
Sabtu 13 Agustus, malam hari sekitar pukul 19.30 sehabis makan malam, aku berjalan kaki berkeliling kota. Aku berjalan tanpa tujuan pasti kali ini. Aku hanya sedang merasa jenuh saja berada di rumah dan ingin merasakan udara khas malam hari.
Malam ini, suasana kota sangat ramai. Mungkin karena ini adalah malam minggu. Banyak orang yang berlalu lalang, ada yang bersama teman-temannya, keluarganya, pasangannya, ada juga yang sendirian seperti aku saat ini.
Sudah sekitar satu minggu ini aku tidak mengobrol dengan Sofia. Setiap kali kita berpapasan di sekolah, kita hanya saling melempar senyum satu sama lain saja.
Entah kenapa, akhir-akhir ini aku jadi tidak terlalu memikirkan tentang Sofia terlalu sering. Aku justru lebih sering memikirkan tentang masalah yang sedang dihadapi Cindy. Hingga kini pun aku masih belum tahu secara pasti masalah apa yang sedang ia hadapi. Padahal, satu minggu yang lalu, ia sempat hampir menceritakan permasalahannya padaku.
Aku berjalan dengan perlahan di bawah sinar sorot lampu perkotaan. Terkadang, terdengar suara klakson kendaraan yang sedang berlomba menuju tempat tujuan mereka masing-masing.
Aku lalu menghirup udara yang sedang berhembus di sekitarku dalam-dalam. Rasanya, sungguh menenangkan. Seluruh beban pikiran ku, seakan melebur dan keluar bersama udara yang aku hembuskan lagi.
Di sudut trotoar sebrang jalan sana, aku melihat seorang pemuda yang mungkin lebih tua dari ku sedang duduk di tepian trotoar sambil menghisap sebatang rokok. Aku tidak tahu kenapa ia merokok di tempat ramai seperti itu. Apakah ia juga sedang menikmati udara malam sama seperti ku? Atau mungkin ia hanya sedang menunggu teman-temannya yang tak kunjung datang? Entahlah.
Setalah berjalan cukup jauh, aku pun memutuskan untuk istirahat sebentar sambil minum di sebuah minimarket. Aku lalu membeli sebuah minuman rasa jeruk dingin. Setelah selesai membayar, aku langsung duduk di kursi yang terpajang di depan minimarket tersebut.
Tak banyak kursi yang tersedia di sini. Hanya sekitar 6 kursi ditambah 3 meja kecil saja. Aku beruntung masih ada satu kursi yang masih kosong. Aku pun langsung duduk di kursi kosong itu.
Aku mulai membuka tutup botol yang masih tersegel itu. Setelah terbuka, aku langsung meminumnya dengan perlahan. Sekali teguk, dua kali teguk, rasa haus ku perlahan menghilang.
Tak lama berselang, tanpa di sangka-sangka aku bertemu dengan Risa, teman sekelasku. Dia datang seorang diri dengan menggunakan sepeda. Ia juga tampak terkejut ketika pertama kali melihat ku tadi.
"Eh Galang sendirian?" ucap Risa yang baru saja memarkirkan sepedanya.
"Iya," jawab ku singkat.
"Tumben gak bareng Cindy hehe?" tiba-tiba Risa meledekku.
__ADS_1
"Kenapa aku harus bersamanya?" balas ku.
"Eh bukannya kalian berdua pacaran? Hihihi," ledek Risa lagi sambil tertawa.
"Sudah dibilangkan waktu itu, kalau kami hanya kebetulan saja nonton bareng. Kami hanya berteman," jelas ku.
"Ehhh jadi beneran kalian gak pacaran? Yahhh," ucap Risa dengan nada sedikit kecewa.
"Kan dari awal cuma kamu yang bilang kami pacaran," ucap ku lagi.
"Hmmm. Yaudah deh, aku mau beli sesuatu dulu ya," ucap Risa lalu masuk ke minimarket.
"Oh iya," balas ku.
Aku lalu duduk santai sambil memandangi jalanan di depanku yang amat ramai. Karena tadi Risa menyinggung tentang Cindy, kini aku jadi kepikiran tentangnya lagi. Kira-kira dia saat ini sedang melakukan apa ya? Apakah saat ini ia masih merasa sedih? Ku harap semuanya akan segera membaik.
"Oi Lang, kenapa kamu ngalamun begitu? Jangan-jangan lagi mikirin Cindy yah?" ucap Risa yang baru saja duduk.
"Siapa juga yang melamun, aku hanya lagi liatin jalanan," jawab ku.
"Hihihi, ngomong-ngomong kamu gak bareng Ahsan sama Ruben? Kalian bertiga kan terlihat selalu bersama kalau di sekolah," tanya Risa lagi.
"Engga, aku engga ajak mereka," jawab ku.
"Oh gitu. Jadi, kamu mau pergi kemana sendirian begini?" tanya Risa lagi.
"Gak kemana-mana. Aku hanya pergi jalan-jalan saja karena merasa sedikit bosan di rumah," jawab ku.
__ADS_1
"Hanya itu saja?" tanya Risa lagi.
"Iya, kenapa emangnya?" ucap ku.
"Gak papa si, cuma aneh aja pergi tanpa tujuan jelas begitu," ucap Risa.
"Begitu ya, tapi rasanya aku sering melakukannya," ucap ku.
"Jadi benar yah tentang rumor yang beredar. Kamu memang benar-benar orang yang aneh hahaha. Yasudah ya aku pulang duluan," Risa lalu pergi meninggalkan minimarket.
Sepulangnya Risa dari minimarket, aku pun berencana untuk kembali melanjutkan perjalananku yang tidak punya tujuan pasti ini. Aku menyimpan minuman yang belum habis tadi di dalam saku hoodie ku.
Aku pun kini mulai berjalan lagi. Kali ini, anginnya terasa makin kencang dan dingin. Aku pun lalu menggunakan penutup kepala hoodie ku supaya tidak terlalu dingin.
Di perempatan ujung jalan sana, aku memutuskan untuk berbelok ke arah jalan yang menuju ke sekolah ku. Entah kenapa, semakin larut malam, rasanya semakin ramai saja. Aku pun mulai berjalan agak cepat sekarang, karena waktu sudah menunjukkan pukul 20.45.
Setelah melewati perempatan, aku melihat suatu warung kopi di pinggir jalan yang terlihat sangat ramai. Bukan warung kopi yang elegan, hanya warung sederhana yang atap dan alasnya menggunakan terpal plastik. Namun, entah kenapa tempat itu begitu ramai, bahkan hingga memakan badan trotoar lumayan panjang. Aku pun harus turun ke jalan beraspal ketika melewati area warung kopi itu, karena trotoar tempat ku berjalan habis di pakai sebagai tempat duduk para pengunjungnya.
Kebanyakan, pengunjung warung kopi itu adalah laki-laki yang mungkin umurnya di atas ku. Mungkin sekitar anak kuliahan. Suara gitar juga sangat jelas terdengar ketika melewatinya.
Setelah aku berbelok lagi, entah kenapa suasananya berubah 180 derajat. Jalan yang ku lalui ini terlihat sepi. Bahkan, kendaraan pun hanya ada satu dua saja yang lewat. Samping kiri jalan dipenuhi oleh bangunan-bangunan yang sudah tua, mungkin dari saat jaman Belanda. Sepanjang jalan kurang lebih 100 meter ini pun tak ada orang yang berjualan.
Aku pernah mendengar mitosnya kalau di sepanjang jalan ini angker. Rumornya, banyak kejadian aneh dan mistis yang sering terjadi di tempat ini. Namun begitu, aku tidak terlalu peduli dan percaya akan rumor tersebut. Aku dengan cuek berjalan seperti biasanya.
Bangunan tua di samping kiri kanan jalan juga terlihat tidak berpenghuni dan tidak terurus. Banyak rumput liar yang tumbuh tinggi di halaman bangunan-bangunan tersebut. Di tambah lagi, ada sebuah pohon beringin besar di salah satu halaman bangunan tua itu. Selain itu, banyak juga kelelawar di daerah sini. Mungkin hal-hal seperti itu yang menambah kesan seram di sepanjang jalan ini. Meskipun begitu, aku tetap tidak merasa takut.
***
__ADS_1
Bersambung