Sampai Bertemu Malam Ini

Sampai Bertemu Malam Ini
Chapter 119 : Akhir Pertandingan Melawan 11 IPA 5


__ADS_3

Jebretttttt. Kak Taufik langsung melakukan tembakan dari garis tengah lapangan. Sesaat setelah ia menerima operan kick off setelah Tomi mencetak gol tadi, kak Taufik langsung menembak dengan sangat keras.


"Oh kita lihat pertandingan kembali dilanjutkan dan ternyata saudara Taufik langsung menendang... Golllllllll. Wow luar biasa. Sangat luar biasa dan diluar nalar. Di saat semuanya berpikir bahwa pertandingan akan berakhir imbang, tapi lagi-lagi, saudara Taufik membuktikan dirinya sebagai penyerang terbaik di seantero galaksi ini. Ia kembali membuat kelas 11 IPA 5 unggul," ucap komentator 1 yang terlihat seakan tak percaya dengan apa yang kak Taufik lakukan barusan.


"Benar sekali bung, wow wow wow. Saya sendiri mengira bahwa pertandingan ini pasti akan berakhir imbang loh, tapi siapa sangka, saudara Taufik kembali mencetak gol. Berarti ini adalah gol ketiganya di pertandingan ini. Peforma yang luar biasa," timpal komentator 2 sambil bertepuk tangan.


Suasana kali ini lebih heboh dari pada saat Tomi mencetak gol tadi. Kak Taufik terlihat langsung berlari ke arah anak-anak 11 IPA 5 dan merayakan gol dengan mereka yang sedang menonton di pinggir lapangan. Mereka lalu saling berpelukan dan melompat-lompat tanda kegirangan.


Tak ketinggalan suara-suara riuh pun kembali dikumandangkan mereka menyambut gol dari kak Taufik tersebut. Sementara itu aku dan teman-teman ku hanya memandangi kak Taufik dan teman-temannya merayakan gol tersebut dengan memasang wajah datar dan pasrah serta sedikit lesu. Aku kira kami akan mampu untuk menahan kak Taufik setelah kami sempat tertinggal 3 gol tadi. Namun, lagi-lagi kak Taufik menunjukkan perbedaan level yang amat jelas pada kami. Dia dengan mudahnya mencetak gol dari jarak sejauh itu.


Prittttttt. Bunyi peluit panjang tanda berakhirnya babak kedua telah berbunyi. Skor akhir pertandingan ini adalah 4-3 untuk kemenangan kak Taufik dan teman-temannya. Hampir saja kami bisa menahan imbang dan memaksa pertandingan dilanjutkan ke babak adu penalti, akan tetapi pada akhirnya kami harus menerima kekalahan dan mengambil banyak pelajaran dari pertandingan kali ini.


Raut wajah senang dan berseri-seri terpancar dengan jelas dari wajah-wajah anak-anak kelas 11 IPA 5. Sementara itu, tentu saja kami merasa kecewa dengan hasil ini. Kami sudah berjuang sangat keras hingga akhir pertandingan dan sempat menyamakan kedudukan setelah tertinggal tigak gol adalah perjuangan yang tidak gampang. Namun, pada akhirnya kami memang harus menerima kekalahan ini. Paling tidak kami sudah memberikan semua yang bisa kami lakukan dan tidak ada lagi penyesalan.


Kedua pemain dari kedua belah tim pun lalu saling bersalaman menjunjung tinggi sportifitas. Kita adalah lawan di lapangan, tapi tetap saudara di luar lapangan.


"Pertandingan yang seru, sudah lama aku tidak merasakannya," ucap kak Taufik ketika bersalaman dengan kami dan dengan sedikit tersenyum. Meskipun senyumannya hanya tipis, akan tetapi kami bisa merasakan perasaan kak Taufik dengan sangat jelas.


Setelah selesai bersalaman, kami pun lalu langsung menuju ke pinggir lapangan untuk bergabung dengan teman-teman kami yang sudah mendukung kami sejauh ini. Karena kami adalah satu-satu kelas 10 yang berhasil melaju ke babak semifinal, banyak pendukung dari kelas lain yang juga ikut mendukung kami. Aku pun baru menyadarinya sekarang ini.


"Wah tadi hampir saja yah, semangat masih bisa juara tiga," ucap Ayu yang langsung menyemangati kami.


"Hehehe maaf yah, makasih dukungannya teman-teman," ucap Aji sambil tersenyum sedikit kecut.


"Gak papa, gak usah dipikirkan, kalian udah hebat banget sampe sini. Langsung fokus ke pertandingan terkahir nanti sama istirahat yang cukup sekarang," ucap Ayu lagi.


Kami lalu ikut duduk bersama mereka untuk beristirahat sambil menonton pertandingan semifinal lainnya antara kelas 12 IPA 4 melawan 12 IPS 4. Yang aku tahu, kak Jo (kapten tim sepak bola) adalah berasal dari kelas 12 IPA 4.

__ADS_1


"Aku tidak menyangka kalau yang mendukung kita juga ada yang dari kelas lain hahaha," ucap Ahsan.


"Iya, aku juga baru menyadarinya tadi. Wah jadi serasa terkenal nih hahaha," ucap Aji.


"Ngomong apa kalian? Mereka datang bukan untuk mendukung atau menonton kita, tapi mereka datang hanya untuk mendukung dan menonton ku seorang saja. Jadi, jangan terlau besar kepala," ucap Ruben.


"Hahaha ampun bang jago," ucap Fahmi.


"Ngimpi kau Ben, gara-gara kau kita jadi kalah, kau harusnya malu," timpal Ahsan.


"Haaa? Kenapa gara-gara aku? Kenapa kau menyalah kan ku?" balas Ruben.


"Tentu saja ini semua gara-gara kau yang masih cupu. Belum becus menjadi penjaga gawang. Kalau saja aku tadi yang menjadi kiper, pasti kita sudah menang," ucap Ahsan.


"Ya sudah kau saja yang jadi kiper di pertandingan terkahir nanti, gimana?" ucap Ruben.


"Hahaha sudah-sudah. Ingat, kita di sini untuk beristirahat buat memulihkan tenaga kita kembali. Bukannya malah membuang-buang tenaga hahaha," ucap Aji.


"Si bodoh itu dulu yang memulainya," ucap Ruben.


"Ada orang bodoh yang mengatakan orang lain bodoh hahaha," timpal Ahsan.


"Haaa apa maksud mu? Kau mengejek ku?" ucap Ruben.


"Siapa juga yang sedang mengejek mu? Aku kan hanya bilang ada orang bodoh yang mengatakan orang lain bodoh. Jika kau malah merasa, berarti masalahnya ada pada diri mu, bukan pada ku. Aku kan gak bilang nama di situ hahaha," Ahsan tertawa.


"Sudah jangan ribut terus, lihat tuh ada Celine," ucap Calvin.

__ADS_1


"Eh mana-mana?" Ruben langsung celingukan mencari keberadaan Celine.


Sebenarnya aku juga belum kenal siapa Celine itu. Jadi, aku tidak mengetahui keberadaannya sekarang ada di sebelah mana.


"Itu itu, yang baru saja berdiri," ucap Calvin.


"Sepertinya dia juga habis nonton pertandingan kita tadi. Wah sepertinya kita akan jadi terkenal nih hahaha," ucap Fahmi.


"Wah Celine kenapa pergi yah?" tanya Ruben.


"Kau bodoh atau apa? Sekarang kan masih belum ada pertandingan, mungkin dia pergi mau beli sesuatu atau sambil menunggu untuk pertandingan selanjutnya," timpal Ahsan.


"Celine itu yang mana sih?" tanya ku yang masih belum tahu dan jadi penasaran tentangnya.


"Itu... Gadis yang ada di sisi paling kanan. Yang rambutnya paling lurus, panjangnya sekitar punggung bagian atas itu. Pokoknya yang paling cantik dan putih diantara ketiga gadis yang sedang berjalan itu," ucap Fahmi dengan sangat terperinci.


"Wah kau detail sekali menjelaskannya, jangan-jangan sudah menjadi stalker Celine yah?" timpal Ahsan.


"Jangan terlalu memuji seperti itu," ucap Fahmi.


"Siapa juga yang memuji mu," timpal Ahsan.


"Hahahaha," Aji tertawa.


Akhirnya, sekarang aku sudah bisa melihat Celine. Meskipun baru dari sisi belakang karena ia sedang berjalan menjauh dari lapangan pertandingan ini. Aku masih penasaran dengan wajahnya.


***

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2