Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 96 : Teman Ayah


__ADS_3

Setelah berjalan cukup jauh, aku akhirnya berhenti di sebuah minimarket untuk beristirahat dan membeli minum dan beberapa cemilan. Aku duduk di kursi depan minimarket sambil menikmati minuman dan cemilan yang baru aku beli. Sambil memandangi orang-orang yang sedang lalu lalang di jalanan.


"Permisi bang, boleh minta minumnya?" tiba-tiba seorang yang bertubuh agak gemuk dan berumur mungkin beberapa tahun di atas ku, datang menghampiriku sambil membawa tas punggung yang cukup besar. Mukanya agak pucat, dan bibirnya agak kering.


"Untuk apa?" tanya ku.


"Untuk diminum bang. Udah dari tadi aku gak makan sama gak minum bang. Sebenarnya aku bukan orang asli sini bang. Aku baru saja datang ke kota ini semalam untuk mencari pekerjaan, tapi semua bekal ku yang pas-pasan sudah habis dalam perjalanan dari kampung halaman ku ke sini bang," ucapnya dengan suara yang agak gemetar. Dari cara bicara dan logatnya, memang terdengar bukan dari kota ini. Sepertinya pemuda ini berasal dari pulau yang berbeda.


"Oh kalau begitu abang mending beli minuman yang baru saja sama sekalian beli makan. Ini aku ada uang sedikit, mudah-mudahan bisa cukup buat makan," ucap ku sambil memberikan satu lembar uang 50 ribuan.


"Wah beneran ini bang? Ini banyak banget loh bang," Pemuda tampak tak percaya dengan apa yang aku ingin berikan barusan itu.


"Iya beneran, buat abang aja," ucap ku lagi.


"Wah makasih banyak ya bang, makasih banyak. Ya sudah aku pamit dulu ya bang, sekalian mau cari makan dulu," pemuda itu lalu langsung pergi dengan raut wajah yang bahagia.


Mendung kini sudah semakin menjadi. Suara gemuruh dari langit pun sudah mulai terdengar. Setelah selesai menghabiskan minuman ku ini, aku akan langsung berjalan pulang menuju rumah.


***


Pukul 11.00, saat aku sedang berjalan menuju ke arah rumah, hujan akhirnya turun mendahului ku. Aku pun kini sedang berteduh di emperan depan sebuah kios kecil. Aku berteduh bersama dengan beberapa orang yang juga sepertinya tidak membawa payung atau mantel hujan sama seperti ku. Tidak terlalu banyak, mungkin sekitar 4 orang saja. 2 dari mereka kelihatan adalah sepasang kekasih yang tadi sedang bepergian menggunakan sepeda motor, tapi tiba-tiba hujan dan akhirnya berakhir berteduh di emperan toko ini bersama ku dan yang lainnya.


Sepasang kekasih itu mungkin anak kuliahan atau semacamnya. Si pria memiliki tinggi yang lebih tinggi dari ku beberapa cm. Sementara si wanita sepertinya memiliki tinggi yang tak jauh berbeda dengan Cindy. Jika ada perbedaan, mungkin hanya 1-3 cm saja.

__ADS_1


***


Sudah sekitar 10 menit kami berteduh di depan emperan kios kecil ini. Bukannya semakin mereda, hujan malah terlihat semakin deras saja. Walaupun setiap orang di sini yang sedang menunggu hujan mereda terlihat tenang dan diam, akan tetapi dari raut wajah mereka terpancar keinginan supaya hujan segera mereda atau bahkan sekalian berhenti. Sayangnya, mungkin langit tidak bisa mendengar suara hati mereka, langit masih terlalu jauh untuk dapat mendengar suara mereka, atau bisa jadi, suara merekalah yang terlalu pelan sehingga langit tak mengacuhkan mereka sama sekali.


Dahan-dahan pohon terlihat bergoyang dengan cukup kuat. Angin bertiup dengan cukup kuat untuk saat ini. Jalanan yang tadinya ramai, kini perlahan mulai sepi dan bahkan kosong. Yang tersisa hanyalah daun-daun dan ranting yang jatuh ke jalanan.


Angin yang berhembus kencang sesekali membawa air hujan dan membasahi kami. Rasa dingin terkena cipratan air hujan sangat terasa. Mungkin rasanya lebih dingin dari pada air pada umumnya. Entahlah, mungkin itu hanya perasaan ku saja atau semacamnya.


Hujan sepertinya belum akan reda dalam waktu yang singkat. Aku pun tak tahu harus berbuat apa untuk menunggu kecuali berdiri dan tetap diam di sini.


***


Akhirnya setelah sekitar 40 menit, hujan akhirnya mulai mereda. Kini yang tersisa jatuh dari langit "hanyalah" rintik-rintik kecil yang tidak terlalu membuat basah. Orang-orang uang dari tadi menunggu, kini langsung bertebaran meninggalkan emperan kios ini. Kini, yang tersisa hanyalah aku seorang yang masih berdiri di sini.


Aku lalu duduk di salah satu kursi yang tersedia. Sebetulnya, mungkin kursi yang aku duduki sekarang ini disediakan untuk pelanggan yang datang ke kios pulsa dan perlengkapan HP ini. Aku pun merasa sedikit tidak enak duduk di kursi ini, tapi mau bagaimana lagi, kaki ku sudah mulai terasa pegal setelah berdiri cukup lama tadi.


"Masih mau nunggu sampai benar-benar gerimisnya berhenti dek?" tiba-tiba penjaga kios bertanya pada ku.


"Oh engga pak, nunggu trotoarnya gak kena air dulu," jawab ku sambil menengok dan melempar senyum tipis ke arah penjaga kios tersebut.


"Oh gitu ya, rencananya mau kemana dek habis dari sini?" tanya pak penjaga kios pulsa itu lagi.


"Mau langsung pulang pak," jawab ku.

__ADS_1


"Rumahnya di daerah mana dek emangnya?" tanya pak penjaga kios lagi.


"Di daerah jalan Rambutan pak, samping toko bunga Lili," jawab ku.


"Toko bunga Lili? Kamu tinggal di sampingnya? Berarti kamu kenal almarhum pak Kurniawan?" tanya beliau yang kini terlihat semakin antusias.


"Oh kenal pak, itu almarhum bapak saya sendiri," jawab ku lagi.


"Kamu anaknya almarhum pak Kurniawan? Wah kamu sudah besar ya. Saya itu pak Ramlan, teman dekat almarhum bapak mu dulu. Waktu terkahir kali saya bertemu kamu itu rasanya waktu itu kamu masih kecil, sekarang sudah besar yah hahaha. Waktu memang cepat sekali berlalu.


Aku sedikit terkejut ketika mengetahui bahwa bapak penjaga kios ini adalah teman ayah ku dulu. Ya memang waktu itu, orang yang melayat ketika ayah meninggal relatif banyak, aku mungkin jadi tidak terlalu mengingat setiap wajah yang datang. Lagi pula, waktu itu aku masih kecil.


Aku lalu hanya tersenyum lebih lebar menanggapi kalimat tadi. Aku sungguh tidak tahu harus menanggapinya dengan kalimat yang bagaimana. Jadi, mungkin tersenyum adalah jalan yang paling baik untuk saat ini.


"Gimana kabar ibu mu? Baik-baik saja? Saya memang dulu dengar bahwa sepeninggal bapak mu, ibu mu lalu membuka toko bunga baru di samping rumah," imbuhnya lagi.


"Oh begitu ya pak, berarti bapak kenal lumayan dekat yah dengan almarhum ayah saya?" tanya ku.


"Ya bisa dibilang begitu. Dulu, bapak mu itu, kalau membeli pulsa pasti di sini. Meskipun tidak selalu datang ke sini ketika membeli, bapak mu biasanya membeli lewat SMS, lalu nanti bayarnya baru ke sini sekalian ngobrol santai," ucapnya lagi.


"Wah begitu ya pak... Saya malah baru tahu," ucap ku lagi.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2