
"Iya, yakin 100 persen!!" jawab Hana dengan yakin.
"Gak mau ganti jawaban?" tanya ku lagi
"Engggaaa," jawabnya dengan semangat.
"Hahaha akhirnya kamu menyadarinya juga yah," aku tersenyum.
"Jadi jawaban Hana bener apa enggak nih kak?" tanya Hana.
"Benar, sudah benar kok. Hana artinya bunga," ucap ku.
"Begitu ya... Wah ternyata nama ku artinya Hana yah hehehehe," Hana kini terlihat tersenyum bahagia.
"Hahaha kenapa muka mu terlihat sangat bahagia seperti itu?" aku ikut tersenyum melihat Hana tersenyum bahagia seperti itu.
"Tentu saja Hana bahagia. Ibu memberikan nama dengan hal yang paling ibu sukai," jawab nya lagi.
"Hahaha bisa saja kamu. Ya sudah kakak mau membereskan piring-piring yang kotor dulu sekaligus mau mencucinya sekalian," aku lalu mulai mengambil dan menumpuk piring-piring dan gelas yang kotor lalu membawanya ke tempat pencucian piring.
"Hana bantu deh bawanya," Hana ikut membantu ku membereskan piring dan gelas yang kotor.
"Wah anak-anak ibu rajin-rajin banget deh," ibu tersenyum.
"Hehehe," Hana terlihat sangat senang ketika di puji oleh ibu.
"Ibu langsung istirahat aja bu. Biar aku yang bereskan ini," ucap ku.
"Wah... Makasih ya Lang," ibu masih tersenyum.
"Ini masih bukan apa-apa kok jika dibandingkan dengan apa yang telah ibu lakukan," jawab ku sambil membawa piring kotor ke tempat pencucian.
__ADS_1
Pyangggg. Suara piring yang pecah karena jatuh ke lantai. Aku pun langsung menoleh ke arah sumber suara itu. Ternyata suara itu berasal dari piring yang dibawa oleh Hana. Ibu dengan cekatan langsung datang menghampiri Hana dan segera memeriksanya apakah Hana terluka atau tidak.
"Huaaaaaaa," suara tangisan Hana cukup keras
"Cep cep cep... Sayang, sayang... Gak papa, gak ada yang terluka kok," ucap Ibu sambil menggendong Hana.
"Huaaa... Huaa..." Hana masih menangis.
"Galang... Tolong ambilkan air putih untuk Hana," ucap ibu yang masih menggendong Hana tersebut.
"Iya bu," aku lalu meletakkan piring-piring yang sedang aku bawa ini ke tempat pencucian dan langsung mengambil segelas air putih setelah itu.
"Ini bu airnya," ucap ku sambil menyodorkan air putih yang barusan aku ambil itu.
"Makasih Lang," ibu lalu langsung mengambil air putih itu dan segera meminumkannya pada Hana, "ini sayang, diminum dulu."
Hana pun langsung berhenti menangis ketika mulai meminum air putih itu. Setelah diperiksa, ternyata Hana tidak mengalami luka atau semacamnya. Mungkin ia menangis karena kaget atau semacamnya.
"Ma-maaf ya bu," ucap Hana sesenggukan.
"Hana udah mecahin piringnya," Hana terlihat mulai menghapus air matanya.
"Iya gak papa. Ibu gak marah kok. Mau kamu pecahin satu, dua, tiga, atau empat, asalkan kamu gak terluka ibu gak akan marah kok. Justru yang paling ibu khawatirkan itu kamu terluka atau tidak tadi. Syukurlah kamu engga kenapa-kenapa," ucap ibu sambil tersenyum dan ikut mengusap air mata Hana.
"Makasih ya bu," Hana kini sudah benar-benar berhenti menangis.
Ibu kini menepuk-nepuk punggung Hana dan membiarkan kepala Hana menyender di dekapan ibu. Hana lama-kelamaan terlihat mengantuk dan mulai memejamkan matanya. Pada akhirnya, Hana pun terlelap di pelukan ibu. Setelah benar-benar terlelap, ibu lalu membaringkan Hana di tempat tidurnya.
***
Malam ini, adalah malam terakhir bulan delapan. Sebenarnya, aku sedikit ragu untuk menyebutkan malam ini adalah malam terakhir di bulan delapan atau malam pertama di bulan sembilan. Entahlah.
__ADS_1
Rasanya baru beberapa hari yang lalu aku menyambut kedatangan bulan delapan, malam ini aku sudah harus mengucapkan selamat tinggal dan sampai jumpa padanya. Aku seperti sedang melihat punggung bulan delapan pergi menjauh perlahan-lahan dari balkon ini.
Jika kita melihat dari sudut pandang di akhir seperti ini, maka kita akan merasa bahwa waktu berjalan dengan begitu cepat. Namun, jika jika kita melihatnya dari sudut pandang awal, maka akan terlihat lama.
Sebagai contoh, ketika kalian baru akan memasuki bulan baru, pasti kalian akan berpikir bahwa 30 hari ke depan akan berlangsung cukup panjang. Namun, jika kalian sudah berada di akhir bulan tersebut, kalian pasti akan berpikir "Wah bulan ini cepat sekali berlalu ya" atau "Wah gak kerasa udah akhir bulan nih".
Langit pada malam hari ini tampak tak begitu cerah. Terlihat awan hitam tipis menyelimuti angkasa. Bulan dan bintang tak terlalu terlihat jelas. Satu-satunya hal yang terlihat dengan jelas saat ini adalah nyala lampu-lampu di bangunan-bangunan kota ini. Mereka bersinar dengan tanpa ada yang bisa menghalanginya. Seperti waktu, yang tidak seorang pun bisa menghentikannya.
Ketika sedang sendiri seperti sekarang ini, aku seringkali berpikir sebenarnya kita itu hidup untuk apa? Apakah untuk membuat diri sendiri merasa bahagia? Ataukah untuk membuat orang-orang yang berada di sekitar kita bahagia? Sebenarnya lebih penting diri kita sendiri atau orang-orang di sekitar kita? Entahlah, untuk pertanyaan yang cukup sederhana seperti itu saja aku masih belum yakin, apalagi untuk mencari arti dari hidup itu sendiri.
Malam semakin larut, sekitar pukul 23.00. Aku sama sekali belum merasa mengantuk untuk saat ini. Tak biasanya aku seperti ini.
Bangunan-bangunan yang tadi menyalakan lampu, kini sebagian sudah mematikan lampunya. Suara kendaraan bermotor pun kini sudah lebih berkurang dan cenderung tenang.
Saat ini, awan mendung yang tadi terlihat menghalangi sinar dan bulan sepertinya sudah menghilang. Bulan dan bintang kini bisa terlihat dengan cukup jelas.
"Indahnya," begitu pikir ku dalam hati saat melihat pemandangan langit pada malam ini. Sepertinya, aku jatuh cinta lagi dan lagi pada langit.
***
Kamis pagi tanggal 1 September, aku terbangun agak kesiangan karena semalam aku tidur sekitar pukul 1 malam. Aku terlalu asik memandangi langit malam sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaan ku hingga aku lupa waktu.
Hari ini, aku sudah menghirup udara pertama di bulan sembilan ini. Rasanya seperti ada semangat dan sesal yang masih terbawa dari bulan delapan.
Karena sudah mepet, aku pun memutuskan untuk berangkat menggunakan sepeda ke sekolah. Aku tidak mau hari pertama ku di bulan baru ini tercoreng dengan terlambat datang ke sekolah.
"Hati-hati Lang, jangan terburu-buru, pelan-pelan saja," ucap ibu dengan suara yang menggambarkan kecemasan.
"Iya bu, aku berangkat," ucap ku sambil memulai menggowes sepeda meninggalkan rumah. Meskipun aku mengatakan "iya" untuk tidak terburu-buru, akan tetapi aku tetap saja menggowes sepeda dengan cukup cepat. Aku sungguh merasa bersalah karena harus berbohong seperti itu.
Pagi ini langit begitu cerah. Entah kenapa karena langit yang begitu cerah ini, perasaan ku jadi lebih positif dan lebih bersemangat.
__ADS_1
***
Bersambung