
**********************************************
Perompak memang bisa merusak indahnya kebun bunga. Namun, mereka tidak bisa mencegah datangnya musim semi.
**********************************************
Tak lama setelah Ahsan datang tadi, bel tanda masuk pun akhirnya berbunyi. Kali langsung mulai memasuki ruang ujian dengan tertib dan tenang. Raut wajah yang tegang tergambar dari beberapa siswa yang masuk, namun hal itu tidak berlaku untuk Ahsan dan Ruben. Mereka benar-benar seperti tidak menganggap UTS ini sebagai sesuatu yang harus dipikirkan.
Ujian di jam yang pertama ini adalah Bahasa Indonesia. Waktu yang disediakan adalah sekitar 1 jam 30 menit, dimulai dari pukul 08.00. Seperti ujian pada umumnya, kita akan memasuki ruangan sekitar 15 menit sebelum ujian dimulai untuk persiapan.
Aku sebenarnya cukup iri dengan sifat santai mereka. Namun, sepertinya kemampuan seperti itu bukan untuk semua orang. Ahsan dan Ruben memang benar-benar sesuatu yang berbeda.
***
Akhirnya, ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia telah selesai seiring dengan berbunyinya bel. Saat ini, kami sedang mengumpulkan kertas jawaban kami ke pengawas satu per satu.
Setelah itu, kami pun kembali ke luar ruangan untuk beristirahat dan mempersiapkan untuk ujian yang selanjutnya. Jeda dari ujian pertama dan kedua nanti adalah 30 menit. Jadi, kami akan kembali masuk ke dalam ruangan pada pukul 10.00.
"Gimana tadi Lang? Bisa?" tanya Ruben yang datang menghampiri ku.
"Yah begitulah, tapi memang ada beberapa jawaban yang aku masih ragu sih. Kalau kau sendiri?" tanya ku.
Ruben menyeringai hingga gigi-giginya yang tampak sedikit kuning itu kelihatan, "Hi hi hi, tentu saja aku berhasil mengisi semuanya jawabannya bahkan lama sebelum bel tanda selesai berbunyi."
"Wah hebat dong kalau gitu," ucap ku.
"Hi hi hi hi. Jangan terlalu terburu-buru anak muda. Kau masih belum mendengar hal yang lebih hebat dari pada itu," ucap Ruben yang masih menyeringai itu.
"Masih ada lagi? Apa itu?" tanya ku penasaran.
"Bersiap-siaplah untuk terkagum dan terheran-heran yah... Aku mengisi sebagian jawaban di lembar jawaban tadi tanpa melihat lembar soal loh. Singkatnya, aku hanya menggunakan insting buas ku yang sangat natural dan tidak bisa dipelajari apalagi dijelaskan itu. Hahahaha," Ruben tertawa puas.
Plaaakkkk. Tiba-tiba saja ada sebuah telapak tangan yang terbang bebas mendarat di punggung Ruben dengan cukup keras dari arah belakang. Ruben pun tampak sedikit terkejut dengan pendaratan mendadak telapak tangan itu. Setelah kami berbalik, ternyata yang mendaratkan telapak tangannya di punggung Ruben tak lain dan tak bukan, the one and only.... Ahsan.
__ADS_1
"Woi sakit tahu, ada apa sih pake acara gituan," keluh Ruben.
"Aku kesal mendengar kebodohan mu yang kau banggakan tadi. Sesuatu yang bodoh seperti itu, tak pantas kau banggakan dihadapan orang lain tau," jawab Ahsan.
"Haaa? Kenapa kau yang protes? Galang aja gak protes kok. Dasar aneh," timpal Ruben.
"Galang mana bisa protes. Marah saja gak pernah hahahaha," Ahsan tertawa.
"Ngomong-ngomong kau sendiri bagaimana mengerjakannya tadi?" tanya Ruben.
"Hahaha pertanyaan bagus, aku tak butuh waktu lama untuk mengerjakan ke-lima puluh soal tersebut. Aku hanya butuh waktu sekitar 5 menit saja," ucap Ahsan dengan bangga. Entah kenapa, wajahnya saat ini sudah tidak terlihat semengantuk wajahnya tadi pagi.
"Haaa cuma lima menit? Omong kosongggg... Yang benar saja? Bagaimana kau melakukannya? Bahkan, lima menit itu sendiri masih belum cukup untuk membaca paling tidak 10 soal Bahasa Indonesia lohh" ucap Ruben yang seakan tidak percaya dengan perkataan Ahsan tersebut.
"Haaa? Kenapa kau harus repot-repot membaca soalnya hanya untuk mengisi lembar jawab? Yang kau butuhkan kan hanya pulpen untuk mengisi lembar kosong itu," ucap Ahsan.
"Berarti?" tanya Ruben lagi.
"Hahaha iya, aku hanya menggunakan 5 menit pertama itu untuk mengisi lembar jawaban itu tanpa melihat soal. Lalu setelah selesai mengisi semua jawaban pilihan ganda itu, aku langsung tidur," jawab Ahsan santai.
"Oi kalian, mau ikut ke kantin gak? Jangan bilang kalau kalian masih mau belajar... Apalagi Ahsan sama Ruben hahahaha," ucap Aji. Kali ini, Aji terlihat seperti Aji yang biasanya, tidak seperti kemaren saat bertemu di toko bunga.
"Haaa belajar? Makanan apa itu?" ucap Ruben yang lalu langsung menghampiri Aji dan yang lainnya yang sudah bersiap-siap pergi ke kantin.
"Aku juga lach. Tungguch," ucap Ahsan dengan logat khasnya.
"Kalau kau Lang? Ikut?" tanya Aji lagi.
"Oh iya ikut," jawab ku.
***
Saat kami sampai di kantin, aku jujur merasa terkejut. Suasana kantin yang biasanya ramai di waktu istirahat, kini terlihat begitu sepi. Hanya beberapa siswa saja yang terlihat sedang berada di sini.
__ADS_1
"Kau lihat Lang, beberapa siswa yang saat ini sedang duduk santai di kantin dengan raut wajah tak berdosa itu?" ucap Ahsan.
"Iya, aku melihat beberapa siswa yang memang terlihat santai dan tanpa beban itu. Memangnya kenapa?" tanya ku.
"Mereka itu adalah orang-orang pemberani dengan mental baja. Mereka memutuskan untuk menentang dunia," ucap Ahsan.
"Yah... Aku sepertinya paham dengan maksud mu, tapi itu berarti juga kita termasuk salah satu dari mereka juga ya? Soalnya kan kita juga sedang berada di kantin sekarang ini, sama seperti mereka-mereka itu," ucap ku.
"Hahaha benar juga yah..." timpal Ahsan.
"Oi kalian lagi ngomongin apaan sih?" ucap Ruben.
"Bukan apa-apa. Kalau aku katakan juga pasti akan percuma, kau kan gak mungkin paham hahaha," Ahsan tertawa.
"Haaa kan kau belum mencobanya kan? Kenapa bisa menyimpulkan begitu? Kita tidak akan pernah tahu kalau kita tidak pernah mencobanya," ucap Ruben.
"Khusus untuk kau, gak perlu mencobanya. Hanya dengan melihat wajah mu yang bodoh itu, aku sudah bisa tahu hasilnya kok," timpal Ahsan.
"Oi oi oi ingat, saat ini kan kita lagi dalam suasana UTS. Jadi, harap tenang yah," ucap Aji menirukan sepanduk yang biasanya tertulis "Harap Tenang, Ada UTS".
"Iya iya, aku tidak akan begini kalau gak dipancing oleh Ahsan," bela Ruben.
"Haa? Kenapa jadi aku? Aku kan awalnya cuma lagi ngobrol sama Galang, terus kau tiba-tiba ikut masuk. Berarti itu kan salah mu sendiri dong?" ucap Ahsan.
"Hahaha kalian ini memang selalu seperti itu yah. Ya sudah apa boleh buat lah," ucap Aji.
****
Tet tet tet. Suara bel tanda ujian jam kedua akan segera dimulai akhirnya berbunyi. Kami pun mulai memasuki ruangan perlahan-lahan.
Di jam yang kedua ini, kami akan melaksanakan ujian mata pelajaran Bahasa Inggris. Aku sendiri tidak terlalu mengalami kesulitan dalam mata pelajaran ini. Terkadang, nilai ulangan harian ku juga yang tertinggi di antara teman-teman kelas ku.
***
__ADS_1
Bersambung