
Senin 22 Agustus, sepulang sekolah aku, Ahsan, dan Ruben berencana untuk mengunjungi sebuah museum di daerah sebelah utara kota ini. Karena letaknya cukup jauh yaitu sekitar 20 km, kami pun pergi dengan menggunakan bus.
Selain Ahsan dan Ruben, kali ini juga aku akan pergi bersama Aji dan Renaldi. Saat kami sedang berdiskusi tadi, Aji tak sengaja mendengarnya dan kemudian mengajukan diri untuk ikut pergi ke museum bersama kami.
Pukul 15.45, kami masih berada di halte menunggu bus yang menuju ke arah sana. Karena letaknya sudah di luar kota, makan agak susah menemukan bus yang mengarah ke sana.
Setelah sekitar 15 menit menunggu, kami pun akhirnya berhasil naik bus yang mengarah ke sana. Saat kami naik, suasana bus agak longgar. Kami pun bisa dengan lumayan bebas menentukan posisi duduk yang kami suka. Namun, karena kami berlima, kami memutuskan untuk duduk di kursi paling belakang yang mampu menampung langsung lima orang.
"Sepi juga yah bisnya," ucap Aji.
"Ya begitulah, ngomong-ngomong kau sudah pernah ke museum Kemerdekaan berapa kali Ji?" tanya Ahsan.
"Aku baru sekali kesan. Itu pun ketika aku masih sangat kecil, mungkin waktu aku masih TK dulu," jawab Aji.
"Kalau kau Ren?" tanya Ahsan pada Renaldi yang dari tadi selalu diam tanpa berbicara sepatah kata pun.
"Ini yang pertama," jawab Renaldi dengan datar.
"Kau gak bisa tersenyum yah Ren?" kini giliran Ruben yang berbicara.
"Woi jaga bicara mu Ben. Kau mau, pulang-pulang hanya tinggal nama?" ucap Ahsan dengan nada becanda.
"Hahahaha kalian ini lucu sekali yah," Aji tertawa.
Renaldi pun hanya diam saja dan terus memandangi pemandangan kiri jalan melalui jendela di sebelah kirinya. Ia tampak tak terlalu menghiraukan perkataan dari Ahsan dan Ruben.
"Kita dicuekin nih San," gerutu Ruben.
"Sudah gak papa Ben, lebih baik kau cepat-cepat minta maaf pada Renaldi lalu berhenti mengganggunya," ucap Ahsan masih dengan nada becanda.
"Bukannya malah perkataan mu itu yang lebih mengganggunya San? Mending kau yang meminta maaf padanya sekarang," balas Ruben.
"Apa-apaan tuch? Kok jadi aku yang harus minta maaf?" Ahsan merasa sedikit heran.
"Hahaha sudahlah, gak ada yang harus minta maaf padanya. Walaupun ia pendiam seperti itu, tapi Renaldi itu orang yang baik kok. Aku jamin itu," kini giliran Aji yang bicara.
"Ngomong-ngomong kalian sudah kenal sejak lama?" tanya Ruben penasaran.
__ADS_1
"Ya begitulah, aku dan Renaldi sudah sejak dari SD bersekolah di sekolah yang sama. Jadi, hingga kini sudah sekitar hampir 10 tahun lamanya aku mengenal Renaldi," Jelas Aji.
"Apakah Renaldi selalu pendiam seperti itu?" tanya Ahsan penasaran.
"Ya begitulah hahahaha, bahkan raut wajahnya tidak pernah berubah selama hampir 10 tahun ini," ucap Aji sambil tertawa.
Ahsan dan Ruben pun lalu mengikuti Aji tertawa.
"Ngomong-ngomong klub bola favorit kalian siapa?" kini giliran Aji yang bertanya pada kami bertiga.
"Kalau aku dari dulu sangat suka sekali Manchester United," jawab Ahsan.
"Kalau aku sudah pasti Chelsea," jawab Ruben.
"Kalau aku Liverpool," jawab ku.
"Wah semuanya berasal dari Inggris yah hahaha," Aji sedikit tertawa.
"Kalau kau sendiri Ji?" tanya Ahsan.
"Kalau Renaldi, kau tahu?" tanya Ahsan lagi.
"Kalau Renaldi sangat suka sekali Barcelona hahaha," kini Aji kembali tertawa.
"Wah wah wah, berarti kalian musuhan dong kalau dilihat dari klub favorit kalian hahaha," ucap Ahsan sambil tertawa.
"Ya tapi kami gak pernah saling ejek jika salah satu tim favorit kami ada yang kalah. Jadi, kami gak pernah ribut kalau soal itu. Tapi Liverpool dan juga Manchester United juga rival kan?" ucap Aji.
"Iya memang sih, tapi aku jarang ngobrol tentang sepak bola sama Galang. Jadi, aku gak pernah mengejeknya kalau Liverpool kalah atau semacamnya," jelas Ahsan.
***
Sudah sekitar 30 menit kami berada di bus ini. Mungkin sekitar 10 menit lagi kami akan sampai. Bus yang tadi cukup sepi, kini sudah semakin terisi dan ramai. Hanya tinggal satu atau dua kursi saja yang masih kosong.
Sejujurnya, ini pertama kalinya aku menuju ke museum Kemerdekaan. Jadi, saat Ahsan dan Ruben pertama kali mengajakku ke sana, aku langsung menyetujuinya. Aku cukup penasaran, kira-kira apa saja ya isinya.
"Oi ngomong-ngomong kau sudah dapet pacar belum Ji di SMA?" Ahsan tiba-tiba bertanya pertanyaan yang cukup sensitif.
__ADS_1
"Eh? Kenapa tiba-tiba bertanya pertanyaan macam itu?" Aji terlihat agak terkejut.
"Sudahlah gak papa. Jangan malu-malu. Jadi, sudah ada apa belum?" tanya Ahsan lagi sedikit mendesak.
"Be-belum sih," jawab Aji agak tersipu.
"Wah sama dong hahahaha. Aku kira kau udah dapet pacar, soalnya kau kan agak terkenal di kalangan anak perempuan dari pada kami," ucap Ahsan.
"Eh benarkah? Aku kira malah Galang yang paling terkenal di kalangan perempuan," ucap Aji yang seketika langsung membuat Ahsan dan Ruben terkejut, bahkan aku pun ikut terkejut dengan apa yang dikatakan Aji.
"Ehhh Galang? Kok bisaa???" tanya Ruben terheran-heran.
"Eh kalian belum tau? Setiap kali aku mengobrol dengan para anak perempuan di kelas kita, tak jarang mereka menanyakan ku tentang Galang. Mereka bertanya apakah Galang sudah punya pacar atau belum. Aku kira kalian sudah tau," ucap Aji.
"Ehhhhhhh? Kok bisaa? Kenapa bisa begitu? Padahal Galang kan selalu bersama kita, kenapa cuma dia yang terkenal di kalangan anak perempuan?" Ruben masih merasa terheran-heran.
"Kau bisa jelaskan apa maksudnya ini Lang?" Ahsan pun langsung melontarkan pertanyaan pada ku.
"Eh aku juga baru tahu itu. Jika kau tanya mengapa bisa begitu, aku juga tidak tahu. Yang ku lakukan di kelas kan cuma bersama kalian, selebihnya aku hanya duduk diam saja di kursi ku sambil sesekali membaca buku," jelas ku.
Di saat topik pembahasan mulai memanas, bus pun berhenti. Ternyata kita sudah sampai di halte terakhir sebelum museum Kemerdekaan. Kami pun langsung turun dan mengakhiri topik obrolan tadi.
Sejujurnya aku juga sama terkejutnya dengan Ahsan dan Ruben. Aku tidak menyangka kalau aku cukup populer di kalangan anak perempuan. Aku bahkan tak pernah memikirkannya satu detik pun.
Setelah turun di halte, kami harus berjalan kaki lagi sekitar 1 km hingga sampai ke museum Kemerdekaan. Suasana di sini sangatlah sejuk. Pohon-pohon besar terlihat berjejer dengan rapih di samping kanan-kiri jalan. Jalanannya pun tidak terlalu ramai.
"Tapi aku tetap tidak menyangka kalau kau sangat populer seperti itu Lang. Kalau kau mau, kau boleh menceritakannya pada ku," ucap Ruben.
"Haaa? Apa-apaan tuch?" balas Ahsan dengan logat khasnya.
"Aku tidak tanya pada mu San," balas Ruben.
"Hahahaha," Aji tertawa.
***
Bersambung
__ADS_1