Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 109 : Anak Kucing


__ADS_3

"Enakk ajaaa," jawab Ruben menanggapi Ahsan tadi.


"Hihihihi, ya sudah kalian lanjutin makan dulu, aku juga mau pesan makanan dulu," Sofia bangkit dari tempat duduknya lalu mulai berjalan menuju ke belakang untuk memesan makanan.


"Oiya Lang, ngomong-ngomong bagaimana kabar adik dan ibu mu?" ucap Ruben saat sedang menuangkan sambal, kecap, dan saos.


"Mereka baik-baik saja, kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" tanya ku.


"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu kabar mereka saja hehehe. Kapan-kapan, aku ingin mampir lagi ke rumah mu," ucap Ruben.


"Kapan pun kau mau mampir, silahkan saja, ibu dan adik ku pasti akan merasa senang," ucap ku.


"Hati-hati Lang, nanti kau ketularan menjadi bodoh loh hahaha," lagi-lagi Ahsan mulai meledek Ruben.


"Haaa? Apa-apaan itu? Lagian emangnya bodoh itu bisa menular ya?" tanya Ruben.


"Ya tentu saja bisa, kalau bodohnya sudah kelewatan, pasti bisa menular hahaha," ucap Ahsan.


"Ya ampun, kalian memang tidak pernah berubah yah, selalu terlibat dalam perdebatan, tapi selalu terlihat bersama. Kalian ini, selalu saja terlihat seperti itu," ucap Sofia yang baru saja kembali ke tempat duduknya.


"Cuma kebetulan saja Sof, lagian, siapa juga yang mau berdekatan dengan orang yang menjengkelkan seperti dia ini," Ruben melihat sinis ke arah Ahsan.


"Oi oi oi, apa-apaan tatapan itu, membuat ku menjadi mual saja hahaha," Ahsan kembali meledek Ruben.


***


Setelah selesai melahap habis makanan ku, aku pun lalu langsung pamit pada mereka bertiga.

__ADS_1


"Aku pulang duluan yah teman-teman," ucap ku sambil bersiap-siap untuk meninggalkan tempat ini.


"Eh kenapa buru-buru begitu Lang?" tanya Sofia.


"Sebetulnya tadi setelah pulang sekolah, aku mau langsung pulang ke rumah, tapi tiba-tiba Ruben dan Ahsan mengajak ku ke sini untuk makan. Aku pun lalu ikut ke sini," jawab ku.


"O-oh begitu. Ya udah, hati-hati di jalan yah," ucap Sofia.


"I-iya, bye," jawab ku yang entah kenapa menjadi agak gugup. Aku pun lalu membayar terlebih dahulu sebelum pergi meninggalkan tempat itu.


***


Dalam perjalanan pulang, di sekitar taman, aku menemukan seekor anak kucing yang terlihat kurus dan keadaannya sedang tidak baik. Aku lalu menghampiri anak kucing itu yang sedang berdiam diri di samping pagar taman sambil seolah-olah sedang menunggu orang yang mau memberinya makanan.


Aku lalu memandangi anak kucing itu sebentar. Menurut ku umur anak kucing ini mungkin baru sekitar satu bulanan. Dan kenapa ia bisa berada di tempat ini sendirian adalah mungkin karena ia terpisah dari induk dan saudaranya yang lain. Pada saat ini, aku ingin sekali membawa anak kucing yang bewarna dasar oranye dan sedikit warna putih dibagikan bawahnya ini. Namun, aku tidak tahu apakah ibu akan mengizinkan ku atau tidak.


Aku berlari dengan cukup keras supaya hujan gerimis itu tidak keburu menjadi hujan besar. Aku tidak tahu kapan pastinya langit menjadi sehitam ini. Padahal pada saat siang tadi, langit terlihat begitu cerah.


Sesampainya di rumah, aku lalu langsung memandikan anak kucing itu dengan alat mandi seadanya. Aku lalu mengeringkan badannya yang kurus itu dengan handuk. Setelah kering, aku lalu memberinya makanan yang ada di meja makan.


Saat aku beri makan, anak kucing itu terlihat memakan makanan yang aku berikan dengan begitu lahap. Mungkin sudah cukup lama setelah terakhir kali ia makan makanan sebanyak ini. Entahlah.


Tak lama berselang, makanan yang aku berikan itu telah habis. Kini, anak kucing tersebut terlihat kenyang dan merebahkan dirinya sambil menjilati bagian tubuhnya. Entah kenapa, hal tersebut terlihat begitu lucu bagi ku. Aku pun lalu memperhatikan anak kucing itu terus menerus. Sekarang, yang ia lakukan adalah berlarian ke sana kemari sambil sesekali melompat. Aku tidak tahu apa yang sedang dipikirkan anak kucing itu, mungkin jika diibaratkan anak manusia, anak kucing itu sekarang sedang bermain.


Karena gemas melihatnya yang berlarian ke sana kemari, aku lalu mengacungkan jari telunjuk ku ke arahnya. Anak kucing itu lalu langsung menerkam jari ku itu sambil menggigitnya. Gigi-giginya yang masih mungil itu tak terasa sakit sama sekali, malahan aku merasa seperti sedang digelitik oleh anak kucing tersebut.


***

__ADS_1


Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore lebih. Sebentar lagi mungkin ini dan Hana akan segera pulang. Hujan gerimis yang tadi sempat turun pun kini telah berhenti.


Anak kucing yang tadi terlihat aktif itu, kini sedang tertidur pulas di atas sofa di ruang tamu. Jika ibu dan Hana pulang, mereka pasti akan langsung menyadari anak kucing itu.


Akhirnya, ibu dan Hana sudah berada di depan rumah. Hanya dari langkah kakinya saja aku sudah bisa mengetahui bahwa yang akan membuka pintu pertama kali adalah Hana. Entah sejak kapan aku bisa menghapal langkah kaki baik ibu maupun Hana.


Benar saja apa yang aku tebak tadi, kini Hana terlihat sudah membuka pintu depan rumah. Aku penasaran, kira-kira ekspresi macam apa yang akan Hana tunjukkan saat melihat anak kucing itu.


"Aku pulang... Eh kak---- kucinggg. Wah lucunya ada kucing kecil di rumah. Wah liat bu, liat kucingnya lagi tidur di sofa," Hana sedikit berteriak kesenangan melihat ana seekor anak kucing yang sedang tertidur pulas di rumahnya.


"Loh kok ada kucing di sini? Kamu yang bawa ya Lang?" tanya ibu.


"I-iya bu, tadi aku menemukan anak kucing itu sedang sendirian di pinggir jalan di dekat taman. Kebetulan saat itu langsung turun gerimis, jadi aku langsung membawa anak kucing itu ke rumah tanpa pikir panjang. Aku kasihan melihatnya kehujanan. Ditambah lagi, tadi anak kucing itu terlihat kelaparan dan kotor. Maaf tidak memberi tahu ibu terlebih dahulu," ucap ku dengan agak lirih.


Sementara itu Hana terlihat sudah mulai mencolek-colek tubuh anak kucing tersebut yang tengah tertidur pulas tersebut. Hana terlihat sangat senang dan gemas.


"Oh begitu, ya sudah gak papa," ibu lalu langsung berjalan menuju ke belakang.


"Eh ibu mengizinkan untuk memelihara kucing?" tanya ku.


"Boleh, mana bisa ibu melarang anak ibu untuk berbuat baik, tapi ingat yah, kamu harus bertanggung jawab pada anak kucing itu. Kamu harus konsisten merawatnya," ucap ibu yang sedang berjalan menuju ke belakang tersebut.


"Ba-baik bu, aku pasti akan merawatnya dengan sepenuh hati," jawab ku.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2