
"Oi ngomong-ngomong sejak kapan kau jadi pakai kaca mata Ji? Bukannya tadi pas berangkat belum yah?" tanya Ahsan yang juga menyadari akan hal itu.
"Eh? Sudah dari tadi kok," jawab Aji agak gugup.
"Hari ini kau juga terlihat aneh," timpal Ahsan lagi.
"Oh iya kau benar. Aji keliatan aneh banget hari ini," timpal Ruben.
"Sudahlah, cepat masuk," ucap Aji mencoba mengalihkan perhatian.
Aji, Renaldi, Ruben, Ahsan, Cindy, Ayu, Wita, Celine, Devi, Fani, Sofia, dan Risa adalah anak-anak yang hari ini pergi bersama ku untuk berlibur. Sebenarnya, kami juga telah mengajak anak-anak yang lain, akan tetapi pada akhirnya cuma anak-anak yang aku sebutkan tadi yang bisa. Karena itulah, kami pun pada akhirnya menyewa bus berukuran kecil.
***
Kali ini, aku, Ruben, dan Ahsan duduk di kursi paling belakang.
"oi Ben kau tau, ini jari apa namanya?" tanya Ahsan sambil mengacungkan jari kelingkingnya.
"Jadi kelingking lah!!! Aku gak sebodoh itu tau," jawab Ruben.
"Yap bener. Ini jari kelingking. Kau tau, orang Jepang itu gak pernah memegang benda atau apa pun itu dalam keseharian mereka menggunakan jari ini," ucap Ahsan dengan serius.
"Ah yang bener? Kau gak bohong kan?" timpal Ruben dengan wajah yang penuh dengan tanda tanya. Sebenarnya, aku juga sangat terkejut ketika Ahsan memberitahu Ruben akan hal itu.
"Iya beneran. Kau tau kenapa?" tanya Ahsan lagi.
"Gak tau, emang kenapa?" tanya Ruben balik.
"Tentu saja orang Jepang gak pernah memegang benda atau apa pun itu menggunakan jari ini, jari ini kan jari ku, bukan punya mereka. Lagi pula, aku juga belum pernah bertemu orang Jepang atau berkunjung ke sana. Hahahaha," ucap Ahsan dengan penuh tawa.
"Sialaannnn," gumam Ruben yang ternyata cuma dikerjai Ahsan. Senarnya, tidak hanya Ruben yang kena jebak, tetapi juga aku ikut kena jebak.
"Kalau begitu sekarang giliran ku nih. Menurut mu duluan ayam atau telur?" sekarang giliran Ruben yang bertanya pada Ahsan.
"Tentu saja ayam dulu. Kan ayam yang mengeluarkan telur," jawab Ahsan dengan cepat.
"Tapi kan ayam juga berasal dari telur? Kalau gak ada telur, berarti juga gak ada ayam," timpal Ruben mencoba beradu argumen dengan Ahsan.
__ADS_1
"Ha kenapa begitu? Sudah jelas-jelas ayam dulu," timpal Ahsan lagi.
"Mana bisaaa, jelas-jelas telur dulu. Kalau gak percaya coba kita tanya Galang. Oi Lang, menurut mu ayam sama telur duluan mana?" tanya Ruben secara tiba-tiba kepada ku.
"Eh ayam sama telur yah? Mmm kalau menurut ku duluan ayam sih," jawab ku dengan jujur.
"Dengerinnnn tuhhhh," ucap Ahsan.
"Wahhh kenapa baru kali ini kau berhianat Lang? Ya ampun berarti aku sekarang sudah tidak punya siapa-siapa lagi," ucap Ruben.
"Hahaha makan tuhhh telurnyaaa," ucap Ahsan dengan penuh semangat.
***
Sudah sekitar satu jam telah berlalu. Saat ini, kami pun sudah mulai memasuki daerah Magelang. Di samping kiri jalan, banyak sekali pengrajin patung-patung yang berserakan. Banyak sekali jenis patung yang mereka pajang di depan toko mereka.
Saat ini, kondisi bus sudah agak damai. Ruben dan Ahsan pun terlihat tidak sedang berdebat. Mereka saat ini terlihat dengan tenang menikmati pemandangan lewat jendela mobil.
Sementara itu aku sambil menikmati pemandangan lewat jendela juga sambil mendengarkan lagu lewat earphone. Seperti biasa, lagu yang sedang aku putar adalah lagu-lagi dari Green Day.
"Oi Lang, kau lagi dengerin lagu apa sih? Asik banget kayakknya," tiba-tiba Ruben bertanya pada ku sambil menepuk pundak ku.
"Oh ini, lagunya Green Day yang judulnya Good Riddance," jawab ku.
"Wah lagi-lagi Green day. Emang gak ada lagu dari band lain apa di HP mu?" tanya Ruben.
"Kayaknya gak ada sih," jawab ku.
"Eh benerannn? Gilaaa," timpal Ruben dengan sangat terkejut.
***
Saat ini, pemandangan di kanan-kiri jalan sudah didominasi oleh area persawahan yang luas. Pegunungan yang membentang di ujung jarak pandangan juga semakin menambah kesan asri.
Karena penasaran, aku lalu iseng membuka Google Maps untuk mengetahui kira-kira kita sudah sampai mana. Selain itu, apakah kita masih jauh dari candi Borobudur ataukah sudah dekat.
Saat aku mulai membuka map, ternyata jarak kita dengan tempat tujuan sudah lumayan dekat. Aku pun menjadi semakin tidak sabar untuk sampai di sana. Ngomong-ngomong, mungkin terakhir kali aku datang ke sana adalah waktu aku study tour di SD. Salah satu hal yang masih aku ingat sejak saat itu adalah, kita harus berjalan cukup jauh untuk sampai di candi Borobudur yang terletak seperti di perbukitan itu.
__ADS_1
"Oi Lang, ngomong-ngomong kau sudah berapa kali pergi ke candi Borobudur?" tanya Ruben tiba-tiba.
"Oh aku? Kayaknya aku baru sekali deh pergi ke sana. Itu pun waktu study tour pas SD," jawab ku.
"Wahahaha baru sekali yah? Bukannya aku sombong loh ya. Aku ini udah 5 kali pergi ke sana loh, hahaha," ucap Ruben dengan bangga.
"Oh," tiba-tiba Ahsan menggumam sinis dari arah pojok menanggapi ucapan Ruben lagi.
"Iri yah? Sirik yah? Eheheheh," timpal Ruben.
"Iri? Pada mu?" Hemp!! Mana mungkin ya lau," jawab Ahsan.
"Kalau bukan iri, lalu apa?" tanya Ruben.
"Ya kau pikir aja sendiri," jawab Ahsan.
***
Akhirnya, saat ini kami telah sampai di area candi Borobudur. Saat ini, bus yang kami tumpangi ini sedang mencari tempat parkir terlebih dahulu. Karena ini hari Minggu, jadi pengunjungnya juga ramai. Sebenarnya, aku berekspektasi bahwa akan lebih sepi dari ini.
Setelah bus berhenti, kami semua lalu mulai turun satu per satu. Sambil berjalan, kami sambil meregangkan kembali otot-otot yang kaku setelah sekitar 2 jam duduk di dalam bus.
"Mmmmm sejuknya udaranya. Jadi pingin pindah ke sini deh," ucap Wita sambil terlihat menghirup udara dalam-dalam.
"Ya udah nanti kamu kami tinggal yah Wit?" timpal Ruben.
"Enakkkk ajaaaa. Aku kan juga bayar busnya," balas Wita.
"Hahaha katanya tadi kamu pingin pindah ke sini. Ya sudah untuk saat ini kamu kami tinggal dulu di sini," jawab Ruben.
"Wuuuuu," timpal Wita.
Setelah dari area parkir, kami lalu langsung pergi menuju ke loket untuk langsung masuk ke area candi Borobudur. Karena ramai, kami pun mengantrecukup panjang kali ini.
***
Akhirnya, setelah cukup lama mengantre, kami pun kini telah berada di dalam area candi Borobudur. Saat baru masuk, kami langsung disambut oleh kemegahan alam lewat pohon-pohonnya yang tumbuh menjulang tinggi. Burung-burung liar juga terlihat banyak yang beterbangan di daerah ini.
__ADS_1
***
Bersambung