
"Eh beneran? Memangnya sudah berapa anak perempuan yang kau dekati?" tanya Calvin.
"Mungkin sudah sekitar 2 atau 3 hehehe," jawab Tomi sambil tersenyum. Karakter yang Tomi perlihatkan di waktu sekarang ini terlihat begitu berkebalikan dengan karakter yang selama ini ia tunjukkan. Aku tidak tahu kenapa hal itu ia lakukan. Entah ia sengaja atau tidak.
"Wah siapa aja tuh kalau boleh tau?" tanya Ruben dengan antusias.
"Khusus untuk mu, aku tidak akan pernah mengatakannya," timpal Tomi.
"Eh kenapa? Apa salah dan dosa ku?" timpal Ruben dengan nada suara menirukan penggalan nada lagu Jaran Goyang.
"Hahaha apa-apaan tuch?" timpal Ahsan dengan logat khasnya.
"Selama masih ada Ahsan dan Ruben, aku tidak akan menceritakan gadis yang aku dekati itu hahaha," ucap Tomi yang kini tertawa.
"Oi Tom, tapi hari ini kau kelihatan berbeda sekali dari pada biasanya yah... Kau biasanya terlihat lebih pendiam dan juga jarang tertawa. Namun sekarang kau terlihat begitu humoris dan agak bersemangat yah?" ucap Ruben yang mana juga mewakilkan pemikiran ku juga.
"Aku bertingkah tenang dan cool itu ada tujuannya, yaitu untuk membuat para wanita tertarik pada ku hahaha. Kalau saat di sekolah kan banyak tuh wanita di kelas, atau intinya yang masih dilingkungan sekolah. Ya udah deh, aku terpaksa bertingkah tenang dan cool hehehehe," ucap Tomi lagi.
"Ooooo begitu ya... Sepertinya mulai saat ini aku harus memanggil mu dengan sebutan guru tom. Aku sepertinya memang harus belajar banyak dengan mu masalah percintaan dan perempuan," ucap Ruben.
"Hahaha jangan begitu lah. Aku juga saat ini belum dapet pacar lagi. Untuk saat ini, derajat kita masih sama Ben hahaha," ucap Tomi lagi.
"Oi Jiiii... Ayolah tersenyum. Sudah jangan terlalu dipikirkan. Jika memang Fani itu jodoh mu, pasti dia akan menemui mu lagi. Santai saja. Sudah jangan murung begitu, nanti tambah jelek lohh," ucap Ruben yang membuat kami semua tertawa. Termasuk Aji, iya kini terlihat sedikit tersenyum.
"Iya iya. Kalian pikir aku gak berusaha untuk gak sedih apa? Setiap hari aku selalu mencoba untuk tersenyum dan tertawa, akan tetapi kalian taulah rasanya sakit hati. Sakit banget kan?" ucap Aji.
"Hahaha iya iya. Aku sepenuhnya mengerti apa yang kau rasakan," timpal Ruben.
***
Setelah dari kedai, kami semua lalu memutuskan untuk langsung pulang ke rumah masing-masing.
Saat ini masih sekitar pukul 5 sore. Aku pun memutuskan untuk mampir ke taman sebentar menikmati udara dan suasana sore yang damai di sana. Aku harap, taman tidaklah terlalu ramai hari ini.
__ADS_1
***
Sesampainya di taman, aku lalu langsung mencari tempat duduk. Aku bersyukur, doa ku sepetinya dikabulkan. Suasana taman pada sore hari ini relatif sepi. Suasana tenang yang sempurna untuk menikmati suasana sore seperti ini. Tentu saja cara paling enak untuk menikmati suasana sore-sepi-tenang seperti ini adalah dengan membaca novel dengan mendengarkan lagu.
Di saat aku sudah berada di hadapan bangku taman yang kosong, ternyata di bawah pohon di dekat bangku taman tersebut sudah ada seorang gadis yang aku kenal. Gadis itu adalah Cindy. Cindy terlihat sedang duduk beralaskan rumput taman dan berlindung kan bayangan pohon sambil membaca sebuah buku.
"Eh Cindy?" sapa ku padanya.
Cindy lalu langsung menoleh ke arah atas, " Eh Galang? Wah tumben kamu datang ke sini? Kamu sendirian? Apa sama Ruben, Ahsan?" Setelah selesai mengucapkan kalimat tersebut, Cindy lalu langsung bangkit dari posisi duduknya.
"Iya kebetulan tadi pas pulang aku kepikiran buat menikmati suasana sore di taman. Iya, aku sendirian," jawab ku. Entah kenapa setelah aku selesai mengucapkan kalimat ku itu, aku tidak tahu lagi harus berbicara tentang apa. Suasana saat ini pun terasa begitu canggung buat ku.
"Oh begitu," jawab Cindy lalu hening.
Untuk beberapa saat, kami lalu saling diam hingga suara angin bisa terdengar begitu jelas melewati kami berdua.
"A... Anu... Ngomong-ngomong kamu hebat sekali yah bisa dapat peringkat satu di UTS kemaren," ucap ku yang tiba-tiba kepikiran tentang topik yang bisa dikatakan saat ini.
"Eh, bukan apa-apa kok. Mungkin itu cuma kebetulan. Kamu juga hebat bisa peringkat ke-7," timpal balik Cindy.
Setelah itu, kami berdua pun lalu duduk di bangku taman di hadapan kami untuk membaca novel. Kami pun lalu saling diam untuk waktu yang cukup lama.
***
Aku tidak tahu pukul berapa tepatnya sekarang. Namun yang jelas saat ini langit sudah tampak oranye dan sedikit gelap. Lampu-lampu taman juga sudah terlihat mulai dinyalakan. Lampu-lampu kendaraan yang berlalu lalang pun mulai kelihatan dengan jelas dari kejauhan sana.
"Wah sudah hampir gelap yah... Gak kerasa kalau sedang keasyikan baca novel begini hehehe," ucap Cindy dengan sedikit tersenyum.
"Iya yah. Gak kerasa udah mau gelap aja. Kalau begitu, lebih baik sekarang waktunya untuk pulang. Lagi pula juga susah untuk membaca di bawah langit yang sudah mulai gelap ini," ucap ku.
"Sebelum pulang, mau beli makanan kecil dulu?" tanya Cindy tiba-tiba.
"Eh makanan kecil?" tanya ku.
__ADS_1
"Iya makanan kecil. Aku lihat tadi ada penjual sosis bakar di ujung sana. Bagaimana kalau kita coba dulu sebelum pulang?" ajak Cindy. Jarang-jarang Cindy mengajak ku seperti ini.
"Boleh," jawab ku.
***
Setelah selesai membeli sosis bakar, aku pun memutuskan untuk mengantar Cindy pulang.
"Aku sebenarnya bisa pulang sendiri loh Lang," ucap Cindy.
"Udah gak papa. Rasanya ada yang salah jika aku membiarkan seorang gadis pulang sendirian di hari yang sudah gelap begini," jawab ku.
"Hehehe kalau begitu makasih deh," Cindy tersenyum.
Kami berjalan begitu pelan. Aku tidak tahu kenapa kami berjalan begitu pelan sekarang ini. Ini seperti kami berdua sama-sama menikmati perjalan pulang yang mana sebenarnya ingin berlangsung lebih lama dan lama lagi.
"Oiya ngomong-ngomong kamu sudah dengar rumor tentang anak baru belum?" tanya Cindy sambil menatap ke arah langit.
"Sudah, Ahsan yang memberi tahu ku," jawab ku.
"Oh begitu yah. Menurut mu kira-kira anak baru itu akan seperti apa?" tanya Cindy.
"Hmmm entahlah... Aku bahkan belum mendengar hal lebih jauh lagi tentang anak baru itu. Aku bahkan masih belum tahu nama atau latar belakangnya. Jadi, aku rasa aku masih belum bisa menebak-benak hal-hal seperti itu," jawab ku.
"Hihihihi jawaban yang Galang banget," Cindy tersenyum cukup lebar.
"Jawaban yang aku banget? Maksudnya?" tanya ku sedikit heran.
"Ya pokoknya begitu lah hihihihi. Sulit menjelaskannya," jawab Cindy.
"Hmmm... Kalau kamu sendiri bagaimana? Apakah kamu sudah bisa menebak anak baru itu akan bagaimana?" tanya ku
***
__ADS_1
Bersambung