
"Selanjutnya untuk yang mengikuti Bulu Tangkis Tunggal Putri, apakah ada yang ingin mengajukan diri?" tanya Ayu lagi.
Erni terlihat mengangkat tangannya. Selain Erni, tak ada lagi yang mengangkat tangan. Sepertinya Erni yang akan mewakili kami.
"Selain Erni apakah ada lagi?" tanya Ayu memastikan.
Tak ada yang mengangkat tangan lagi. Itu berarti Erni yang akan mewakili kelas kami.
"Kalau tidak ada, berarti Erni yang akan mewakili kelas kita. Setuju?" ujar Ayu lagi.
"Setujuuuu," seisi kelas menjawab kompak.
"Berarti untuk Ganda Campuran, Erni juga yang ikut?" tanya Ayu.
"Iya gak papa," jawab Erni.
"Baik kalau begitu, berarti yang mewakili Ganda Campuran adalah Ahsan, dan Erni," ujar Ayu lagi.
"Nah sekarang untuk yang akan mengikuti lomba puisi. Di sini tertulis boleh memilih dua orang, bisa laki-laki atau perempuan, bebas. Apakah ada yang ingin mengikuti lomba ini?" ucap Ayu lagi.
"Agunggg," seisi kelas kompak menunjuk Agung yang terkenal anak indie tersebut.
"Hihihihi, Agung bagaimana? Setuju?" tanya Ayu.
"Okelah hahaha," Agung menyetujuinya.
"Kalau begitu sisa satu lagi. Ada yang mau?" tanya Ayu lagi.
Berbicara mengenai puisi, aku jadi teringat kembali saat Risal membacakan puisinya di depan kelas. Saat itu, puisinya benar-benar menyentuh. Walaupun Risal membacakannya secara sederhana, akan tetapi menurut ku itulah yang semakin membuat puisinya terasa begitu menyentuh. Aku pun berpikiran untuk mengajukannya mengikuti lomba puisi ini, jika tidak ada yang ingin mengajukan diri lagi.
"Apakah ada?" tanya Ayu lagi.
Karena belum ada yang mengangkat tangan, aku pun mengangkat tangan ku untuk mengusulkan Risal mengikuti lomba puisi ini.
"Ya Galang. Kamu mau ikut puisi?" tanya Ayu.
"Tidak, tidak. Aku hanya mau usul saja," jawab ku.
"Usul siapa Lang?" tanya Ayu.
"Aku ingin mengusulkan Risal mengikuti lomba puisi, bagaimana?" ucap ku.
__ADS_1
"Risal? Tapi Risal kan engga ada di sini. Kita juga gak tau dia mau atau tidak," ucap Ayu.
"Kalau masalah itu, nanti aku yang akan bilang ke Risal. Entah kenapa aku rasa, Risal akan sangat bagus bila mengikuti lomba puisi ini, bagaimana?" ucap ku.
"Bagaimana teman-teman? Apakah ada yang tidak setuju dengan usulnya Galang?" tanya Ayu.
Tak ada seorang pun yang menunjukkan gelagat tidak setuju. Sepertinya, semuanya setuju dengan usul ku.
"Kalau memang setuju, berarti yang mewakili lomba puisi Agung sama Risal yah. Oiya Lang, kamu yang akan bilang ke Risal kan masalah ikut lomba puisi ini?" ucap Ayu.
"Iya. Aku yang akan bicara padanya," jawab ku.
"Baiklah, berarti sekarang kita lanjut ke lomba yang selanjutnya, yaitu lomba menulis Cerpen. Apakah ada yang berminat mengikuti lomba Cerpen ini? Setiap kelas minimal mewakilkan satu orang dan maksimal dua orang. Bagaimana? Ada yang ingin mengikutinya?" ucap Ayu.
Cindy langsung mengangkat tangannya.
"Ya Cindy, ada lagi?" tanya Ayu.
Tak ada lagi yang terlihat mengangkat tangannya.
"Ayo... Ada lagi enggak? Kalau gak ada kita mau mengirimkan satu wakil saja atau bagaimana?" tanya Ayu lagi.
"Sepertinya untuk Cerpen kita mengirimkan satu wakil saja deh Yu. Lagian tidak ada lagi juga yang berniat untuk mengikutinya. Kalau dipaksa nanti pasti engga maksimal juga kalau Cerpen," ucap Aji dari mejanya.
Sekarang aku harus segera memberi tahu Risal bahwa ia dipilih untuk mengikuti lomba puisi. Sejujurnya, aku masih belum terpikirkan harus memberitahunya lewat apa. Apakah aku harus menemuinya langsung atau aku bisa menelponnya? Entahlah. Untuk saat ini aku benar-benar belum tahu.
"Oi Lang ayo kita ketemu Risal," ucap Ruben menghampiri ku dari belakang.
"Eh kenapa?" tanya ku sedikit heran.
"Tentu saja untuk memberitahunya kalau ia dipilih untuk mengikuti lomba puisi kan? Kenapa malah tanya 'kenapa'. Padahal kan kau sendiri yang menyarankannya," celetuk Ruben.
"Iya sih memang, tapi apakah kita harus memberitahunya sekarang?" tanya ku.
"Ya tentu saja lah. Lebih cepat lebih baik, ayo!!" Ruben menarik ku.
"Kau ikut juga San?" tanya ku yang sekarang sudah berdiri karena ditarik Ruben barusan.
"Maaf Lang. Aku ada urusan di rumah, jadi aku gak bisa ikut kali ini," ucap Ahsan.
"Haaaa? Ada urusan apa kau? Sok sibuk sekali," gumam Ruben.
__ADS_1
"Berisik kau. Bukan urusan mu juga," Ahsan melangkah pergi meninggalkan kami.
"Woiiii, jawab dulu pertanyaan ku," gumam Ruben lagi.
"Kita berdua saja gak papa kok. Sejujurnya aku juga masih belum tahu apakah Risal mau ikut lomba puisi atau tidak," ucap ku.
"Kita tidak akan pernah tahu kalau tidak mencobanya," Ruben sedikit tersenyum.
"Ya sudah kalau begitu. Kira-kira Risal masih bekerja di toko itu gak ya?" tanya ku.
"Ya, masih kok," Ruben masih tersenyum.
"Eh kenapa kau seyakin itu?" tanya ku.
"Tentu saja karena aku setiap hari bertemu dengannya," ucap Ruben.
"Eh setiap Hari? Berarti setiap hari kau mengunjungi toko itu?" tanya ku terkejut.
"Ya tidak setiap hari juga sih hehehe, tapi aku baru bertemu dengannya kemaren malam. Sejujurnya tadi aku juga ingin merekomendasikan Risal untuk mengikuti lomba puisi, tapi sudah kau duluan yang merekomendasikannya," ucap Ruben.
"Oh begitu ya, aku baru tahu," ucap ku.
"Ya sudah ayo kita segera ke sana," Ruben mulai berjalan pergi meninggalkan kelas.
Aku pun lalu mengikutinya dari belakang. Aku sungguh tidak menyangka ternyata Ruben sering bertemu dengan Risal. Sepertinya mereka juga cukup akrab lebih dari apa yang aku pikirkan. Aku penasaran, sejak kapan Ruben sering bertemu dengan Risal.
"Oiya Ben, ngomong-ngomong sejak kapan kau jadi sering mengunjungi Risal saat sedang bekerja?" tanya ku penasaran.
"Tentu saja sejak saat kelas kita bermain futsal waktu itu," ucap Ruben.
"Maksud mu saat kau dan Ahsan pertama kali bertemu dengannya saat sedang bekerja di sebuah toko?" tanya ku.
"Iya. Setelah itu, aku jadi sering membeli barang di toko itu," ucap Ruben.
"Begitu ya," lagi-lagi Ruben membuat ku merasa terkejut. Sepertinya, masih banyak sekali yang belum aku ketahui tentang Ruben.
***
Karena jarak toko dan sekolah cukup jauh, kami berdua terlebih dahulu mengambil sepeda di rumah Ruben. Jaraknya sekitar 2,5 km dari sini. Jika berjalan kaki, akan memakan waktu yang cukup lama. Apalagi, sekarang sudah pukul 5 sore.
Aku harap, Risal bersedia untuk mengikuti lomba puisi besok. Entah kenapa, aku sangat yakin Risal bisa memenangkan lomba puisi ini. Bahkan, aku lebih meyakini bahwa peluang Risal menang lebih besar dari pada milik Agung. Aku tahu Agung memang pandai membuat puisi, akan tetapi aku merasa masih ada sesuatu yang kurang dari puisi miliknya.
__ADS_1
***
Bersambung