Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 23 : Bukit Bintang


__ADS_3

Sepertinya, kami sudah melewati setengah perjalanan. Aku sudah memeriksanya di peta, kurang lebih jarak dari halte tadi ke bukit bintang sekitar 23 km. Bukit Bintang berada di bagian luar kota ini.


Sepanjang setengah perjalanan tadi, kami lebih banyak menghabiskan waktu dengan memandangi pemandangan dari jendela di sebelah kanan kami. Hanya sesekali kami mengobrol.


Pemandangan yang tadinya didominasi oleh gedung-gedung pertotokoan, hotel, tempat hiburan, dan lain-lain, kini perlahan berubah menjadi bangunan kecil dan tidak terlalu ramai. Mungkin saat ini kami sudah sampai di pinggiran kota.


"Lang kalau kamu di beri pilihan terlahir kembali, kamu mau terlahir jadi apa?" ucap Sofia tiba-tiba sambil berbalik menatapku.


"Eh kenapa tiba-tiba bertanya begitu? Kalau ditanya hal seperti itu, aku rasa aku sudah cukup senang terlahir sebagai diriku seperti ini," jawabku.


"Oh begitu ya, syukurlah," balasnya singkat yang kali ini kembali memalingkan wajahnya menghadap jendela di sebelah kanannya.


"Ngomong-ngomong kamu suka buku engga?" tanyaku mencoba untuk lebih banyak mengetahui tentang Sofia.


"Aku tidak terlalu suka baca buku, tapi ada buku yang sangat aku suka," jawabnya sambil tetap menghadap jendela.


"Oh begitu ya," balasku.


Tiba-tiba bus berhenti, sepertinya ada penumpang lagi yang akan naik. Ya benar saja, ada dua orang laki-laki yang naik dan duduk tepat di kursi depan kami. Mungkin mereka adalah mahasiswa dilihat dari penampilan mereka yang membawa tas. Salah satu dari mereka menggunakan kacamata dan yang satunya lagi menggunakan topi.


Setelah mereka duduk, mereka langsung mulai mengobrol. Sepertinya mereka adalah teman akrab.


"Kemaren waktu gue di kos, gue dengerin radio sambil ngerokok bro," ucap laki-laki bertopi yang baru naik tadi.


"Oh ya? terus?" balas laki-laki berkacamata.


"Terus radionya bilang kalau kita merokok itu, sama saja kita sedang memasukkan berbagai macam racun ke dalam tubuh kita. Kan gue jadi ngeri dong. Yaudah gue langsung matiin," lanjut laki-laki bertopi itu.


"Wah bagus itu, matiin rokoknya?" timpal laki-laki berkacamata itu.


"Radionya lah hahahaha," balas laki-laki bertopi kemudian diteruskan gelak tawa keduanya.


Aku melihat ke arah Sofia, ternyat Sofia juga terlihat tertawa mendengar percakapan mereka tadi.


"Hihihi lucu sekali ya mereka." ucap Sofia dengan tawa kecilnya.


"Hahaha iya. Ngomong-ngomong kamu udah kepikiran belum setelah lulus SMA mau ngapain?" tanyaku.


"Mmm sepertinya aku akan kuliah, tapi masih belum tahu ambil jurusan apa. Kalau kamu?"


"Mungkin aku akan kuliah mungkin juga tidak, aku sendiri masih tidak tahu," jawabku lagi.


"Kenapa begitu?" tanyanya lagi yang kelihatan penasaran.


"Aku belum tahu apa yang harus aku lakukan jika aku tidak kuliah. Aku juga belum tahu jika aku kuliah apa yang harus aku ambil. Dengan kata lain aku masih belum tahu sebenarnya apa bakatku. Atau apa yang benar-benar aku inginkan. Atau apa yang benar-benar bisa aku lakukan. Aku masih belum tahu itu semua."


"Hihihihi," kini malah Sofia terlihat tertawa mendengar jawabanku tadi.

__ADS_1


"Kenapa kamu ketawa?" tanyaku penasaran.


"Kamu itu orangnya terlalu memikirkan sesuatu yang sebenarnya sederhana yah? Aku rasa kamu hanya belum menyadarinya saja. Cepat atau lambat kamu pasti menyadarinya. Oleh karena itulah, kamu harus punya teman di sampingmu untuk selalu mendukungmu kan? Atau sebagai pengoreksi jika kau melangkah ke arah yang salah. Karena itulah, kita sebagai manusia tidak bisa hidup sendiri."


***


Pemandangan kanan kiri jalan sekarang sudah di dominasi oleh pepohonan yang cukup besar. Jalanan yang tadinya datar, kini sudah mulai sedikit mendaki. Sepertinya sebentar lagi kita akan sampai.


"Sebentar lagi kita akan sampai Lang," ucap Sofia.


"Wah bagus, aku sudah tidak sabar ingin segera sampai di bukit Bintang."


"Sekitar dua halte lagi kita turun dari bus," ucap Sofia sambil mengangkat kedua jarinya.


"Oh oke," balasku singkat.


Akhirnya kami sampai di halte terdekat menuju bukit bintang. Kami pun langsung berhenti dan turun dari bus. Lama perjalan menggunakan bus tadi sekitar satu jam.


Kata Sofia sekarang kami harus berjalan sekitar 1 km lagi atau sekitar 15 menit untuk sampai di bukit Bintang. Waktu sekarang menunjukkan pukul 16.35. Jadi, mungkin kami akan sampai di sana sebelum jam lima sore. Kami pun langsung berjalan menuju bukit Bintang.


"Terakhir kali kamu datang ke sini kapan Sof?" tanyaku pada Sofia yang sudah mulai berjalan.


"Mungkin sekitar 3 bulan yang lalu." balasnya.


"Kalau datang ke sini kamu sama siapa?" tanyaku lagi.


"Wah sayang sekali yah kalian engga satu sekolah lagi," timpalku lagi.


"Ya mau gimana lagi hehe," raut wajah Sofia sangat jelas berkata bahwa ia sangat merindukan sahabatnya itu.


"Apakah kamu sudah siap melihat kota dari atas bukit Bintang?" tanya Sofia mengalihkan topik dengan mengubah raut wajahnya menjadi sedikit riang sekarang.


"Ya aku sudah tidak sabar lagi" balasku juga dengan memasang senyuman di wajahku.


Akhirnya kami sampai di bukit Bintang. Dari atas sini, aku bisa melihat dengan jelas kota yang selama ini aku tinggali. Gedung dan bangunan yang besar dan tinggi, dari sini nampak kecil. Rasanya seperti sedang melihat miniatur saja.


Batu-batu yang ukurannya besar, berjajar tak berpola di samping kiri area ini. Agar pengunjung tak jatuh, di tepian area ini di beri pagar setinggi perut. Suasana sore ini cukup sepi, mungkin sekitar belasan orang saja. Untuk sementara aku belum mengetahui kenapa bukit ini disebut bukit Bintang.


"Agak sepi yah? Aku kira tempat ini akan ramai," ucapku pada Sofia yang tangannya sedang memegang pagar pembatas sambil melihat pemandangan kota dari atas sini.


"Tentu saja sekarang sepi, waktu terbaik untuk mengunjungi bukit Bintang adalah ketika matahari sudah tenggelam. Kamu juga mungkin akan tahu kenapa bukit ini dinamai bukit Bintang," jawabnya. Rambut panjangnya nampak beterbangan terkena tiupan angin yang cukup kencang di area ini. Sofia pun lalu mengikat rambutnya lagi yang terurai itu.


"Oh begitu ya," ucapku sambil terus memandanginya dari samping. "Berarti kita harus menunggu hingga gelap untuk bisa mendapatkan pemandangan terbaik?" lanjutku lagi.


"Iya, seharusnya seperti itu."


"Emang kamu gapapa kalau pulang kemaleman?"

__ADS_1


"Ga papa kok, lagian aku sudah izin sama papa tadi."


"Okedeh kalau begitu."


Sekitar satu jam lagi hingga matahari benar-benar tenggelam.


"Mau cari cemilan dulu sambil nunggu matahari tenggelam?" tanya Sofia.


"Boleh."


Kami pun memutuskan untuk mencari cemilan di sekitar sini sambil menunggu matahari tenggelam. Karena di sini termasuk dataran tinggi, jadi hawa di sini sudah mulai dingin.


***


Akhirnya setelah menunggu sekitar satu jam, matahari akhirnya tenggelam dan digantikan bulan. Suasana yang tadi sore cukup sepi, kini perlahan-lahan mulai ramai. Kami pun segera kembali untuk melihat kota saat malam hari dari atas sini.


Saat melihat kota dari atas sini, aku rasa ini adalah pertama kalinya aku melihat pemandangan seperti ini. Cahaya yang terpancar dari setiap titik di kota, terlihat seperti cahaya bintang. Mungkin sekarang aku sudah tahu kenapa bukit ini dinamai bukit Bintang.


"Gimana bagus kan pemandangannya?" tanya Sofia.


"Ya bagus sekali malahan, aku pertama kali melihat pemandangan seperti ini. Sepertinya, aku juga sudah tahu kenapa tempat ini dinamai bukit bintang."


"Hehe benarkan kamu pasti langsung tahu," ucap Sofia sambil tersenyum.


"Wah hawanya semakin dingin ya, ini sebaiknya kamu pakai jaketku saja," ucapku sambil memakaikan jaket yang ku pakai tadi kepada Sofia.


"Eh gausah Lang, nanti kamu malah kedinginan loh," ucap Sofia sambil menolak jaket yang aku berikan.


"Su-sudah ga papa Sof, a-aku g-gak mau kamu kedinginan," ucapku sambil terbata-bata.


"Eh beneran ini?"


"I-iya beneran pake saja."


"Yasudah deh kalau gitu, makasih ya Lang," ucapnya sambil memakai jaket yang ku berikan.


Kami pun kembali melihat pemandangan kota. Angin malam ini terasa lebih tenang dari pada sore tadi. Walaupun terasa sedikit dingin, tapi entah kenapa rasanya hangat di dalam hatiku. Mungkin karena aku berada di samping Sofia.


"Bo-bolehk-kah a-a-aku minta nomor WA mu Sof?" tanyaku dengan gugup.


"Boleh Lang, kenapa gugup seperti itu?"


"Hehe tidak apa-apa," aku tidak bisa mengungkapkan kalau aku sangat senang saat ini.


Lalu kami pun bertukar nomer WA. Aku masih belum tahu apakah nanti aku akan mengirimkan pesan padanya atau tidak. Yang jelas saat ini aku hanya merasa aku harus punya kontaknya.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2