Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 156 : Tiga Buah Pesan


__ADS_3

Kamis 28 September, pukul 9 pagi. Setelah memutuskan untuk tidak berangkat sekolah karena kau masih merasa pusing, lemas, dan sedikit mual di pagi hari tadi, kini keadaan ku sudah mulai membaik.


Alhasil, saat ini aku pun sudah bisa membaca sebuah buku. Tentu saja buku yang sedang aku baca saat ini bukan kan buku pelajaran, melainkan sebuah novel fiksi.


Rasanya, ini adalah pertama kalinya aku tidak berangkat ke sekolah semenjak SMP. Meskipun aku ini anak yang kurang bersosialisasi waktu SMP, akan tetapi aku ini adalah anak yang sangat rajin masuk ke sekolah. Bahkan sepertinya, daftar hadir ku pasti selalu penuh dari kelas 7 hingga 9.


Aku jadi kepikiran, kira-kira bagaimana suasana kelas ketika aku tidak berangkat yah? Apakah mereka menyadari kalau aku tidak berangkat? Apakah ada perbedaan suasana ketika aku tidak berangkat? Ataukah sama saja? Entahlah.


Setelah merasa cukup puas membaca buku novel, aku pun lalu turun ke lantai satu untuk menonton tv. Aku rasa sudah sangat lama sekali sejak terakhir menonton tv. Aku rasa itu adalah ketika aku kelas 2 atau 3 SMP. Entah kenapa semenjak SMP acara-acara di tv sudah sangat berubah drastis, tidak seperti acara waktu aku SD dulu.


Waktu SD dulu, masih banyak sekali acara yang aku sukai seperti kartun, super Hero, petualang, dan lain sebaginya. Sementara semenjak aku masuk SMP, acara-acara tersebut perlahan mulai digantikan dengan acara yang tidak aku senangi seperti sinetron yang ceritanya rasanya bukan untuk anak seusia ku. Alhasil, aku pun jadi jarang menonton tv.


Saat aku hendak menyalakan tv, tiba-tiba saja ada pemadaman listrik. "Ya ampun, kenapa bisa mati listrik di saat aku sedang ingin menonton tv?" begitu pikir ku.


Seketika itu juga aku jadi teringat dengan Murphy's law. Murphy's law sendiri adalah sebuah pepatah yang mengatakan Anything that can go wrong Will go wrong ( segala sesuatu yang dapat/berpotensi terjadi kesalahan/hal yang tidak benar maka akan terjadi kesalahan tersebut). Intinya apa saja yang bisa salah, maka akan salah.


Contohnya saja seperti sekarang ini yang mendadak mati listrik di saat aku ingin menggunakan listrik untuk menonton televisi. Contoh lainnya adalah ketika kita akan memakai gunting, pulpen, atau apa pun itu, tapi seketika itu juga kita tidak bisa menemukannya. Padahal, waktu kita tidak ingin menggunakannya, benda-benda tersebut sangat jelas terlihat dan sangat mudah ditemukan.


Karena mati listrik ini, aku pun mengurungkan niat ku untuk menonton tv. Lalu, aku kembali ke lantai atas untuk duduk di balkon saja sambil sedikit berjemur.


Sesampainya di balkon lantai 2, aku langsung duduk di kursi yang biasanya aku duduki. Kursi itu terbuat dari anyaman rotan yang usianya sama tuanya dengan rumah ini. Jadi, kursi itu sudah tampak usang dan terdapat beberapa bagian yang sudah terlihat rusak.


Aku tidak tahu kenapa terjadi pemadaman listrik mendadak seperti ini. Biasanya ketika akan terjadi pemadaman, pasti akan ada pemberitahuan terlebih dahulu. Namun, saat ini sepertinya tidak ada pemberitahuan. Entah memang beneran tidak ada pemberitahuan, ataukah memang aku saja yang tidak mendengarnya? Entahlah.


***


Setelah berjemur sekitar 15 menit, aku lalu kembali masuk ke dalam kamar. Aku langsung membaringkan tubuh ku dan sekaligus mengecek ponsel yang dari tadi pagi aku tidak mengeceknya.

__ADS_1


Saat aku baru menghidupkan layar ponsel ku, di situ sudah tertera bahwa aku menerima cukup banyak pesan lewat WA. Sebelumnya, aku belum pernah mendapatkan pesan sebanyak ini di jam seperti ini.


Aku lalu perlahan membuka WA. Setelah aku lihat, ternyata kebanyakan yang mengirimi pesan adalah teman-teman kelas ku. Terutama yang pada waktu festival olahraga kemaren satu tim dengan ku di tim futsal. Mereka menanyakan bagaiman kabar ku dan semacamnya. Aku lalu membalasi mereka satu per satu.


Sebenarnya, aku sangat mengharapkan bahwa salah satu dari pesan yang masuk itu salah satunya dari Cindy atau Celine. Entah kenapa aku tiba-tiba saja berpikiran seperti itu.


***


Saat ini, waktu sudah memasuki pukul 11 siang. Sebentar lagi adalah waktu makan siang, jadi sepertinya ibu akan segera pulang sebentar lagi sekaligus membawakan ku makanan.


Karena masih mati listrik, dan tak hal lain yang bisa aku lakukan, akhirnya aku memutuskan untuk iseng-iseng membuat puisi. Puisi yang entah kenapa tiba-tiba saja aku terpikirkan untuk menulisnya.


...Rumah...


Tempat dimana aku dilahirkan


Menangis, tertawa, berbicara, berjalan, berlari, melompat, dan berbagai macam hal menakjubkan lainnya


Tempat dimana aku merasakan banyak hal


Tempat dimana aku merasa sangat disayangi


Tempat dimana aku merasa sangat hidup


Sejauh apa pun aku melangkah, suatu saat aku pasti akan pulang


Selama apa pun aku pergi, suatu saat aku pasti akan pulang

__ADS_1


Sejak pertama kali aku bisa berbicara dan berjalan di hari yang penuh dengan kebahagian itu,


Hal yang paling ingin aku ucapkan adalah "Terima kasih ayah, ibu, aku mencintai kalian."


Aku tahu puisi itu tidak sebagus yang kalian harapkan, tapi tak apa. Aku juga sedang berlatih untuk membuat sebuah puisi yang bagus seperti Risal.


Tak lama berselang, ibu pulang ke rumah. Sebenarnya, ibu pulang lebih awal dari apa yang aku bayangkan sebelumnya. Ibu pun sudah membawa sebuah makanan yang dibawa ditangan kanannya itu.


Ibu lalu langsung menyuruh ku untuk langsung makan. Kali ini, ibu membawakan ku sate Madura.


"Gimana Lang? Sudah baikan?" tanya ibu sambil menyiap-nyiapkan piring dan lain-lainnya.


"Sudah kok Bu. Aku juga sudah tidak merasa pusing dan mual lagi. Tinggal lemasnya saja yang masih belum hilang. Mungkin setelah makan, nanti lemasnya akan hilang juga," jawab ku.


"Oh begitu, syukurlah. Nanti mau periksa enggak ke dokter?" tanya ibu lagi.


"Enggak usah bu, sepertinya besok juga semuanya sudah baik-baik saja," jawab ku.


***


Setelah selesai makan siang, aku lalu langsung kembali ke kamar ku untuk kembali istirahat. Sementara ibu mencuci piring terlebih dahulu sebelum kembali ke tokonya.


Sebenarnya, aku ingin sekali membantu ibu untuk mencuci piring. Namun, ibu menyuruh ku untuk beristirahat saja supaya bisa cepat pulih.


Saat aku sudah sampai di kamar, aku kembali mengecek ponsel ku. Saat aku melihat notifikasi, tiba-tiba saja jantung serasa berhenti untuk beberapa saat. Dari notifikasi itu, ada 3 buah pesan masuk dari 3 pengirim yang berbeda. Di notifikasi tersebut tertulis nama ketiga pengirim itu adalah Celine, Cindy, dan Sofia. Aku tidak menyangka bahwa keinginan sesaat ku tadi terkabul. Celine, Cindy dan bahkan Sofia mengirimi ku pesan.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2