melirih.

__ADS_1


"Oh begitu yah... Yaudah mau bagaimana lagi," jawab ku yang sebenarnya sangat penasaran dengan alasan di balik tidak hadirnya Risal.


"Tapi sepertinya tidak apa-apa jika kami menceritakannya pada mu Lang. Tapi tolong jangan disebarkan dulu yah. Simpan rahasia ini dulu di antara kita bertiga," lanjut Ahsan lagi.


Aku pun mengangguk tanda setuju dengan syarat yang diajukan Ahsan barusan.


"Sebenarnya saat kami sedang membeli kaos kaki futsal tadi di sebuah toko, kami bertemu dengan Risal di toko tersebut," ucap Ahsan membuka fakta awal tentang Risal.


"Terus?" tanya ku lagi yang semakin merasa penasaran.


"Iya kami bertemu dengannya, tapi dia bukan sebagai pelanggan, melainkan menjadi kasir di toko olahraga tersebut. Dengan kata lain mungkin dia sedang bekerja di situ atau semacamnya," lanjut Ahsan menceritakan fakta tentang Risal.


"Begitu ya, tapi apakah kalian tau alasan dibalik iya bekerja di situ?" tanya ku dengan penasaran.


Ahsan dan Ruben kompak mengangkat bahu mereka pertanda tidak tahu.


"Hanya itu saja yang kami tahu, setelah itu ia hanya berpesan untuk tidak menceritakannya pada yang lain," lanjut Ruben.


"Begitu ya," ucap ku dengan rasa penasaran yang masih meluap-luap.


Karena langit semakin mendung dan gelap, kami pun memutuskan untuk segera pulang. Lampu-lampu rumah dan pertokoan pun sudah mulai dinyalakan. Aku pun lalu mengayuh sepeda ku dengan agak cepat sampai-sampai tanpa sadar meninggalkan Ahsan dan Ruben di belakang.


***


Sesampainya di rumah, aku langsung mandi dan langsung makan malam bersama ibu dan Hana. Setelah selesai makan malam, aku pun membantu ibu untuk mencuci piring yang kotor. Selanjutnya, aku langsung menuju ke kamar ku dan langsung beristirahat sambil tiduran di kamar ku. Sambil beristirahat, aku juga memikirkan tentang Risal yang tadi tidak hadir di pertandingan dan alasan ia harus bekerja di toko olahraga. Dan apakah itu juga berhubungan dengan sikap penyendirinya di sekolah? Entahlah. Saat ini aku masih belum bisa menyimpulkan apa-apa.


Aku pun lalu melihat keluar jendela. Langit yang tadi mendung itu, kini terlihat sedang mengeluarkan air matanya walaupun hanya gerimis kecil. Udara pun kini terasa mulai dingin. Aku lalu mengambil selimut lalu aku membungkus badan ku dengan selimut itu.


Sambil memandang keluar jendela yang masih terbuka itu, aku terus menerus melamun. Aku pun kini jadi penasaran, kira-kira apa yang orang-orang di sekitar ku pikirkan waktu aku menjadi sangat penyendiri waktu SMP dulu yah? Apakah ada di antara mereka yang juga merasakan penasaran alasan dibalik sifat penyendiri ku itu? Entahlah.


Hujan yang tadinya gerimis kecil itu akhirnya reda. Aku pun lalu kembali meletakkan selimut ku kembali ke atas kasur. Aku pun lalu menutup jendela kamar ku dan mematikan lampu. Karena hari ini cukup melelahkan, mungkin aku akan langsung tidur saja malam ini. Selamat malam.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2