Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 38 : Salah Lihat?


__ADS_3

Selasa 9 Agustus setelah ulangan sejarah, waktu istirahat kedua sekitar pukul 12.18.


"Gimana tadi Lang? Kau bisa ngerjain soalnya?" tanya Ruben sambil datang menghampiriku.


"Entahlah, aku tidak terlalu yakin," jawabku datar.


"Jadi memang benar kan soalnya itu engga manusiawi?" tanya Ruben lagi.


"Eh kenapa kesimpulanmu jadi begitu?" aku kebingungan dengan kesimpulan yang diambil oleh Ruben.


"Otak kau tuh Ben yang gak manusiawi," celetuk Ahsan dari belakang kursiku.


"Haaa? Memangnya kau bisa ngerjainnya San?" tanya Ruben agak kesal.


"Tentu saja aku bisa, mau berlomba siapa yang dapat nilai lebih baik?" tantang Ahsan.


"Siapa takut," Ruben menerima tantangan Ahsan.


"Kau cukup percaya diri juga yah," ucap Ahsan dengan tatapan sinis.


"Tentu saja, apa lagi hanya melawan orang sepertimu. Aku yakin aku pasti bisa mendapatkan nilai yang lebih baik," balas Ruben.


"Okee, yang kalah hukumannya apa?" tanya Ahsan.


"Yang kalah jadi pesuruh yang menang selama sehari, gimana?" ucap Ruben.


"Okee, sepakat yach?" Ahsan menjawab dengan logat khasnya.


"Oookeeech," Ruben menjawab dengan menirukan logat milik Ahsan.


"Haaa apa-apaan tuch?" ucap Ahsan lagi.


"Hahahaha seharusnya aku yang bilang begitu," Ruben tertawa.


"Tapi ngomong-ngomong Cindy kemana yah? Sudah dua hari ini dia tidak masuk," ucap Ahsan mengganti topik.


"Iya, dimana yah? Dia juga tidak mengirim surat ke sekolah. Kau tahu sesuatu Lang?" ucap Ruben.


"Entahlah, aku juga tidak tahu," jawabku datar.


Sudah dua hari ini Cindy tidak berangkat sekolah. Sebenarnya aku cukup khawatir padanya. Apa lagi saat terakhir kali kita bertemu, Cindy sampai menangis saat pulang menuju rumahnya.

__ADS_1


Dari kemarin pun aku selalu pulang lewat jalan depan rumahnya, akan tetapi rumah itu tampak kosong. Atau mungkin Cindy dan keluarganya tengah pergi ke luar kota yah? Entahlah. Yang jelas, aku menjadi terus kepikiran tentangnya sejak kita terakhir bertemu.


"Apa sebaiknya kita datang saja ke rumahnya?" usul Ruben.


"Tapi apakah itu tidak mengganggunya?" balas Ruben.


"Tentu saja tidak, kita kan datang untuk menjenguknya," balas Ruben lagi.


"Tapi bagaimana kalau sebenarnya dia tidak sakit?" balas Ahsan lagi.


"Kalau Cindy tidak sakit, terus kenapa dia sampai tidak berangkat dua hari begini?" ucap Ruben.


"Mungkin dia sedang pergi keluar kota bersama keluarganya dan belum sempat untuk membuat surat," jawab Ahsan.


"Makanya lebih baik kita pastikan saja," ucap Ruben.


"Kenapa kau ngotot sekali ingin kerumahnya? Jangan-jangan kau kangen yah? Hahahaha," Ahsan tertawa meledek.


"Kenapa kau tertawa? Ada teman kita yang lagi kena masalah, kenapa kau malah tertawa?" ucap Ruben sedikit Emosi.


"Eh kenapa kau malah jadi marah begitu? Masalah katamu? Sebenarnya Cindy sedang kena masalah apa? Dan kenapa kau bisa tau kalau dia sedang kena masalah?" tanya Ahsan penasaran.


"Memangnya Cindy sedang ada masalah apa Ben?" tanyaku pad Ruben.


"Entahlah, aku hanya mengira-ngira saja sebenarnya. Kalau kita datang ke rumahnya dan ternyata dia tidak sakit atau tidak bepergian, berarti kan dia sedang ada masalah," jelas Ruben.


"Benar juga kau yah, tumben sekali kau bisa berpikir begitu," ucap Ahsan.


"Selain itu, apakah kalian tidak menyadari sikapnya akhir-akhir ini? Ia jadi sering menyendiri dan selalu terlihat murung kan?" ucap Ruben lagi.


"Wah kali ini kau seperti orang yang berbeda Ben. Jangan-jangan sebenarnya kau suka pada Cindy ya Ben? Kau terlihat begitu peduli padanya," ucap Ahsan yang membuatku terkejut.


Ruben hanya diam. Dia tidak mengiyakan atau menyangkalnya. Dia hanya diam. Meskipun mulutnya diam, akan tetapi sorot matanya seperti menjelaskan semuanya.


"Kenapa malah jadi diam negitu kau Ben?" tanya Ahsan, "jadi benar kau sebenarnya memang suka padanya?"


Ruben lalu duduk di kursi milik Cindy yang kosong itu. Dia kini terlihat murung. Baru kali ini rasanya aku melihat sisi lain dari Ruben yang biasanya selalu ceria. Sorot matanya mencerminkan kepeduliannya pada Cindy.


"Jadi, kita nanti pulang sekolah akan ke rumahnya nih?" ucap Ahsan lagi.


"Mungkin sebaiknya memang begitu," aku menambahi.

__ADS_1


"Hahaha jangan suram begitu Ben. Mukamu sudah jelek, jangan dijelek-jelekin lagi begitu lah hahaha," Ahsan kembali meledeknya sambil tertawa.


***


Bel pulang sekolah baru saja berbunyi. Jam pelajaran terakhir pun berakhir. Guru dan murid segera bersiap-siap untuk mengakhiri kegiatan belajar-mengajar hari ini.Setelah selesai, guru pun langsung pergi meninggalkan kelas disusul murid-murid yang lainnya.


Aku, Ahsan, dan Ruben bersiap-siap untuk langsung pergi menuju ke rumahnya Cindy.


"Kau sudah siap Ben?" tanya Ahsan.


Ruben menjadi terus diam sejak obrolan kita tadi waktu istirahat kedua. Dia terlihat menjadi orang yang benar-benar berbeda.


Setelah semuanya siap, kami pun langsung bergegas menuju rumah Cindy. Seperti biasa, kami pergi ke rumah Cindy dengan berjalan kaki. Ahsan yang tadi berangkat sekolah menggunakan sepeda, kini ia ikut menuntun sepeda miliknya. Dari kami bertiga, memang jarak rumah Ahsan yang paling jauh, mungkin sekitar 4 km. Jadi, ia selalu pergi ke sekolah dengan bersepeda.


Cuaca sore ini entah kenapa menjadi sedikit mendung, padahal tadi pagi cuacanya sangat cerah. Meskipun agak mendung, tapi mungkin tidak akan sampai turun hujan. Kami berjalan cukup perlahan kali ini.


Sejauh ini, belum ada percakapan apapun di antara kami. Ruben dan Ahsan yang biasanya selalu berdebat, kini terlihat serius dan tenang. Kami hanya memperhatikan jalan dengan teliti.


Saat kami akan melewati toko buku langgananku, tiba-tiba Ruben bersuara.


"Lihat ! Bukankah itu Cindy yang sedang masuk ke toko buku kecil itu?" ucapnya sambil menunjuk ke arah toko buku kecil langgananku.


Saat aku dan Ahsan menoleh ke arah toko buku itu, gadis yang dimaksud Ruben sepertinya sudah masuk ke dalam. Jadi, Aku dan Ahsan belum bisa memastikan bahwa gadis yang dilihat Ruben itu Cindy atau bukan.


"Ayo kita kesana?" ajak Ruben bersemangat dan langsung berlari.


Kami berdua belum sempat membalas ajakan Ruben tapi Ruben sudah terlebih dahulu berlari. Kami berdua pun tak punya pilihan lain selain mengikuti Ruben berlari menuju toko buku itu.


Sesampainya di depan toko, kami bertiga berhenti sejenak.


"Kau yakin kau melihat Cindy masuk toko ini tadi?" tanya Ahsan


"Yakin sekali," jawab Ruben dengan yakin walaupun nafasnya agak ngos-ngosan setelah berlari sekitar 50 meter tadi.


Kami pun lalu membuka pintu toko dan langsung masuk kedalam. Kami melihat-lihat ke segala penjuru toko untuk mencari tahu apakah Cindy benar-benar masuk ke toko ini atau tidak.


Setelah kami berkeliling di toko yang kecil itu, kami tidak menemukan Cindy dimana pun. Kami hanya menemukan beberapa orang pengunjung saja yang sedang asik memilih-milih buku. Apakah tadi Ruben cuma salah lihat? Entahlah.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2