
Tak terasa, aku sudah sampai di area sekolah ku. Aku pun sudah bisa melihat gedung sekolah dari sini. Gedung yang penuh dengan cahaya lampu.
Suasana di sekitar sini cukup ramai. Banyak pedagang kaki lima yang berjejer di pinggir jalan. Aku pun berhenti sejenak di salah satu sudut pinggir jalan sambil memandangi gedung sekolah.
Telah banyak hal yang berubah setelah aku masuk SMA. Rasanya, kini aku sudah memiliki banyak teman yang mana membuat hari-hari ku menjadi lebih bewarna.
Setelah cukup lama berhenti, aku pun lalu melanjutkan langkah kaki ku. Kali ini, aku akan langsung menuju rumah karena sekarang waktu sudah menunjukkan jam 9 lebih.
Aku melangkahkan kaki dengan perlahan sambil memandangi langit. Di saat aku sedang memandangi langit, tiba-tiba saja aku melihat bintang jatuh. Aku penasaran, kira-kira akan kemanakah perginya bintang yang terjatuh itu?
Kini, aku akan melewati toko buku tempat Cindy dan neneknya tinggal. Entah kenapa jantungku menjadi berdebar-debar ketika akan melewatinya. Aku pun mempercepat langkah ku.
Di saat aku tepat berada di depan toko buku itu, aku melihat Cindy tengah duduk di balkon lantai dua. Mata kami pun saling bertemu dalam pandangan sesaat tersebut, lalu kami pun saling memalingkan pandangan kami setelah itu. Jantung ku benar-benar berdebar saat mata kami saling bertatapan tadi.
Namun meskipun mata kami bertemu, akan tetapi kami tidak saling bertukar kata. Mulut kami diam membisu seakan tidak terjadi apa-apa. Aku pun tidak berhenti, aku terus melangkahkan kakiku.
Di saat aku hampir benar-benar melewati toko buku itu, tiba-tiba saja ada suara yang memanggil ku. Lalu, aku pun menengok ke belakang. Seperti dugaanku, suara yang memanggil ku barusan adalah suara milik Cindy. Aku pun berhenti.
"Galang, tu-tunggu ad-da hal yang ingin aku katakan," ucap Cindy dengan gugup dari balkon, lalu ia segera turun dan menemui ku.
"Maaf memanggil mu tiba-tiba," ucap Cindy saat sudah sampai di hadapan ku.
"Oh iya gapapa, a-ada a-apa Cin?" tanya ku yang juga merasa gugup.
"Kamu ada waktu ga? Aku mau cerita soal masalah ku," ucap Cindy.
"Boleh, mau cerita dimana?" tanya ku.
__ADS_1
"Di balkon atas aja gimana?" ucap Cindy.
"Boleh," balas ku.
Kami pun lalu berjalan masuk ke dalam toko buku yang sudah tutup itu. Lalu, kami pun langsung naik tangga menuju balkon lantai dua.
"Silahkan duduk di sini Lang," ucap Cindy sambil mempersilahkan ku untuk duduk di sebuah kursi.
"Oh iya, terima kasih," ucap ku yang kemudian duduk di kursi itu.
"Sebentar ya, aku buatkan teh dulu," ucap Cindy.
"Eh gak usah repot-repot Cin, begini saja sudah cukup kok," ucap ku yang merasa tidak enak pada Cindy.
"Gak repot kok, tunggu sebentar ya," Cindy lalu pergi ke lantai satu untuk membuatkan ku teh.
Tak lama setelah itu, Cindy kembali dengan membawa dua cangkir teh hangat.
"Silah kan Lang," ucap Cindy sambil meletakkan kedua cangkir teh tersebut di meja.
"Oh iya, makasih Cin," balas ku agak gugup.
"Maaf ya tiba-tiba memanggil mu di jalan seperti tadi," ucap Cindy yang kini sudah duduk di kursi samping meja.
"Iya gak papa Cin, lagi pula aku juga tidak sedang buru-buru. Oiya ngomong-ngomong nenek mu dimana?" tanya ku.
"Nenek sudah tidur hehe. Dia selalu tidur antara jam 8 sampai jam 9. Makanya, toko ini selalu tutup di jam 7 malam," jawab Cindy.
__ADS_1
Setelah itu kami tidak saling bicara untuk beberapa saat. Mungkin kami berdua sama-sama merasa canggung. Aku pun terkejut ketika tadi Cindy memanggil ku dari atas sini. Terasa seperti bukan Cindy saja.
"Jadi, kamu mau cerita apa Cin?" tanya ku membuka kembali percakapan yang sempat terhenti tadi.
"Oh iya hehe, maaf aku bingung sampai-sampai tak tahu harus memulainya dari mana," ucap Cindy dengan raut muka sedikit kebingungan.
"Baiklah, aku akan memulai dari sewaktu kamu melihat ku menangis di taman seorang diri. Maaf ya waktu itu aku tidak berkata apa pun pada mu. Waktu itu aku benar-benar hancur," lanjut Cindy.
"Oh iya gak papa, aku juga tidak terlalu mempermasalahkannya," jawab ku.
"Jadi ceritanya waktu itu ibu ku baru saja menikah lagi sekitar dua bulan lalu. Ibu ku menikah dengan seorang laki-laki yang juga sudah mempunyai anak. Laki-laki itu sudah memiliki dua orang anak saat menikahi ibu ku. Anak pertamanya dua tahun lebih tua dariku, sementara anak keduanya satu tahun lebih muda dari ku. Kedua anaknya adalah perempuan. Awalnya semua berjalan baik-baik saja, akan tetapi," Cindy berhenti sejenak, matanya kini memerah dan dia terlihat seperti sedang menahan tangis.
Aku pun tak tahu apa yang harus aku lakukan atau katakan pada saat ini. Aku pun hanya diam sambil menunggu Cindy melanjutkan ceritanya.
"Akan tetapi, tiga minggu belakangan ini, sikap saudara tiri ku berubah. Aku mulai di suruh-suruh oleh mereka. Mulai dari mencucikan pakaian mereka, mencucikan piring, hingga membersihkan kamar mereka. Tak hanya saudara tiri ku saja yang berubah, ayah tiri ku juga perlahan menunjukkan sifat aslinya. Mereka sering marah-marah bahkan sampai menghina ku dengan kata-kata yang menyakitkan. Tak jarang, mereka juga sampai mendorong ku hingga terjatuh jika aku tidak mematuhi perintah mereka," lanjut Cindy yang kini mulai menitikan air matanya tanpa ia sadari.
"Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah ketika aku menceritakan hal buruk itu pada ibu ku. Ibu ku seakan tidak peduli lagi padaku dan malam membela mereka. Karena aku sudah tidak kuat lagi, aku pun memilih untuk pindah ke rumah nenek. Oleh karena itu, aku sempat dua hari tidak masuk sekolah karena aku masih trauma dan selalu menangis sepanjang hari," lanjut Cindy.
"Maaf ya Lang, aku jadi cerita panjang lebar begini. Maaf juga harus menyeretmu masuk ke dalam masalah ku," ucap Cindy lagi sambil menghapus air mata yang jatuh di pipinya itu.
"Gak papa kok Cin. Aku malah senang bila dengan begitu aku bisa membantu mu," jawab ku.
"Aku pernah baca kalau kita bercerita tentang masalah kita kepada orang lain, itu sama saja kita sedang membagi rasa sakit yang ada pada masalah itu sehingga kita akan merasa lebih baik lagi setelah bercerita," lanjut ku.
"Maksih ya Lang kamu memang orang baik. Kamu bahkan tidak menceritakan apa yang kamu lihat waktu itu pada teman-teman di kelas. Jadi, tak ada seorang pun yang tahu kalau aku sampai menangis begitu kecuali kamu," ucap Cindy lagi.
***
__ADS_1
Bersambung