Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 26 : Tangisan


__ADS_3

"Huooo," Ahsan berusaha memuntahkan roti yang diberikan oleh Ruben tadi.


"Ahsan kamu kenapa?" tanya Ayu si ketua kelas yang kebetulan sedang berdiri tak jauh dari situ.


"Gak papa Yu, ini cuma gara-gara si anak ***** Ruben," ucap Ahsan yang masih berusaha mengeluarkan roti itu dari mulutnya.


"Eh Ruben? Kenapa?" tanya Ayu lagi.


"Hahahahahaaha," tiba-tiba Ruben tertawa amat keras.


"Sialan kau," ucap Ahsan pada Ruben.


"Ahahahahahahhahah," Ruben masih saja tertawa.


"Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" tanya Erni yang sedang duduk di kursinya.


Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi hingga membuat Ahsan memuntahkan roti pemberian Ruben. Aku rasa roti itu tidak beracun atau apa, karena aku lihat Ruben baru beli roti itu bersamaku tadi.


"Hahahaha enak rotinya?" tanya Ruben sambil tertawa. Dari tadi Ruben terlihat sangat terhibur. Mungkin ini adalah ulah Ruben yang membuat Ahsan seperti itu.


"Cih, awas kau yah, lain kali aku akan membalasnya," ucap Ahsan yang sekarang sudah terlihat normal kembali. Ia lalu kembali masuk ke dalam kelas dan menghampiri kami.


"Berarti sekarang skornya 48-45 masih keunggulanku yah?" ucap Ruben lagi.


"Cih, kau beruntung karena aku sedang lengah," jawab Ahsan.


"Sebenarnya kau kenapa sampe memuntahkan roti itu San?" tanyaku yang masih keheranan.


"Yang jadi masalah bukan rotinya, tapi isi rotinya. Aku sangat tidak suka coklat," jelas Ahsan.


"Oh begitu, aku kira kenapa."


"Hahaha sekarang kau sudah engga ngantuk lagi kan? Ga baik loh mengantuk saat jam pelajaran Matematika," ucap Ruben lagi yang masih terlihat puas setelah berhasil mengerjai Ahsan.


"Aku tidak mau mendengar kalimat itu dari orang yang tidak pernah lulus ulangan mlMatematika sekalipun," balas Ahsan.


"Ha? Kenapa kau jadi seperti perempuan mengalihkan pembicaraan seperti itu?" balas Ruben.


"Apa-apaan tuch, kau sendiri yang mengalihkan pembicaraan," ucap Ahsan yang kembali menggunakan logat khasnya. Lagi-lagi mereka berdua terlibat keributan lagi.


Bel masuk tanda berakhirnya istirahat pertama pun berbunyi sekaligus mengakhiri perdebatan Ruben dan Ahsan.


***


Sore hari pukul 15.15 bel tanda berakhirnya jam pelajaran akhirnya berbunyi. Guru dan siswa pun mulai pergi meninggalkan ruang kelas, kecuali bagi siswa yang sedang mendapat jadwal piket.


"Aku tunggu di luar kelas ya Lang," ucap Ruben yang sudah menggendong tas di punggungnya.


"Oh oke, Ahsan ikut?" tanyaku.


"Ya dia ikut. Tadi aku mengajaknya dan dia bilang mau."


"Terus dimana Ahsan sekarang?"


"Mungkin dia lagi ke kamar mandi dulu sekarang."


"Oh begitu."


Lalu Ruben pun langsung menuju keluar kelas dan duduk menungguku di sana.


***


Di toko sepatu.


"Ini kelihatannya bagus, tapi harganya yang tidak bagus," ucap Ruben sambil mengeleng-gelengkan kepalanya.


"Hahahaha apa-apaan tuch," balas Ahsan tertawa.


Kita sedang berada di toko sepatu langganan Ahsan. Ahsan memang sering sekali ikut lomba berbagai macam cabang olahraga dari kecil. Mulai dari Voli, Bulu Tangkis, Sepak Bola, Basket, dan Tennis. Hampir semua cabang olahraga ia kuasai.


"Kau sudah dapat Lang?" tanya Ahsan.


"Sudah ini, aku pilih yang ini," ucapku.

__ADS_1


"Ukurannya udah pas?" tanyanya lagi.


"Iya sudah, aku sudah mencobanya tadi."


Lalu Ahsan memanggil karyawan toko tersebut untuk membungkusnya.


"Oi Ben cepat sedikit lah, lama sekali kau ini," ucap Ahsan lagi.


"Sabar lah boy, aku lagi cari harga yang pas nih hahaha," balas Ruben sambil tertawa.


Disaat Ruben sedang asik memilih, tiba-tiba datang pengunjung seusia kami. Setelah di perhatikan lagi ternyata itu Fahmi. Fahmi adalah teman sekelas kami. Tubuhnya agak gempal, dan rambutnya selalu terlihat rapih terbelah pinggir.


"Oii," Ruben pun berteriak dan melambaikan tangan padanya. Lalu, Fahmi pun menghampiri kami.


"Eh kalian di sini juga? lagi cari sepatu apa?" tanya Fahmi yang baru datang.


"Kami lagi cari sepatu bola buat extrakulikuler besok Rabu nich," jawab Ahsan.


"Oh gitu."


"Kau sendiri mau cari apa?" tanya Ruben.


"Aku mau cari sepatu buat voli nih," jawabnya.


"Oh kau ikut extrakulikuler voli?" tanya Ruben lagi.


"Ya begitulah. Yasudah aku mau liat-liat dulu yah," ucap Fahmi sambil perlahan meninggalkan kami.


"Kau sudah dapat belum Ben?" tanya Ahsan lagi.


"Tunggu, sudah ku bilang aku lagi cari harga yang pas oi," jawab Ruben.


"Kau pilih saja sepatu yang kau suka Ben, nanti kurangnya aku saja yang tambahi," ucapku pada Ruben.


"Ehhhhh beneran Langg?" ucap Ruben seakan tak percaya.


"Iya, beneran. Lagi pula aku masih punya uang jajan lebih dari bulan kemaren."


"Wahhhh makasihhh Lang, kalau kau butuh apapun dikemudian hari, bilang saja padaku, aku pasti akan membantumu."


"Kalau begitu, aku kembali pilih yang ini hahahaha, memang kalau sudah jodoh gak akan kemana," ucap Ruben.


"Yasudah cepat kau coba sepatu itu, ukurannya sudah pas atau belum?" ucap Ahsan.


Setelah itu, Ruben pun mencoba sepatu tersebut. Akan tetapi, sepertinya sepatu itu agak kekecilan.


"Gimana?" tanya Ahsan.


"Kekecilan," jawab Ruben lesu.


"Kekecilan? Hahahahahaaha ****** kau yah. Ini mungkin karma karena tadi kau menjahiliku," ucap Ahsan sambil tertawa puas.


"Permisi mas, untuk sepatu model yang ini apa masih ada nomer yang lebih besar?" Ruben bertanya pada karyawan toko sambil membawa sepatu yang ia pilih tadi.


"Sebentar ya, saya cek dulu," jawab karyawan toko yang kemudian masuk ke gudang untuk mengecek.


Setelah beberapa saat, akhirnya karyawan tadi kembali.


"Wah maaf mas, ukurannya cuma tinggal ini," ucapnya.


"Wah habis ya mas, yaudah lah cari yang lain aja," ucap Ruben dengan lemas.


"Hahahahaha makan tuch," ledek Ahsan.


Kali ini Ruben tidak menanggapi Ahsan. Sepertinya Ruben benar-benar sedih karena tidak bisa membeli model yang itu. Lalu, ia pun mencari-cari lagi sepatu yang ia suka.


Setelah sekitar 10 memilih lagi, Akhirnya Ruben menemukan sepatu yang ingin ia beli. Kali ini ukurannya pas. Ruben pun langsung membeli sepatu itu. Selain itu, uang yang di bawa Ruben ternyata pas. Jadi, aku tidak jadi menambahinya uang. Setelah itu kami pun langsung bergegas meninggalkan toko.


***


Sekitar pukul 16.50 sepulang dari toko sepatu.


"Eh liat tuh ada yang aneh sama gerobak dagangan itu," ucap Ruben sambil menunjuk gerobak dagangan yang sedang terparkir di pinggir jalan.

__ADS_1


"Mana? Sebelah mana?" ucap Ahsan penasaran.


"Itu lihat yang itu, di gerobaknya tertulis 'Roti Bakar' tapi ternyata jualannya rujak hahaha," ucap Ruben sambil tertawa.


"Oh iya itu ya hahahaha," Ahsan ikut tertawa.


"Aku pulang dulu ya," ucapku tiba-tiba pada mereka.


"Eh kenapa? Kau gak ikut kami?" tanya Ahsan yang langsung berhenti tertawa.


"Iya ada apa Lang? Kau juga kelihatan murung dari tadi pagi?" kini giliran Ruben yang bertanya.


"Tidak, tidak apa-apa. Mungkin aku hanya kurang enak badan saja hari ini. Yaudah aku pergi dulu ya. Sampai jumpa besok," ucapku yang kemudian menaiki sepeda yang selama ini aku tuntun saat berjalan bersama mereka. Aku pun seketika langsung meninggalkan mereka.


Rasanya saat ini aku ingin segera cepat sampai rumah dan mengurung diriku dalam kamar. Tiba-tiba saja aku teringat kejadian tadi pagi saat melihat Sofia berangkat bersama laki-laki lain. Aku tidak tahu kenapa aku merasa begitu kesal hanya karena melihat Sofia berangkat dengan laki-laki lain. Ditambah lagi, ia belum juga membalas pesan dariku. Pikiranku seperti sedang sangat kacau saat ini.


Aku mengayuh sepedaku cukup cepat. Bahkan, aku hampir menabrak orang yang sedang menyebrang jalan. Beruntung, aku mampu mengerem tepat waktu.


Tiba-tiba saja aku memutuskan untuk pulang melewati taman. Aku harap aku bisa menemui Hana di sana. Aku harap dengan bertemu dengan Hana, perasaanku bisa menjadi lebih baik.


***


Saat sampai di taman, ternyata Hana tidak ada di sini. Suasana taman saat ini terlihat sangat sepi. Bahkan seperti sedang tidak ada orang di sini.


Akan tetapi ketika aku akan meninggalkan taman, tiba-tiba aku mendengar suara tangisan. Suara tangisan seorang wanita yang terdengar sama-samar bersamaan dengan suara burung yang beterbangan di sore hari. Aku turun dari sepedaku, lalu mendekati suara tangisan itu. Jantungku lumayan berdebar saat itu. Semakin aku mendekati suara tangisan itu, semakin terdengar familiar suaranya. Sepertinya aku pernah mendengar suara ini. Aku pun terus mendekati suara tangisan itu perlahan-lahan.


Setelah aku telusuri, ternyata suara tangisan itu berasal dari balik pohon ini. Aku pun perlahan-lahan mengintip ke balik pohon. Alangkah terkejutnya aku ketika mengetahui bahwa ternyata suara tangisan itu adalah suara dari teman sekelasku, Cindy.


Cindy terlihat menangis sambil menundukkan kepalanya. Lengannya terlihat dengan erat memeluk kakinya sendiri. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan sekarang. Sepertinya Cindy juga belum mengetahui kehadiranku.


"Ci...Ci-Cindy?" aku mencoba memberanikan diri memanggil namanya.


Setelah mendengar suaraku tadi, Cindy terlihat berusaha menghentikan tangisannya. Sepertinya ia tidak ingin dilihat oleh orang lain dalam keadaan menangis seperti ini. Akan tetapi, semakin ia berusaha menghentikan tangisannya, air matanya malah semakin deras mengalir, walaupun sekarang tangisan itu sudah tanpa suara. Tapi, air mata yang mengalir itu seakan mengungkapkan rasa sakit yang teramat dalam.


Aku pun sekarang duduk di sampingnya. Aku tidak berkata apapun lagi padanya. Aku hanya menunggu air matanya berhenti mengalir.


***


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya Cindy berhenti menangis. Tapi, sepertinya Cindy sedang tidak mau berbicara. Dia hanya terus diam.


"Mau ku antar pulang?" tanyaku pelan-pelan padanya.


Cindy masih belum menjawab. Dia hanya diam sambil menatap langit yang kian menggelap. Matanya sangat sembab dan sayu. Aku tidak tahu sudah berapa lama ia menangis di sini. Jika aku tidak datang, apakah ia akan masih tetap menangis sampai sekarang?


"Ma..af ya Lang...," Cindy akhirnya berbicara walaupun dengan tergagap-gagap.


"Maaf kenapa Cin?" tanyaku dengan pelan.


Lagi-lagi Cindy diam tidak menjawab pertanyaanku. Aku sungguh tidak tahu apa yang harus ku lakukan saat ini. Aku benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di sini. Dan kenapa Cindy menangis di sini. Aku tidak mungkin menanyainya sekarang dengan kondisinya yang seperti itu. Sepertinya aku hanya harus menunggu hingga dia merasa lebih baik lagi.


Tiba-tiba Cindy menarik lengan bajuku dengan perlahan-lahan.


"Eh ada apa? Kau mau pulang sekarang?" tanyaku dengan pelan.


Dia tidak mengatakan apapun, hanya saja kali ini ia mengangguk. Aku pun langsung membantunya berdiri. Kalau tidak salah Cindy pernah berkata bahwa rumahnya ada di sekitar sini. Aku pun mengingat-ingat apa yang dikatakan Cindy waktu itu.


Akhirnya aku ingat kalau rumah Cindy berada di seberang jalan situ, dan rumahnya yang bewarna oranye. Aku pun melihat-lihat sekeliling dan akhirnya menemukan rumah di seberang jalan yang bewarna oranye.


Kami pun perlahan-lahan berjalan menuju rumahnya. Beruntung, Cindy masih bisa berjalan sendiri. Setelah sampai rumahnya, Cindy mengucapkan terimakasih dengan suara lirih dan dengan sedikit membungkukkan tubuhnya lalu langsung masuk ke rumahnya tanpa mengatakan sepatah kata lagi.


Setelah itu, aku segera kembali untuk mengambil sepedaku dan langsung bergegas pulang. Bersamaan dengan tenggelamnya matahari, aku pun sampai rumah.


"Aku pulang," ucapku saat membuka pintu.


Tidak ada yang menjawab salamku. Sepertinya Hana dan ibu masih belum pulang dari toko. Aku pun langsung menuju kamar mandi untuk mandi terlebih dahulu. Rasanya hari sangatlah melelahkan. Aku tidak tahu aku harus bersikap seperti apa ketika bertemu Cindy besok. Apakah aku harus bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa? Entahlah.


Setelah selesai mandi aku pun langsung menuju ke kamarku. Saat aku membaringkan badanku di kasur, aku mendengar Hana dan ibu masuk Rumah.


"Kakak, kakak sudah pulang?" teriak Hana dari lantai bawah.


"Iya, kakak sudah pulang," teriakku dari dalam kamar. Lalu setelah itu, aku pun turun untuk bersiap-siap makan malam bersama adik dan ibu yang aku sayangi.


***

__ADS_1


Bersambug


__ADS_2