Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 68 : Jalan Rahasia II


__ADS_3

Sabtu 27 Agustus, seperti yang sudah aku janjikan satu Minggu sebelumnya, aku dan Hana akan pergi ke kolam renang bersama-sama. Minggu lalu, Hana dan teman-temannya tidak jadi pergi ke kolam renang karena hujan deras seharian. Untuk menghiburnya, aku pun berjanji untuk pergi ke kolam renang bersamanya akhir pekan ini. Sebenarnya kami juga telah mengajak ibu, akan tetapi ibu masih sibuk di toko, jadi ibu tidak akan ikut untuk kali ini.


"Kakak cepat sedikit dong," teriak Hana dari arah depan rumah.


"Iyaa sebentar, kakak mau ambil air minum dulu," jawab ku dari dalam rumah.


Hana terlihat sudah tidak sabar lagi. Beruntung, cuaca hari ini sangat cerah, jadi kemungkinan nanti tidak akan turun hujan. Ramalan cuaca hari ini juga mengatakan hal demikian.


"Kakak lama banget siiii," teriaknya lagi dari arah depan rumah.


"Iya, iyaa, kakak datang nih," ucap ku yang sedang menuju ke arah depan rumah.


Hari ini kami akan pergi ke kolam renang yang sama seperti aku pergi ke kolam renang bersama Ruben waktu itu. Karena cukup jauh, aku pun menggunakan sepeda yang memiliki boncengan di bagian belakang. Tak lupa keranjang sepeda juga menempel erat di bagian depan. Aku lalu meletakkan tas milik Hana de keranjang yang berada di bagian depan itu, sementara aku akan tetap menggendong ransel milik ku sendiri.


"Sudah siap?" ucap ku saat sudah menaiki sepeda.


"Belum, belum juga naik," jawab Hana.


"Hahahaha maaf, maaf," ucap ku lagi.


"Sudah," ucap Hana setelah ia menaiki boncengan.


"Oke... Satu... Dua... Tiiigaaa," setelah hitungan yang ketiga itu aku lalu langsung menjalankan sepedanya.


Angin yang terbang melewati ku untuk sesaat terasa begitu sejuk. Aku mengayuh sepeda dengan perlahan sambil menikmati udara pagi hari bersama Hana.


"Lebih cepat dong kakkk," gerutu Hana yang terdengar tidak terlalu puasa dengan kecepatan laju sepeda sekarang.


"Hahaha kenapa harus cepat-cepat Hana?" tanya ku.


"Biar cepat sampai dongg," jawab nya dengan polos.


"Tapi jalannya lagi ramai nih. Ini kan akhir pekan, jadi banyak kendaraan yang berkeliaran sekarang," ucap ku.

__ADS_1


"Gak papa kak, yang penting kita bisa cepat sampai. Hana sudah gak sabar lagi pingin berenang," gerutu Hana lagi.


"Iya deh iya... Kakak tambah kecepatannya sedikit lebih cepat deh," aku lalu mengayuh pedal sepeda sedikit lebih cepat lagi.


"Yuhuuuu asikkk, anginnya enak banget kak. Hana suka," Hana terlihat merasa sangat nyaman dengan kecepatan sepeda yang sekarang, ditambah lagi, hembusan angin yang sangat menyejukkan ini.


"Awas loh, jangan sampai tertidur hahaha," aku sedikit tertawa.


"Iya, iyaaa. Hana gak akan ketiduran kok hehehe," kini Hana pun terlihat sangat bahagia.


"Oiya ngomong-ngomong kamu masih sering ketemu sama kak Cindy enggak?" tanya ku.


"Semenjak kak Cindy pindah, aku jadi jarang banget ketemu kak Cindy. Sepertinya kak Cindy juga sudah jarang pergi ke taman. Hana jadi jarang melihat kak Cindy juga," jawab Hana dengan polos.


"Oh begitu ya. Sayang sekali ya," ucap ku.


"Emang kenapa kak, tiba-tiba tanya soal kak Cindy?" kini giliran Hana yang bertanya dengan polos.


"Gak papa hehe. Kakak cuma pingin tau aja," jawab ku.


Di saat suasana jalan yang semakin ramai ini, tiba-tiba saja aku terpikirkan jalan rahasia yang dulu pernah aku lewati bersama Ruben. Aku pun kini berencana untuk melewati jalan itu supaya bisa menghindari kemacetan ini. Selain itu, aku juga ingin menunjukkannya pada Hana. Kira-kira, reaksi Hana akan seperti apa ya?


Masih cukup jauh untuk sampai di jalan "Rahasia". Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah kepadatan kendaran dan juga kemacetan. Udara yang tadinya terasa sejuk, entah kenapa sekarang menjadi sangat menggerahkan. Keringat ku pun kini menetes dengan begitu cepatnya.


"Masih jauh ya kak?" tanya Hana.


"Iya nih, jalannya macet banget. Sabar... Tak lama lagi kita akan melewati jalan Rahasia," jawab ku.


"Jalan Rahasia? Apa maksudnya kak?" tanya Hana penasaran.


"Nanti kamu juga akan mengerti Hana. Yang jelas jalan itu juga bisa membuat kita sampai di kolam renang lebih cepat dan menghindari kemacetan yang sedang terjadi ini," jelas ku.


"Wah sepertinya menarik, Hana jadi gak sabar pingin lewat jalan Rahasia," ucap Hana dengan bersemangat.

__ADS_1


"Hahahaha kamu mengucapkannya seolah-seolah tujuan utama kita adalah jalan Rahasia itu, bukannya kolam renang, hahaha," ucap ku sambil tertawa.


***


"Wah kita sedang berada di luar kota ya kak?" tanya Hana ketika kita mulai melewati jalan Rahasia itu.


"Hahaha. Mungkin, kita malah sedang berada di bulan," ucap ku dengan nada bicara becanda.


"Waahhh keren, ternyata kita sedang berada di bulan ya kak? Kalau begitu, aku mau menginap di daerah sini saja selama satu malam. Barangkali Hana bisa bertemu dengan para bintang zodiak," ucap nya dengan lugu.


"Bintang zodiak? Apa maksudmu Hana? Kakak tidak mengerti," tanya ku.


"Itu loh kak, zodiak Virgo, Libra, Aquarius, Pisces, Taurus, dan lain-lain. Aku ingin sekali bertemu dengan mereka. Ada yang bilang tempat tinggal mereka itu di bulan. Jadi kalau ini memang ada di bulan, barangkali Hana bisa melihat salah satu dari mereka ketika malam sudah datang," ucap Hana dengan polos.


"Oh begitu ya. Kalau begitu, menurut kakak, kamu bisa melihat mereka kok setiap malam dari rumah. Tak perlu sampai menginap di bulan segala," ucap ku lagi


"Beneran kak? Hana bisa melihat mereka sekaligus dari rumah?" Hana begitu penasaran.


"Ya tentu saja," ucap ku dengan sedikit tersenyum.


"Bagaiman caranya kak? Kasih tau dongg," Hana terdengar semakin penasaran.


"Sebelum tidur, kamu harus melihat langit yang penuh dengan bintang. Setelah itu, bayangkan bahwa setiap dari mereka sedang terbang mengelilingi angkasa di sela-sela bintang. Setelah itu, kamu pejamkan kedua mata mu sejenak sambil memohon bahwa kamu ingin bertemu mereka. Setelah itu, kamu bisa tidur seperti biasa. Mungkin saja, mereka para zodiak yang akan menemui mu di dalam mimpi setelah itu," jelas ku.


"Wah kakak becanda yaaa?" gerutu Hana.


"Hahaha tidak ada salahnya mencoba kan," ucap ku sambil tertawa.


Sinar matahari terhalang oleh batang dan daun bambu yang tumbuh sangat rapat di samping kanan kiri jalan ini. Suara aliran sungai yang lembut pun terdengar sangat menenangkan. Sesekali, ada capung yang terbang di sekitarku, seolah-seolah seperti sedang menemani ku dan Hana melewati jalan yang sangat indah ini.


Dari sini, suara bising mesin kendaraan, atau suara bising khas perkotaan sangatlah samar terdengar. Tempat ini benar-benar seperti memiliki dimensi ruang yang berbeda.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2