Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 58 : Risal


__ADS_3

Tinggal sekitar 20 menit lagi hingga jam pelajaran Bahasa Indonesia berakhir. Belum ada tanda-tanda kalau bu Hesti akan segera kembali. Apakah harapan ku bahwa bu Hesti tidak akan kembali ke kelas hingga jam pelajaran berakhir akan terkabul? Entahlah.


Saat ini aku masih saja belum menuliskan apa-apa di kertas buku di hadapan ku ini. Setiap kali aku akan menuliskan sebuah kata, aku langsung tidak tahu lagi apa kata selanjutnya yang harus aku tulis setelahnya.


Setiap kali aku membayangkan sesuatu, tiba-tiba saja bayangan itu juga langsung menghilang bahkan sebelum bayangan tersebut benar-benar terlihat jelas. Aku terus berusaha untuk mencari ide, akan tetapi selalu berakhir hanya dalam sebatas lamunan belaka saja.


Kini aku sepertinya sudah mulai menyerah untuk mencari ide. Aku lalu meletakkan kembali pena ku yang dari tadi aku pegang, tapi tak pernah aku gunakan. Sambil melihat jarum jam yang terus bergerak detik-perdetik, aku seperti sedang menghitung mundur waktu yang tersisa. Namun entah kenapa setiap kali aku memandangi jarum jam seperti ini, waktu seakan berjalan melambat. Bahkan, sangat pelan. Aku pun mulai harap-harap cemas, jika nanti bu Hesti akhirnya datang.


Aku lalu melihat-lihat sekeliling kelas. Sepertinya semua teman-teman ku di kelas ini sudah menyelesaikan tugas membuat puisi ini. Mereka pun sudah terlihat mulai berbincang-bincang dengan teman-teman di sekitar tempat duduk mereka.


Saat waktu tersisa kurang lebih 10 menit lagi hingga jam pelajaran berakhir, hal yang aku cemaskan pun terjadi. Bu Hesti tiba-tiba saja kembali ke kelad. Anak-anak yang tadi terlihat sedang mengobrol, kini kembali membenarkan arah duduk mereka dan dengan segera mengakhiri obrolan mereka.


"Bagaimana puisinya? Sudah selesai?" tanya bu Hesti setelah sampai di tempat duduknya.


"Sudah buuu," ucap anak-anak kompak.


"Kalau begitu, apakah ada yang ingin membacakan puisinya di depan kelas? Mungkin 1 atau 2 anak?" tanya bu Hesti lagi.


Saat bu Hesti baru saja selesai mengucapkan pertanyaannya, Agung pun langsung mengangkat tangan kanannya. Sejak awal aku memang mengira bahwa jika ada anak yang akan membacakan puisinya sudah pasti Agung lah orangnya. Agung kan anak yang sangat indie sekali. Mungkin tidak hanya aku saja yang berpikir seperti itu, tetapi juga yang lainnya.


Pikiran ku kini lebih tertuju pada anak ke-2 yang akan membacakan puisinya. Aku masih belum tau siapa yang akan maju atau dipilih bu Hesti untuk maju ke depan.


Agung pun kini terlihat langsung bergegas maju ke depan. Tak ketinggalan buku yang berisikan puisi buah karyanya pun di pegangnya di tangan kanannya. Setelah Agung sampai di depan kelas, ia pun langsung membacakan puisinya dengan lantang.


...Senja...


Saat matahari sudah mulai lelah,


Saat para manusia sudah mulai beristirahat,


Saat para burung-burung terbang melambat,


Saat lampu-lampu sudah mulai dinyalakan,

__ADS_1


Di situ lah kamu mulai menampakkan diri mu,


Wahai Senja...


Beribu kata mungkin belum cukup untuk menggambarkan keindahan mu,


Wahai Senja...


Waktu yang paling nyaman untuk menikmati secangkir kopi,


Waktu yang paling berat untuk menahan rasa sepi,


Wahai Senja...


Jika kau menampakkan diri mu sebagai wujud manusia,


Mungkin aku akan langsung jatuh cinta pada mu pada pandangan yang pertama,


Wahai Senja...


Mau kah kau tersenyum pada ku untuk yang terakhir kali?


Tak usah banyak-banyak,


Cukup sekali saja.


Setelah Agung selesai membacakan puisinya tersebut, seisi kelas pun langsung memberikan tepuk tangan yang cukup meriah padanya. Agung pun tampak senang dengan tepuk tangan tersebut. Setelah itu, ia pun langsung kembali ke tempat duduknya.


"Wah Agung ternyata puitis sekali," ucap bu Hesti sambil tersenyum.


"Iya bu, Agung kan anak indie sekali," balas salah seorang murid.


"Wah benarkah itu Agung?" tanya bu Hesti pada Agung.

__ADS_1


Agung pun tidak langsung menjawab pertanyaan bu Hesti tadi. Ia hanya tersipu malu dan langsung disambut gelak tawa seisi kelas.


"Masih ada waktu sedikit sebelum jam pelajaran habis. Apakah ada yang mau membacakan puisinya di depan?" tanya bu Hesti lagi.


Seisi kelas kini langsung Hening dan tak terlihat tanda-tanda ada yang mau maju membacakan puisinya di depan seperti Agung tadi.


"Ayo siapa yang mau maju? Ada atau tidak?" tanya bu Hesti lagi.


Anak-anak masih saja diam membisu seribu bahasa.


"Kalau tidak ada ibu akan tunjuk salah satu loh," ucap bu Hesti lagi.


Di saat kami sedang diam seperti ini, tiba-tiba saja ada salah satu anak yang mengangkat tangan kanannya. Dan ternyata yang mengangkat tangannya adalah Risal.


"Ya, yang mengangkat tangan di pojokan itu silahkan maju. Ngomong-ngomong siapa ya namanya? Ibu belum terlalu hafal nama-nama siswa di kelas ini," tanya bu Hesti.


"Risal buu," jawab salah satu siswa.


Risal pun maju perlahan ke depan kelas. Ia juga terlihat membawa bukunya yang berisi puisi miliknya itu. Aku sungguh tak menyangka Risal akan mengajukan dirinya sendiri untuk maju kedepan. Jika aku masih SMP dulu, aku pasti tidak akan pernah melakukan hal seperti ini. Aku jadi bertanya-tanya lagi apakah memang benar kalau kepribadiannya itu mirip dengan ku ketika aku masih SMP dulu? Entahlah. Namun, ku rasa agak berbeda.


Risal pun kini sudah berdiri di depan kelas. Pandangannya agak kosong menatap ke arah tulisan di buku yang ia bawa. Suasana kelas pun kini masih hening sambil menantikan Risal membacakan puisinya.


Mungkin anak-anak yang lain juga sama terkejutnya dengan ku. Risal yang pendiam dan terlihat selalu menyendiri itu akan maju mengajukan dirinya sendiri. Bahkan ia juga sangat jarang sekali terlihat mengobrol dengan anak-anak di kelas ini.


Aku sungguh penasaran alasan dibalik majunya ia kedepan. Aku rasa Risal bukan tipe orang yang senang menjadi pusat perhatian orang atau semacamnya. Aku juga penasaran tentang puisi yang akan ia bacakan itu. Kira-kira puisinya berisi tentang apa ya? Entahlah.


Raut wajah Risal terlihat tidak tegang sama sekali. Raut wajahnya saat ini sama dengan raut wajahnya di hari-hari biasa yang tak pernah menunjukkan ekspresi apa pun. Selalu datar. Melihat raut wajahnya yang seperti itu, lagi-lagi membuat ku teringat kembali akan diri ku di masa lalu.


Risal kini sudah mulai membuka lembar di bukunya yang berisi tulisan puisi yang baru saja ia buat. Setelah mendapatkannya, ia pun lalu memeluk bukunya menjadi satu sisi saja. Ia lalu agak mendekatkan lembar yang berisi tulisan puisinya tersebut ke arah sorot matanya.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2