Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 195 : Bahasan Di Pasar Malam


__ADS_3

Akhirnya, langit sudah sepenuhnya gelap. Lampu-lampu sekitar area pasar malam sudah mulai bernyalaan. Pasar malam yang tadinya masih sepi pengunjung, kini perlahan sudah mulai didatangi pengunjung.


"Wah akhirnya udah pada mulai nih, mau main apa aja nih?" ajak Ruben dengan antusias.


"Kalian berdua aja kalau mau naik sesuatu, aku malas," timpal Ahsan.


"Aku juga... Aku sepertinya tidak tertarik untuk naik wahana apa pun di pasar malam ini kecuali nonton Tong Setan nanti," jawab ku.


"Heeee? Wah gak asik banget kalian... Hmmm," timpal Ruben.


"Bukannya apa-apa, aku hanya merasa bosan saja hahaha. Coba saja kalau setiap tahun ada wahana baru di pasar malam, pasti aku akan selalu mencobanya. Nah ini dari aku kecil sampe sekarang sama terus," jelas Ahsan.


"Eh ngmong-ngomong tadi kau bilang mau nonton Tong Setan ya Lang?" tanya Ruben.


"Iya, kenapa?" tanya ku.


"Aku ikut yah hahaha. Kalau kau ikut gak San?" tanya Ruben.


"Kalau nonton Tong Setan masih mending lah. Oke nanti aku juga ikut," jawab Ahsan.


Kami pun lalu kembali berkeliling sekitar pasar malam sembari menunggu Tong Setan dimulai. Sepertinya saat ini mereka masih bersiap-siap.


***


Sekitar pukul 20.00 malam, akhirnya kami telah selesai menonton Tong Setan. Sudah kuduga, aku masih saja tetap merasa kagum dan heran dengan para penunggang motor di Tong Setan tersebut. Mereka terlihat sama sekali tidak takut untuk melaju di posisi miring seperti itu. Membayangkannya saja terkadang membuat ku ngilu.


Aku kini berpikir kira-kira berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk bisa lancar melaju di Tong Setan itu yah? Lalu apakah mereka pernah terjatuh disaat masih sedang berlatih? Entahlah.


"Sebelum pulang, beli apak gitu kek yuk," ajak Ruben.


"Mau beli apaan?" tanya Ahsan.


"Apaan yah? Enaknya apa?" tanya Ruben balik.


"Apa Lang kira-kira?" tanya Ahsan melempar pertanyaan pada ku.


"Eh kok jadi aku?" tanya ku.

__ADS_1


"Sudah gak papa hahaha, kau mau apa?" tanya Ruben.


Aku tidak langsung menjawab pertanyaan itu karena memang aku masih belum tau apa yang aku inginkan. Lalu, pandangan mata ku tiba-tiba tertuju pada sebuah gerobak yang mana menjual ronde.


"Eh bagaimana kalau ronde? Kelihatannya enak kalau diminum malam-malam begini? Apa lagi udaranya udah mulai dingin," ucap ku.


"Boleh juga tuch," timpal Ahsan dengan logat khasnya.


"Ya udah, ayo langsung ke sana," timpal Ruben.


***


"Gak kerasa yah kita udah setengah semester di SMA, sebentar lagi udah mau skripsi aja," ucap Ruben membuka pertanyaan.


"Bapak kau skripsi... UTS aja masih belum remidial udah mau skripsi. Lagian emangnya kau besok setelah lulus SMA mau kuliah? Emang otak kau itu masih mampu buat berpikir?" timpal Ahsan yang terlihat masih mengunyah sesuatu yang berbentuk bola yang ada di dalam ronde.


"Belum tau sih hahaha. Kalau kau?" tanya Ruben ganti.


"Aku juga masih belum tau. Sebenarnya hingga saat ini aku juga belum tau bakat ku itu apa selain tidur," ucap Ahsan.


"Haaa? Apaan?" tanya Ahsan.


"Begadang lach, apa lagi hahahaha," Ruben tertawa dengan keras.


"Sebelum lebih jauh lagi seperti kuliah, ngomong-ngomong besok kalian mau masuk jurusan apa setelah naik kelas?" tanya ku.


"Oh iya hampir lupa hahaha. Aku sih belum tau Lang hahaha. Tapi kayaknya aku bakal pilih IPS aja deh. Soalnya aku sudah cukup bertemu kaya matematika, Fisika, Kimia pokoknya yang banyak hitungan sama rumusnya gitu lah," ucap Ruben.


"Bukannya di IPS juga masih ada matematikanya juga yah? Lagi pula mata pelajaran Ekonomi juga ada rumus-rumus sama hitungannya juga kan?" ucap ku.


"Eh gitu yah? Waduhhhh... Ibu tolong anak mu ini ibuu..." ucap Ruben.


"Hahaha ibu mu mana dengar, ibu mu kan masih di luar kota," timpal Ahsan.


"Oh iya yah benar juga. Kalau kau San? Mau ambil jurusan apa? IPA apa IPS?" tanya Ruben.


"Kalau aku sudah pasti IPS," jawab Ahsan dengan tegas.

__ADS_1


"Wah jawaban mu yakin sekali," timpal Ruben.


"Iya lah, sebagai seorang laki-laki, kita itu harus yakin dengan pilihan kita," ucap Ahsan.


"Widih mantap sekali kata-kata mu, memangnya apa yang kau yakini tentang diri mu itu sehingga begitu yakin memilih IPS?" tanya Ruben.


"Aku sangat yakin kalau aku sudah tidak mungkin lagi mempelajari dengan yang namanya fisika, kimia, sama biologi. Aku rasa cukup di kelas 10 saja aku merasa dibodoh-bodohi sama ketiga mata pelajaran itu," jawab Ruben.


"Hahaha ternyata intinya sama ya dengan ku, sama-sama sudah menyerah dengan mata pelajaran itu," timpal Ruben.


"Mau bagaimana lagi kan? Kau pasti mengerti apa yang aku rasakan ketika sedang belajar ketiga mata pelajaran itu kan?" timpal Ahsan.


"Ya, ya. Aku sangat mengerti hahaha. Kalau kau sendiri bagaiman Lang? IPA apa IPS?" tanya Ruben.


"Kalau aku sebenarnya ingin masuk jurusan Bahasa. Namun, sepertinya di sekolah kita masih belum membuka jurusan itu karena masih kurangnya minat siswa pada jurusan itu. Sebetulnya, aku sudah pernah mendengarnya maksud ku membacanya bahwa sekolah kita dulu itu pernah membuka jurusan Bahasa. Namun karena semakin sedikit yang minat pada jurusan tersebut, sekolah pada akhirnya memilih kebijakan untuk menutup jurusan bahasa," jawab ku.


"Eh aku baru tau kalau ternyata ada jurusan Bahasa. Memangnya kau baca di mana Lang? Terus tadi kan kau bilang kalau jurusan Bahasa itu tutup karena kekurangan minat siswa, nah itu minimal berapa kalau mau dibuka lagi jurusan Bahasa itu?" tanya Ruben lagi.


"Aku membacanya beberapa waktu yang lalu di perpustakaan. Waktu itu aku melihat ada seperti majalah sekolah yang udah cukup lama. Terus aku iseng-iseng baca deh. Kalau gak salah sih sekitar 20 anak supaya bisa dibuka minimal satu kelas gitu," jawab ku.


"Wah 20 anak yah? Hmmm sepertinya aku punya ide... Bagaimana kalau kita besok pilih masuk jurusan Bahasa aja? Kayaknya kalau jurusan bahasa itu gak banyak hitung-hitungannya," ucap Ruben dengan semangat.


"Wah boleh juga tuh, berarti kita harus cari 17 orang sisanya dong?" timpal Ahsan.


"Eh kalian gak jadi milih jurusan IPS?" tanya ku.


"Sudah, sudah. Itu gak penting lagi. Yang terpenting sekarang kita masih ada waktu hingga akhir semester 2 nanti buat mencari 17 anak yang mau ikut kita masuk ke jurusan Bahasa," ujar Ruben.


"Tumben otak kau hari ini cukup berguna juga," ucap Ahsan.


"Oi oi oi, itu pujian atau ledek kan tuh?" tanya Ruben.


"Hahaha kau putuskan sendiri saja," timpal Ahsan.


***


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2