Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 84 : Cemburu ?


__ADS_3

"Makasih ya Lang udah nganterin aku," ucap Cindy di depan pintu toko.


"Iya Cin sama-sama. Ya udah aku langsung pulang dulu ya. Salam buat Nenek Maria," aku lalu langsung bergegas meninggalkan tempat itu.


Malam ini, langit tampak begitu bersinar. Tampak banyak sekali bintang yang berkerlap-kerlip menghiasi angkasa malam. Suara kereta yang tengah melintasi rel pun terdengar cukup jelas dari sini.


Hari ini, begitu banyak hal yang terjadi. Mulai dari undangan mendadak dari Ruben, Ruben yang terlambat datang dan ternyata ketiduran, perencanaan ulang tahun Ahsan, Ahsan yang lalu datang ke rumah Ruben, Ahsan kemudian mengatakan kalau Ruben salah informasi mengenai ulang tahunnya yang ternyata bukan besok seperti yang dikatakan Ruben, pergi berbelanja bersama Cindy, makan bersama teman-teman, pulang dan makan malam bersama Cindy. Meskipun terdengar sangat melelahkan, akan tetapi aku sama sekali tidak merasakan hal itu. Yang aku rasakan hanyalah rasa bahagia.


Kini, taman yang tadi cukup ramai, sudah tidak ada lagi orang di sini. Sepertinya memang taman ini selalu kosong ketika malam hari datang. Kalau dilihat-lihat lagi, taman ini terlihat ndah juga ketika malam. Aku tidak mengerti kenapa orang-orang hanya mengunjungi taman ketika siang hari saja.


Aku pun memutuskan untuk berhenti sejenak di taman dan mencari tempat duduk. Aku lalu duduk di kursi taman yang tidak terlalu berada di tengah, kursi itu berada di pinggiran taman dan hanya berjarak beberapa meter saja dari jalan yang aku lalui tadi.


Aku duduk dan menyandarkan punggung ku ke belakang. Entah kenapa rasanya enak sekali. Sambil melihat ke arah langit, aku mulai menghitung bintang-bintang yang bertebaran itu.


Aku masih bisa menghitungnya dengan benar hingga hitungan ke-10, akan tetapi setelah itu aku pasti langsung kehilangan jejak. Dari dulu, aku ingin sekali menghitung jumlah bintang yang ada di langit, akan tetapi selalu gagal di hitungan yang ke-11.


Udara dingin mulai menusuk tubuh ku. Aku pun memasukkan tangan ku ke dalam kantong depan hoodie ku dan menutupkan penutup kepalanya.


Perlahan aku memejamkan mata ku dan menghirup udara pelan-pelan. Di dalam pejam ku itu, aku membayangkan senyuman milik Cindy yang terlihat begitu indah dan manis. Aku pun merasakan hal yang sama seperti ketika aku sedang membayangkan Sofia. Aku tidak tahu perasaan apa ini. Rasanya terkadang menyakitkan dan menyesakkan dada, dan terkadang sangat menyenangkan dan mendamaikan jiwa.


Bulan kini terlihat sedang memandangi ku dari atas sana. Angin yang berhembus di sekitarku seakan tengah menyampaikan pesan dari sang bulan yang hingga kini belum bisa aku pahami sama sekali.


Suara kendaran bermotor yang terkadang berlalu lalang di jalan sebelah ku ini, tidak mengganggu ku sedikit pun. Terkadang, suara itulah yang akan menemani mu melewati malam yang sepi.


Serangga-serangga yang berkumpul di sekitar lampu taman itu, entah mengapa sesaat terlihat seperti manusia yang sedang berebut sesuatu. Setelah mereka mencapai lampu tersebut, mereka tidak tahu lagi apa yang akan mereka lakukan setelah itu. Mereka pun akhirnya hanya akan hinggap di lampu itu dam kemudian mati kepanasan oleh energi listrik yang membuat lampu tersebut panas.


Setelah berdiam cukup lama, aku pun bangkit dari duduk ku. Aku lalu melanjutkan kembali perjalanan ku menuju kembali ke rumah. Jika diteruskan, mungkin aku akan ketiduran di sini.


***


Senin, 29 Agustus, sepulang sekolah, kami kelas 10-7 mengadakan rapat mendadak menyusul diumumkannya rentetan acara ulang tahun sekolah. Acara-acara itu rencananya akan digelar 2 minggu lagi.


Untuk perlombaannya sendiri adalah sebagai berikut :



Futsal.

__ADS_1


Basket.


Voli putra.


Voli putri.


Tarik tambang (campuran 5 putra, 5 putri).


Bulu tangkis putra (single).


Bulu tangkis putri (single).


Bulu tangkis ganda campuran.


Lomba puisi.


Lomba cerpen.


Lomba melukis.


Lomba lari 100 meter putri.


Lari estafet 400 meter campuran.


Lomba memasak.



Nantinya kelas yang paling banyak mendapatkan juara akan dinobatkan menjadi juara umum dan akan menerima piala utama dan tentu saja hadiah. Acara ini adalah salah satu acara yang paling dinanti-nantikan di sekolah ini karena begitu bergengsi.


Rencananya kami akan mulai rapat pada pukul 15.50. Masih ada sekitar 10 menit lagi hingga rapat dimulai. Sepertinya hari ini hanya akan membahas tentang siswa-siswa yang akan mengikuti lomba-lomba tersebut.


"Oi Lang kira-kira kamu akan ikut lomba apa aja?" Ruben menepuk pundak ku dari arah belakang.


"Entahlah, semua kan nanti tergantung keputusan bersama," jawab ku tanpa menoleh ke arah Ruben.


"Ayolah Lang. Jika kau bersinar di acara nanti, kau pasti akan langsung terkenal seantero sekolah, dan tentu saja pasti akan ada banyak cewek yang akan menyukai mu," Ruben kini berpindah ke hadapan ku.

__ADS_1


"Aku sih ga terlalu peduli dengan ketenaran atau semacamnya. Yang terpenting nanti semuanya menikmati acaranya. Itu saja," jawab ku datar.


"Gak asik amat Lang, hmmm... Oiya ngomong-ngomong kamu kemaren pulang bareng Cindy yah?" Ruben berbisik pada ku.


"I-iya, kemaren Cindy ikut pulang ke rumah karena ingin bertemu dengan Hana, adik ku," jawab ku agak terkejut Ruben menanyakan hal itu.


"Gak kamu apa-apain kan Cindy? Jangan-jangan Hana cuma kamu gunakan untuk modus saja kan?" goda Ruben.


"Tentu saja itu semua keinginan Cindy sendiri yang ingin bertemu dengan Hana. Jadi, mana mungkin aku menggunakan adik ku sendiri untuk hal semacam itu," jawab ku.


"Hmmmm... Tetap saja mencurigakan," Ruben menyipitkan kedua matanya.


"Kau cemburu yah Ben? Hahahaha," tiba-tiba Ahsan ikut masuk ke dalam percakapan.


"Haaa? Ten-tentu saja tidak," jawab Ruben agak terbata-bata.


"Meskipun kamu berkata tidak, tapi raut wajah dan gaya bicara mu mengatakan hal yang berbeda lohhh," ujar Ahsan.


"Sudah ku bilang tidak ya tidak," Ruben kembali ke tempat duduk nya.


"Hayo ngaku aja Ben... dari SMP kan kamu selalu memperhatikannya kan? Mau sampai kapan kau menahan perasaan mu itu? Hahahaha," Ahsan tertawa cukup lebar.


"Diam kau... Bukan urusan mu juga," jawab Ruben agak judes.


"Hmmmm apa mau aku bilangin aja ke Cindy? Sepertinya Cindy sebentar lagi akan segera kembali ke kelas," Ahsan kini terus menggoda Ruben.


"Jangan pernah. Tolong jangan pernah katakan apa pun padanya," ucap Ruben mulai panik.


"Wah Cindy sepertinya panjang umur. Lihat dia sudah datang tuh," Ahsan memasang senyum jahatnya sambil menunjuk Cindy yang sudah berada di pintu masuk kelas.


"Cin...," Ahsan melambai-lambaikan tangannya ke arah Cindy yang baru masuk itu.


"Woiiii jangan katakan..." Ruben agak berbisik pada Ahsan. Meskipun begitu, Ahsan sepertinya tidak mendengarkan apa yang Ruben bilang. Ia masih saja melambai-lambaikan tangannya ke arah Cindy.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2