
Priitttttt. Peluit tanda berakhirnya pertandingan basket telah berbunyi. Pada pertandingan kali ini, kami harus menerima kenyataan kalau kita harus tersingkir setelah kalah dari kelas 11 IPS 1. Raut wajah sedih dan kecewa dengan jelas tergambar dari wajah anak-anak kelas 10-7. Terutama Tomi. Ia tampak begitu kecewa dengan hasil ini.
Tomi sendiri tadi bermain dengan begitu bagus. Setelah menjadi penyelamat di tim futsal, ia pun kembali menjadi tumpuan di cabang basket. Separuh lebih dari skor yang kita peroleh adalah dari buah tangannya. Rasanya sungguh tidak adil melihat Tomi harus menderita kekalahan seperti ini. Jika saja tim basket kami lebih kompetitif, mungkin kami masih akan berlanjut ke babak semifinal.
"Sori ya Tom," ucap dengan menyesal.
"Iya Tom sori yah. Kalau aja kita lebih jago main basket, kita pasti masih bertahan. Sekali lagi maaf banget yah. Padahal kau udah bekerja keras banget," ucap Calvin.
"Iya gak papa kok, santai aja. Berarti kita tinggal fokus aja sama lomba yang masih lanjut," ucap Tomi mencoba terlihat tegar.
Dari semua anak yang mewakili kelas kami bermain basket, memang cuma Tomi yang ikut ekstrakulikuler bola basket. Dengan kata lain, pemain basket yang lain dari kelas kami hanya sebagai pelengkap saja. Aji dan Ahsan memang lumayan jago bermain basket, akan tetapi energi mereka sudah cukup terkuras di pertandingan futsal tadi. Jadi, penampilan mereka masih kurang maksimal.
Selanjutnya, kami akan menunggu hingga pertandingan semifinal futsal akan berlangsung. Aku sudah mendengar kabar bahwa lawan kami di semifinal futsal nanti adalah kelas 11 IPA 5. Kelas 11 IPA 5 sendiri adalah kelas dari pemain depan paling berbahaya di SMA ini di ekstrakulikuler sepak bola, yaitu kak Taufik.
Sejujurnya, sejak saat aku mengetahui bahwa lawan kami di semifinal adalah kak Taufik. Aku merasa bahwa akan sangat mustahil untuk kami bisa memenangkan pertandingan nanti. Namun, setidaknya aku akan mencoba untuk tetap percaya diri dan optimis karena aku tidaklah sendirian, aku bersama-sama teman-teman ku.
Mungkin jika sendirian semuanya akan terasa sulit, akan tetapi dengan bergerak bersama yang lainnya, beban yang kita pikul pun akan semakin berkurang dan kita akan melangkah dengan langkah yang lebih kuat. Hanya dengan memikirkan hal itu, aku setidaknya menjadi percaya bahwa kami masih memiliki harapan.
__ADS_1
Setelah pertandingan basket tadi selesai, kami langsung kembali lagi menuju kelas untuk melakukan persiapan pertandingan semifinal futsal. Kami akan memberikan semua yang kami punya di pertandingan nanti agar kami bisa meraih gelar juara. Meskipun lawannya adalah salah satu pemain terbaik di sekolah ini.
Setibanya di kelas, aku tidak langsung masuk ke dalam kelas. Aku lebih memilih untuk duduk di teras depan kelas sambil memandangi pemandangan di sekitar. Tidak banyak memang yang bisa aku lihat dari teras depan kelas ini. Hanya sekumpulan tanaman yang berjejer rapih di dalam pot dan orang-orang yang berlalu lalang saja yang bisa aku lihat. Meskipun begitu, entah kenapa hal tersebut bisa membuat ku merasa lebih tenang walaupun hanya sedikit saja.
Ini mungkin pertama kalinya aku merasakan saling berbagi emosi dengan teman sekelas ku. Jika waktu awal dulu Ruben dan Ahsan tidak mengajak ku berbicara, mungkin saat ini aku masih belum memiliki teman sama sekali. Dan mungkin juga aku masih belum bisa menghafal nama-nama teman sekelas.
Aku memandangi tanaman-tanaman yang ada di hadapan ku ini dengan penuh makna. Mereka terlihat begitu tenang meskipun terkadang angin yang menerpa mereka begitu besar kuat. Mereka terlihat tidak risau jika satu atau dua daun gugur jatuh ke tanah. Mereka selalu saja terlihat begitu kuat dan tegap. Saat ini, entah kenapa aku jadi merasa sedikit iri dengan tanaman-tanaman yang ada di depan ku ini.
"Oi Lang, lagi ngapain di situ? Dari tadi dicariin yang lain, ternyata di sini. Ayo cepat masuk," Ruben tiba-tiba keluar dari dalam kelas dan lalu menyuruh ku masuk. Sepetinya pembahasan soal strategi akan segera di mulai.
***
Akhirnya, waktu pertandingan pun akan segera di mulai. Kami saat ini sudah berada di dalam lapangan untuk melakukan pemanasan dan semacamnya. Seperti biasa, pemain yang akan bermain dulu adalah aku, Ruben, Renaldi, Ahsan, dan Aji.
Seperti biasa, beberapa saat sebelum pertandingan dimulai, kedua kapten dari kedua tim saling berhadapan untuk menentukan siapa yang akan memilih bola, dan siapa yang akan memilih gawang. Kali ini, karena tebakan ku benar, maka aku yang mendapat giliran pertama untuk memilih bola atau gawang terlebih dahulu.
Seperti yang sudah direncanakan jika aku berhasil mendapatkan giliran pertama, aku pun langsung memilih gawang terlebih dahulu. Strategi kami saat ini hampir sama dengan strategi saat melawan kelas 10-9, yaitu bertahan dan mengandalkan serangan balik. Kami pun akan lebih berfokus untuk menjaga pergerakan dari kak Taufik. Kami sudah sering melihatnya bermain ketika ekstrakulikuler, jadi kami sudah memiliki gambaran akan seperti apa pola permainannya itu. Meskipun memang futsal dan sepak bola sangat lah berbeda, akan tetapi masih ada beberapa kemiripannya.
__ADS_1
Raut wajah tegang tergambar jelas dari kami para pemain kelas 10-7. Pemandangan yang sebaliknya justru ditampilkan oleh para pemain lawan. Mereka terlihat begitu tenang namun serius saat ini.
Tak ketinggalan, suara supporter sudah mulai terdengar. Kedua supporter dari kedua tim terlihat sama-sama semangatnya. Supporter dari kelas 10-7, seakan tidak mau kalah dengan supporter dari pihak lawan tersebut.
Selain itu, ada yang cukup berbeda pada pertandingan kali ini. Yaitu pada pertandingan kali ini, akan ada 2 komentator yang khusus mengomentari pertandingan futsal ini. 2 Komentator tersebut adalah dari anggota OSIS yang aku tidak tahu namanya.
Priitttt. Peluit tanda dimulainya pertandingan akhirnya berbunyi. Bola yang baru saja dimulai itu terlihat langsung diumpankan ke arah depan ke arah ruang kosong. Sementara itu entah datang dari mana, kak Taufik tiba-tiba sudah berada di tempat yang bola umpan tadi tuju.
Kak Taufik lalu dengan tenang menerima dan mengontrol bola. Segera setelah itu, dengan gerakan yang tenang tapi cepat, kak Taufik dengan mudah bisa melewati Renaldi sebelum melepaskan sebuah sepakan keras ke gawang milik Ruben.
Jebreeeettttt. Bunyi yang ditimbulkan dari tendangan itu cukup keras. Bola pun dengan sangat cepat langsung menghujam gawang kami tanpa ampun. Ruben pun hanya terlihat bengong dan hanya mampu memandangi bola yang masuk itu.
"Wohoooo gol yang sangat indah dan cepat dari striker kota Taufik," teriak komentator 1 menyambut gol dari kak Taufik barusan.
***
Bersambung
__ADS_1