
Dua anak terakhir adalah Fajar dan Calvin. Menurutku fajar adalah orang yang selalu saja terlihat sibuk, selain itu ia juga terlihat sangat pandai. Mungkin secara akademik, ia adalah anak laki-laki terpandai di kelas kami.
Selanjutnya Calvin, satu-satunya anak laki-laki yang memakai kaca mata. Aku pun baru menyadari belum lama ini bahwa ternyata aku dan Calvin dulunya satu SMP. Aku benar-benar terkejut ketika mengetahui fakta tersebut.
Dari kesebelas anak tersebut, semuanya terlihat memiliki kelompok kecil mereka masing-masing. Ahsan dengan Ruben, lalu Aji dengan Renaldi. Kemudian Calvin, Fahmi, dan fajar. Selanjutnya Agung, Ihsan, dan Tomi. Yang terakhir adalah Risal. Risal terlihat tidak terlalu dekat dengan siapa pun. Ketika istirahat ia lebih sering terlihat sedang baca komik atau sekedar tiduran di mejanya sambil mendengarkan lagu menggunakan earphone besarnya itu. Sebenarnya Risal mengingatkan ku tentang diri ku sendiri ketika masih SMP yang selalu terlihat sendiri dan asik dengan dunianya sendiri.
***
Di pagi hari ini, rencananya aku hanya akan tiduran dan membaca buku hingga siang nanti. Dengan kata lain, aku tidak memiliki rencana apa pun hingga siang nanti.
Sepertinya aku akan membaca buku tentang Sepak Bola lagi. Aku sungguh mulai serius tertarik dengan Sepak Bola. Aku pun kini sudah memiliki klub bola favorit, yaitu Liverpool FC yang berasal dari Inggris sana. Klub yang bermarkas di stadion Anfield tersebut telah puasa gelar juara liga kurang lebih sekitar 29 tahun.
Meskipun begitu, entah kenapa aku langsung jatuh hati ketika melihat semua aspek dari klub tersebut. Mulai dari stadion, nama, pelatih, pemain, fans, dan sejarah mereka dari awal terbentuknya klub. Aku menyukai semua itu dari mereka.
Untuk ekstrakulikuler Sepak Bola hari Rabu minggu ini, rencananya pak Bimo sudah akan mulai melakukan seleksi untuk persiapan turnamen tingkat kota. Entah kenapa setelah mendengar hal itu, aku juga semakin menjadi bersemangat dan termotivasi. Aku pun berharap aku bisa terpilih menjadi salah satu pemain yang mewakili sekolah kami. Rasanya, ini adalah pertama kalinya dalam hidup ku aku memiliki ambisi seperti ini.
***
Setalah cukup lama membaca buku, aku pun merasa cukup membaca buku tentang sepak bola untuk hari ini. Sekarang sudah sekitar pukul 12.21. Mungkin aku akan makan siang terlebih dahulu sebelum memutuskan akan melakukan apa selanjutnya.
Saat aku akan mengambil makan siang di dapur, tiba-tiba saja ponsel ku berbunyi. Aku lalu mengambil ponsel ku dan melihat siapa yang sedang memanggil ku. Ternyata yang sedang memanggil ku adalah Ruben.
Sejujurnya, aku lebih suka bertukar pesan dari pada harus berbicara lewat ponsel. Terkadang bahkan aku sampai harus menunggu panggilannya berhenti terlebih dahulu sebelum aku membalas telepon tersebut dengan sebuah pesan. Aku tidak enak hati jika aku harus menolak sebuah panggilan, tetapi aku juga tidak terlalu nyaman jika harus mengobrol lewat telepon. Maka dari itu aku hanya akan menunggu panggilan itu berhenti sebelum aku mengiriminya sebuah pesan balasan.
Setelah ponsel ku berhenti berdering, ternyata Ruben memanggil ulang. Ponsel ku pun kembali berdering. Aku pun dengan terpaksa mengangkat telepon dari Ruben tersebut.
"Hallo Lang?" ucap Ruben saat aku baru menerima panggilannya.
__ADS_1
"Hallo Ben, ada apa?" jawab ku.
"Aduh pulsaku mau habis," ucap Ruben dengan cepat.
Setelah Ruben mengucapkan kalimat tadi, sambungan telepon tiba-tiba terputus. Aku pun agak heran kenapa dia menelpon ku jika pulsanya hampir habis? Tak lama setelah itu, Ruben pun mengirimi ku sebuah pesan lewat WA.
"Sori Lang, tadi pulsaku sudah habis, jadi telponnya terputus deh wkwkwk," tulis pesan tersebut.
"Iya gapapa. Lagian kalo pulsa mu mau habis kenapa gak ngirim WA aja? Atau paling engga telpon lewat WA?" tanya ku sedikit heran padanya.
"Aku pikir tadi pulsa ku masih banyak wkwkwk, ternyata baru beberapa kata udah habis," balasnya.
"Jadi, ada apa Ben kau sampai menelpon ku begitu?" tanya ku penasaran.
"Biasa mau ngajak main nih. Bosen aku sendirian di rumah," balasnya cepat.
"Enaknya kemana ya?" jawab Ruben yang menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.
"Mana ku tau. Kau kan yang ngajak Ben," balas Ku.
"Benar juga ya wkwkkwk. Bagaimana kalau kita berenang saja nanti siang menuju sore?" tanya Ruben.
"Boleh, aku juga gak ada acara nanti sore. Mau renang dimana emangnya?" tanya ku lagi.
"Di kolam renang "Tirta" aja, yang murah," balasnya.
"Oke, nanti mau ke sana jam berapa?" tanya ku lagi.
__ADS_1
"Mungkin sekitar jam dua gimana? Nanti biar sampai sana ga terlalu sore," balas Ruben.
"Boleh, nanti aku sudah sampai di rumah mu jam dua yah," balas ku.
"Oke, aku tunggu," balas Ruben.
Setelah itu, aku pun kembali melanjutkan langkah ku menuju ke dapur untuk mengambil makan siang ku. Menu hari ini adalah sayur tempe dengan sop bening. Aku pun lalu menuangkan sop bening dan sayur tempe tersebut ke dalam nasi hangat yang baru saja aku ambil. Aku pun lalu menyantap menu makan siang ku itu dengan lahap.
***
lima belas menit lagi hingga jam 2 siang. Aku pun sudah bersiap-siap akan segera menuju ke rumah Ruben sesuai dengan janji ku tadi. Sebelumnya, aku sudah memasukkan baju ganti dan sabun ke dalam tas yang sedang aku gendong sekarang ini. Setelah selesai mengikat tali sepatu, aku pun siap untuk langsung berangkat menuju rumah Ruben.
Cuaca hari ini lumayan berawan, tidak terlalu cerah. Aku pun berjalan cukup cepat kali ini agar segera sampai di rumah Ruben.
Seperti biasa, saat ini ibu dan Hana sedang berada di toko bunga. Aku pun tadi sudah meminta izin pada ibu dengan mengirim sebuah pesan lewat WA. Rasanya aku belum pernah sekali pun dilarang oleh ibu ku ketika hendak pergi ke suatu tempat. Ibu ku selalu mengizinkan ku untuk pergi ke segala tempat yang aku minta izin untuk pergi. Ibu ku hanya akan bilang "hati-hati".
Saat aku melewati toko buku kecil milik nenek Cindy, aku mendapati bahwa tokonya sedang tutup. Mungkin saat ini Cindy dan neneknya sedang bersantai sambil menikmati teh buatan Cindy yang rasanya sangat khas. Entahlah aku hanya asal menebak saja.
***
Akhirnya, aku sampai di depan rumah Ruben yang terlihat sepi. Aku pun lalu segera mengetok pintu rumahnya sambil memanggil-manggil namanya. Butuh waktu cukup lama sampai ia membukakan pintu nya.
"Wah kau telat Lang," ucap nya saat pertama kali membuka pintu.
"Tapi aku sudah sampai di depan rumah mu dari tadi loh. Karena kau cukup lama membuka pintuya, aku jadi terlihat seperti sudah telat," ucap ku.
***
__ADS_1
Bersambung