Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 40 : Bohong


__ADS_3

"Tak ada masalah serius kok hehe. Aku cuma sedang bantu-bantu nenek aja di toko. Soalnya satu karyawan di toko ini lagi cuti, jadi tidak yang bantu nenek sekarang," jawab Cindy menanggapi pertanyaan Ruben tadi.


"Beneran Cin cuma itu?" tanya Ruben lagi.


"Iya beneran Ben hehe. Terima kasih sudah mengkhawatirkan ku, tapi aku baik-baik saja kok," Cindy tersenyum.


"Kalau memang seperti itu, syukurlah kamu baik-baik saja. Aku pikir ada masalah serius, soalnya kamu akhir-akhir ini sering menyendiri dan terlihat murung," ucap Ruben.


"Eh benarkah aku terlihat seperti itu? Mungkin aku sedang kecapean saja hehe," jawab Cindy dengan tersenyum


"Berarti kamu harus janji ya besok harus masuk sekolah lagi," ucap Ahsan sambil tersenyum.


"Okedeh aku janji besok aku berangkat sekolah lagi," ucap Cindy menyanggupi janji itu.


"Nah gitu dong hehehe. Oiya, ngomong-ngomong kamu ikut ekstrakulikuler apa Cin?" tanya Ahsan lagi.


"Aku ikut ekstrakulikuler sastra San," jawab Cindy.


"Eh emangnya ada ya ekstrakulikuler sastra?" tanya Ahsan heran.


"Ada kok, tapi emang baru ada tahun ini. Jadi, kemaren memang belum ada di daftar angket ekstrakulikuler kemaren," jawab Cindy.


"Terus yang mengusulkan angkatan kita atau kakak kelas?" tanya Ahsan lagi.


"Angkatan kita San. Semua anggota ekstrakulikuler ini juga kelas X. Ketuanya dari kelas X-1, namanya Hendra," balas Cindy lagi.


"Oh gitu ya, keren ya sudah bisa mengusulkan ekstrakulikuler baru walaupun masih kelas X," ucap Ahsan.


"Ya begitulah hehe," Cindy tersenyum lagi.


Kami berempat pun lalu mengobrol ringan. Ruben kini terlihat lebih lega dari sebelumnya, akan tetapi berbanding terbalik dengan Ruben aku kini menjadi semakin bingung. Masalahnya setahuku di toko ini tidak ada karyawannya. Nenek itu adalah satu-satunya orang yang mengurus toko buku ini sendirian dari sejak aku kecil dulu. Jadi, bisa disimpulkan kalau Cindy tadi berbohong tentang alasannya tidak masuk sekolah.


Aku pun tidak tahu apakah aku harus menceritakan fakta tadi kepada Ruben dan Ahsan, atau aku lebih baik menyimpannya sendiri terlebih dahulu. Aku sungguh bimbang kali ini.

__ADS_1


Tak berselang lama, kami pun pamit kepada Cindy dan neneknya. Ruben dan Ahsan terlihat senang karena Cindy akhirnya besok berjanji akan berangkat. Mereka sepertinya memang tidak tahu kalau alasan Cindy tadi itu adalah palsu. Pada akhirnya, aku pun belum mendengar alasan sesungguhnya dibaluk sifat murung Cindy akhir-akhir ini.


Setelah dia hampir menceritakan tentang masalahnya waktu itu, kami belum berbicara lagi. Aku pun kini menjadi semakin penasaran dengan masalah yang dialami Cindy hingga ia berbohong pada kami seperti itu.


Sepulang dari toko buku, kami bertiga pun langsung berpencar pulang ke rumah kami masing-masing. Kami bertiga pun saling mengucapkan "sampai jumpa" dengan senyum tulus di wajah Ruben dan Ahsan, sementara aku memasang senyum palsu. Tentu saja saat ini aku belum bisa tersenyum tulus. Aku pun pulang dengan membawa setumpuk tanda tanya.


***


Sesampainya di rumah, aku langsung menuju ke kamarku. Aku berbaring sambil menatap langit-langit kamar ku. Aku terus menerus memikirkan tentang masalah yang menimpa Cindy, seakan-akan pikiran itu tidak mau pergi dari kepala ku.


Aku pun jadi heran sendiri, sejak kapan aku jadi sangat peduli dengan orang lain yang baru saja aku kenal. Pertama Sofia, dan kini Cindy. Apakah kehidupan SMA memang selalu seperti ini? Dimana kita akan menjadi lebih bersimpati dengan orang-orang di sekitar kita? Aku rasa, aku sudah banyak berubah.


***


Hari sudah memasuki gelap, aku masih saja memikirkan tentang Cindy. Rasanya, aku ingin sekali duduk berdua dengannya dan mendengarkan cerita tentang masalahnya yang sebenarnya.


***


Rabu 10 Agustus, sehari setelah aku mengobrol dengan Cindy di rumah neneknya. Hari ini, ia berjanji untuk kembali berangkat ke sekolah. Aku pun belum tahu apakah ia akan menepati janjinya atau tidak.


"Iya Lang hati-hati," balas ibuku.


Hari ini Hana berangkat lebih awal dari pada biasanya. Katanya, ada kegiatan kerja bakti di sekitar lingkungan Sekolahnya.


Aku berjalan dengan santai pagi ini. Kicauan burung-burung yang bertengger di pohon kanan-kiri jalan, terdengar seperti nyanyian alam di pagi hari.


Kali ini, aku berencana untuk berangkat melewati rumah Cindy yang memang searah menuju ke sekolah. Aku melewati rumahnya agar siapa tahu kami bisa berangkat bersama dan aku pun bisa menanyakan masalahnya langsung padanya.


Saat sampai di depan rumahnya, aku pun menunggu sebentar dengan duduk di kursi taman. Dari sini, aku bisa melihat rumah Cindy dengan jelas. Setelah sekitar sepuluh menit aku menunggu, ternyata Cindy tak kunjung keluar juga. Karena waktu sudah semakin siang, aku pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ku ke sekolah. "Mungkin dia sudah berangkat lebih pagi tadi," begitu pikir ku dalam hati.


Saat berjalan di dekat toko buku, tak disangka aku melihat Cindy baru keluar dari sana dan sudah mengenakan seragam sekolah. Ia pun terlihat membawa tas sekolahnya juga di punggungnya. Mungkinkah Cindy saat ini sedang tinggal di rumah neneknya? Kalau benar ia tidur di tempat neneknya, berarti besar kemungkinan masalahnya berkaitan dengan keluarganya di rumah? Entahlah, aku hanya baru menduganya saja.


Aku tidak langsung menyapanya dan menanyainya langsung. Aku hanya mengikutinya dari belakang saat ini. Ternyata saat berada di situasi seperti ini, aku masih belum cukup berani untuk bertanya langsung.

__ADS_1


Cindy berjalan cukup cepat menuju sekolah. Wajar saja, karena saat ini memang sudah hampir masuk.


***


Akhirnya kami berdua sampai di sekolah tanpa terlambat. Kami tepat waktu saat kami memasuki kelas kami. Aku tadi menjaga jarak sekitar 50 meter dengan Cindy agar di tidak menyadari keberadaan ku yang sedang mengikutinya.


Saat aku baru masuk kelas, aku langsung melihat ke arah Ruben. Raut wajahnya kali ini terlihat sangat senang.


Sekitar lima menit setelah aku datang, bel masuk pun berbunyi. Kamu lalu bersiap-siap untuk mengikuti kegiatan belajar pada jam yang pertama.


***


"Teett... Teett... Teett...," suara bel istirahat pertama akhirnya berbunyi.


Cindy hari ini terlihat lebih baik dari pada sebelum-sebelumnya. Ia pun sudah tidak tampak terlalu murung. Setelah bunyi bel istirahat tadi, teman-temannya yang perempuan pun langsung mendatangi tempat duduknya dan menanyakan keadaannya. Ia terlihat cukup bahagia saat ini.


"Oi Lang, kenapa kamu ngalamun begitu?" tiba-tiba Ruben menghampiri ku.


"Aku tidak melamun," jawab ku.


"Jelas-jelas tadi kau melamun," ucapnya lagi, "dari pada melamun, mending kita pergi ke kantin aja yuk?"


"Aku sepertinya nanti saja ke kantinnya pas istirahat kedua," aku menolak ajakan Ruben kali ini.


"Ehhhh kenapa gak mau?" ucap Ruben lagi.


"Aku masih merasa kenyang," jawab ku.


"Yasudah deh," ucap Ruben.


Ruben pun kali ini pergi ke kantin seorang diri.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2